TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #72

71. PERAMAL

Aula utama Polres Tangerang Selatan dipenuhi deretan kursi yang tersusun rapi. Lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya ke seragam-seragam yang berdiri tegak. Di barisan depan, kamera wartawan terus memancarkan kilatan blitz setiap kali nama penerima penghargaan dipanggil.

"Ajun Komisaris Polisi Gilang Kharisma."

Suara pembawa acara menggema memenuhi ruangan.

Gilang melangkah ke depan. Sepatu pantofelnya berdetak pelan di atas lantai marmer yang mengilap. Seorang pejabat tinggi kepolisian menyematkan tiga balok emas di pundaknya, disusul tepuk tangan panjang dari seluruh ruangan.

Pak Nano berdiri beberapa langkah di belakang. Ia tersenyum tipis. "Selamat, Lang. Negara menghargai pengorbananmu."

Gilang mengangguk.

Tepuk tangan kembali menggema.Di telinganya, suara itu perlahan berubah.

DOR

Bayangan gudang beras yang dipenuhi asap putih terlintas di matanya. Tubuh Aurell roboh perlahan, peluru menembus pelipisnya.

"RELL!"

Raungan Renggo kembali menggema di kepala Gilang.

"Pak Gilang?" Suara panitia membuyarkan lamunannya.

Gilang tersentak pelan. Ia menerima map pelantikan tanpa senyum sedikit pun.

Tepuk tangan memenuhi aula Polres Tangerang Selatan saat Kapolres menyelesaikan prosesi penyematan pangkat dan penandatanganan berita acara serah terima jabatan. Beberapa pejabat utama bergantian menjabat tangan Gilang, mengucapkan selamat atas posisi barunya sebagai Kasat Reserse Narkoba.

"Selamat bertugas, Komandan."

"Semoga sukses, Lang."

"Sekarang wilayah ini tanggung jawab kamu."

Gilang membalas setiap uluran tangan dengan anggukan singkat. Sudut bibirny bergerak tipis, sekadar memenuhi etika.

Kilatan kamera Humas Polres beberapa kali membekukan momen itu. Seorang fotografer meminta Gilang menghadap ke arah lensa, lalu mengangkat jempol.

"Sedikit senyum, Pak."

Gilang tersenyum tipis yang bertahan sepersekian detik sebelum kembali menghilang.

Satu per satu tamu undangan mulai meninggalkan aula.

Gilang berjalan keluar Aula, menuju ruang kerjanya. Belum sempat Gilang mencapai koridor kantor utama, puluhan wartawan sudah mengepung jalurnya.

"Pak Gilang!"

"Pak, benar empat Kepala Hydra berhasil dilumpuhkan?"

"Apakah operasi Gudang Serpong menjadi pukulan terbesar untuk Hydra?"

"Bagaimana kondisi anggota yang gugur?"

"Apakah jaringan Hydra sudah berakhir?"

Kilatan kamera bertubi-tubi memenuhi wajah Gilang. Ia berhenti beberapa detik. "Operasi belum selesai."

Ia kembali berjalan. Pertanyaan-pertanyaan wartawan terus mengejar punggungnya.

"Pak! Bagaimana dengan Krugger?

Langkah Gilang terhenti. Ia menoleh ke arah kamera. "Saya akan menangkap Krugger."

Ia berbalik, melanjutkan langkah.

Suara percakapan dan tawa pelan memenuhi lorong markas. Beberapa anggota muda yang berpapasan menghentikan langkahnya, memberi hormat.

Deretan anggota Satresnarkoba berdiri tegak di depan ruang kerja baru. "Selamat datang, Komandan."

Puluhan tangan memberi hormat hampir bersamaan. Gilang membalas hormat seperlunya. Tatapannya datar, tidak ada senyum.

"Lanjut kerja," ucap Gilang datar.

Para anggota saling berpandangan.

Gilang berdiri di depan cermin panjang, jemarinya bergerak merapikan kerah seragam yang kaku. Sidang kode etik dan rangkuman dokumen peradilan atas tragedi di gudang beras telah tertumpuk rapi di gudang arsip, menyisakan kesimpulan tunggal. Prestasi. Alih-alih sanksi, institusi memberikan jabatan baru.

Ia melangkah menuju kursi kerjanya yang masih berbau kulit baru. Di tengah permukaan meja yang bersih, sebuah map cokelat tebal tergeletak. Label di sudut kanan atasnya tertulis dengan huruf kapital tegas.

KRUGGER & HYDRA.

Halaman pertama memperlihatkan struktur organisasi Hydra dan Black Ribal. Belasan nama diberi tanda silang merah. Renggo, Brandy, Sammy, Ambon, Jek, Bores.

Seluruhnya bertuliskan MENINGGAL.

Halaman berikutnya berisi jalur distribusi narkotika yang membentang dari Bogor, Tangerang Selatan, Jakarta Barat, hingga pelabuhan di pesisir utara Jawa.

Lihat selengkapnya