TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #73

72. MOVE ON

Langit Bandung menggantung rendah, menyisakan hawa lembap di atas aspal Jalan Riau. Di pelataran parkir restoran barunya yang megah, Riki berdiri menatap papan nama neon yang berpendar tajam. Dua minggu lalu, ia hanya sanggup mengirim karangan bunga ke pemakaman Aurell.

Ia membenamkan diri dalam tumpukan invoice dan denah dapur, sampai suara bariton yang akrab memecah konsentrasinya.

"Woy, pengusaha sukses! Sibuk amat!"

Richard melangkah masuk dengan senyum lebar yang tulus. Di sampingnya, Sisilia berjalan dengan langkah tertahan. Gaun floral yang dikenakannya tampak kontras dengan wajahnya yang pucat.

"Gue iri sama lo, punya istri kayak Sisil. Istri ideal," Riki terkekeh.

Senyum di wajah Richard melebar bangga. Tangannya menepuk pelan punggung Sisilia.

Sisilia ikut tersenyum tipis, matanya menatap kosong ke arah pintu.

Riki mengernyit, ia melihat jemari Sisilia meremas tali tas kulitnya. Tatapan mereka beradu, Sisilia membuang muka, menunduk menatap ujung sepatunya sendiri.

Richard merangkul bahu Riki. "Jangan kerja mulu, Ki. Otak lo bisa korslet. Malam ini kita minum di tempat biasa. Gue yang traktir!"

Pukul 20:00 WIB LUV BAR & LOUNGE

Lampu amber yang redup membelah asap rokok di dalam bar. Riki berdiri di atas panggung kecil, ia memutar mikrofon di telapak tangannya.

Dari atas panggung, pandangannya menyapu seluruh ruangan. Pasangan-pasangan tertawa. Gelas saling beradu. Asap rokok menggantung rendah. Pandangannya berhenti di Sisilia.

Sisilia menatap kosong ke dalam gelas yang belum berkurang banyak. Di sampingnya, Richard duduk sambil mengangkat gelas wiski, berteriak memberi semangat.

Intro lagu Selimut Hati mulai mengalun, dalam dan melankolis. Riki memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam. Saat ia mulai bernyanyi, matanya terbuka dan terkunci wajah Sisilia.

Lihat selengkapnya