TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #74

73. RENCANA

Lampu jalan kuning pucat masuk ke dalam interior Toyota Yaris hitam, menciptakan garis-garis bayangan yang menari di wajah Chacha. Ia duduk kaku, jemarinya mencengkeram sabuk pengaman hingga kuku-kukunya memutih. Di sampingnya, Alee mengemudi dengan satu tangan di atas kemudi, tubuhnya bersandar santai.

"Jangan terlalu nafsu, Cha."

Suara Alee memecah kesunyian. Ia melirik Chacha sekilas. Matanya menyipit saat sorot lampu dari truk arah berlawanan menerpa pupilnya. "Krugger bukan sekadar bos gangster yang bisa lo pancing pake pertanyaan receh. Di Bogor, dia nggak punya wajah, cuma punya telinga di mana-mana. Salah langkah sedikit, lo bukan dapet info, tapi dapet nisan."

Chacha menoleh, rahangnya mengeras, menciptakan garis tegas di bawah dagunya. Matanya memantulkan kilatan lampu jalanan. "Gue nggak peduli, Alee. Gue bakal hancurin dia... dia harus bayar."

Alee mendengus sinis. Ia memutar kemudi dengan gerakan halus saat melintasi tikungan tajam menuju Tajur. "Tekad nggak bakal bikin lo tetep hidup kalau lo masih amatiran kayak kemarin. Inget cara lo ngomong sama Om Daeng?"

Chacha membuka mulut, lalu menutup lagi. Ingatannya kembali pada tatapan Om Daeng sore itu. Tidak kemarahan atau ancaman. Hanya tersenyum tipis sambil terus menuangkan teh, seolah pertanyaan Chacha hanyalah obrolan biasa.

Alee menginjak rem perlahan saat lampu merah menyala di persimpangan. Ia memutar tubuhnya, menatap Chacha. "Lo terlalu transparan. Lo nanya soal Krugger, tapi mata lo teriak kalau lo pengen bunuh dia. Lo pikir Om Daeng bego?"

Chacha tidak menjawab. Ia kembali menatap lurus ke aspal yang hitam legam di depan mereka. Di luar, gerimis tipis mulai membasahi kaca depan.

"Dunia ini nggak butuh martir yang mati konyol karena emosi," tambah Alee. "Krugger itu seperti kabut Bogor. Lo nggak bisa nangkep kabut pake tangan kosong. Lo cuma bakal basah dan kedinginan sebelum akhirnya mati kaku. Kalau lo mau main di zonanya, lo harus belajar jadi bayangan, bukan jadi api yang teriak-teriak minta disiram."

Chacha mengepalkan tangannya di atas paha. Ia merasakan getaran mesin mobil merambat ke tulang-tulangnya. "Ajarin gue kalau gitu. Ajarin gue jadi bayangan yang bisa gorok leher dia tanpa dia sempet ngedip."

Alee melirik jemari Chacha yang gemetar di atas lutut. Ia menepikan mobilnya di bahu jalan yang gelap, tepat di bawah pohon beringin besar, dahannya menjuntai ke aspal. Suara mesin idle menjadi satu-satunya bunyi di sana.

"Langkah pertama," Alee meraih pergelangan tangan Chacha, menekannya dengan kuat hingga gadis itu mendesis. "Kontrol detak jantung lo. Musuh bisa denger napas lo yang nggak beraturan dari jarak lima meter. Kalau lo nggak bisa kontrol diri sendiri, jangan mimpi mau kontrol nasib orang lain."

Chacha mencoba menarik napas perlahan, dadanya tetap berdegup keras.

"Liat?" Alee melepas pergelangan tangannya. "Lo bohong sama mulut lo." Ia menunjuk dada Chacha. "Tapi badan lo jujur."

Alee menatap mata Chacha yang berair. "Mulai sekarang. Di depan Daeng dan jaringan Bogor, lo cuma alat. Nggak punya masa lalu, nggak punya perasaan. Paham?"

Chacha menelan ludah. Ia menarik napas panjang. "Paham."

Chacha mengedipkan mata perlahan. Sekali. Dua kali, lalu memejamkan mata beberapa detik. Matanya kembali terbuka, napasnya mulai teratur.

Lihat selengkapnya