TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #76

75. JANGGAL

Uap panas dari nasi goreng mentega membumbung di atas meja kayu yang sempit, namun Noval hanya menggerakkan sendoknya secara melingkar, memecah butiran nasi tanpa menyuapnya. Matanya tertuju pada piring porselen, namun pupilnya statis.

"Nasi goreng lagi?" Noval bergumam. Sudut bibirnya terangkat.

Novi meletakkan sudip logam di atas meja lalu mendaratkan bokongnya di kursi kayu yang berderit. Ia menopang dagu dengan kedua tangan, menatap suaminya dengan cengengesan. "Tahu sendiri kan, aku nggak bisa masak yang aneh-aneh. Aura juga sudah nggak di sini, guru masakku sudah 'kabur' ke Bandung," sahutnya datar.

"Iya deh, alasan diterima."

Noval menyuap satu sendok penuh, mengunyah perlahan tanpa ekspresi kepuasan.

Novi mengembuskan napas panjang, matanya tidak lepas dari kerutan di dahi Noval. "Kamu kenapa, sih? Belakangan ini kusut banget, kayak baju nggak disetrika. Nggak pernah fokus kalau diajak ngomong."

"Rizal," sahut Noval pendek.

"Kenapa lagi? Bukannya Gilang sudah kasih kabar kalau dia-"

"-Mati?" potong Noval, menjatuhkan sendoknya hingga berdenting keras menabrak piring. Ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi yang tegak, matanya menatap lurus ke arah Novi.

"Iya... mati. Udah sebulan berlalu, Val. Tolong, jangan siksa diri kamu sendiri. Move on," ucap Novi. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja tidak beraturan.

Noval menggeleng pelan. Ia meraba permukaan meja yang kasar. "Itu dia masalahnya. Perasaanku bilang Rizal masih hidup. Semuanya... janggal."

"Apanya yang janggal?" Novi menegakkan duduknya, suaranya naik satu oktav. "Gilang bilang dia tewas di tempat. Robi yang kamu temuin di pasar sebulan lalu juga bilang Renggo tewas. Dua saksi mata dari dua kubu yang beda bilang hal yang sama. Apalagi?"

Novi menatap piring Noval yang masih penuh. Di luar, suara tetesan air dari talang yang bocor menghantam ember plastik mengisi keheningan yang menekan di antara mereka berdua.

Noval memijat pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk, memberikan tekanan kuat pada saraf yang menegang. "Jangan bilang aku kebanyakan nonton film detektif, tapi coba kamu pikir. Pertama, nggak ada dari kita sahabatnya yang dibolehin nengok mayatnya. Kedua..." Noval menjeda, suaranya merendah hingga nyaris tertelan suara desis kompor dari dapur. "Gilang atau Robi, mereka selalu bilang 'Renggo' yang mati. Mereka nggak pernah nyebut nama 'Rizal'."

Novi mengerutkan kening. Lipatan di dahinya semakin dalam saat ia mencoba mencerna kalimat itu. "Tapi kan orang tuanya udah nengok pas di rumah sakit?"

"Betul. Tapi, pemakamannya pun rahasia seolah-olah dia teroris kelas kakap. Kenapa dirahasiain begitu ketat dari kita?" Noval mengetuk permukaan meja.

Novi terdiam. Ia memutar-mutar sendok di dalam gelas teh yang sudah dingin. "Ya terus, gimana caranya Gilang laporan ke bos-bosnya? Mayat palsu? Emangnya bisa? Ya kali itu mayat orang lain yang cuma mirip doang terus diklaim Renggo. Itu kan kayak sinetron yang sering ditonton Mama, Val. Nggak mungkinlah polisi sekelas Gilang bohong soal identitas mayat di laporan resmi."

Noval menghentikan ketukan jarinya. Pupil matanya melebar, menatap Novi mengunci wajah istrinya.

"Apaan sih kamu, ngeliat aku gitu banget? Aku bener, kan?" Novi memanyunkan bibirnya, menarik kembali tangannya dari atas meja.

Seringai lebar perlahan merayap di wajah Noval. "Tumben itu otak bisa kepake, Sayang. Kamu bener... Gilang nggak mungkin berbohong soal 'ada mayat' ke atasannya."

Novi menarik napas untuk menyahut, namun Noval sudah lebih dulu bangkit. Ia membungkuk, menempelkan bibirnya di bibir Novi dalam satu kecupan singkat, lalu berpindah mengecup kening istrinya dengan tekanan yang lebih lama.

"Makasih ya bidadari surgaku. Nasi gorengnya enak, dan ide kamu barusan... jauh lebih enak," ujar Noval. Ia melangkah cepat menuju kamar mandi, meninggalkan aroma nasi goreng mentega yang masih mengepul di atas meja.

"Ide apaan?!"

Novi mematung di kursinya. Kesadarannya muncul saat mendengar suara air yang mulai mengucur di dalam kamar mandi. "Noval Hartanta! Malam ini kamu tidur di luar! Dasar suami nggak ada akhlak!"

"Aku cinta kamu mentok-mentok, Novi Megananda!" Suara tawa Noval menggema dari balik pintu kamar mandi yang tertutup.

"Bodo amaaaaaat!!!" Novi meraih serbet di samping piring, lalu melemparnya ke arah pintu kayu itu dengan gerakan kasar.

Di balik pintu kamar mandi, senyum Noval memudar dalam hitungan detik. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin yang berembun.

***

Langit Bogor menggantung kelabu di balik jendela ruang Kasat Reserse Narkoba. Gerimis tipis membasahi halaman belakang Polres.

Sanjaya berdiri membelakangi ruangan, kedua tangannya bertumpu di kusen jendela. Tatapannya mengarah ke halaman parkir yang perlahan dipenuhi kendaraan anggota. Di belakangnya, Gilang menutup map laporan operasi yang baru saja selesai dibacanya.

Keheningan bertahan beberapa detik.

Lihat selengkapnya