Ratusan kilometer dari Jakarta, Uap tipis membumbung dari dua cangkir porselen di atas meja bundar kecil. Riki menghempaskan kepalanya ke sandaran kursi, jemarinya memijat pelipis yang berdenyut seirama dengan detak jarum jam dinding.
"Lo mau cari kosan model gimana lagi, Nad? Ini hari ketiga. Betis gue rasanya mau lepas," suara Riki parau, tertahan di kerongkongan yang kering.
Nadia berdiri di depan cermin besar. "Ya yang pas. Yang bikin gue betah."
"Yang pas itu yang gimana, Nadia Danastri?" Riki menegakkan duduknya. "Kemarin ada yang kamarnya luas, deket kantor lo lagi. Kenapa ditolak?"
"Mahal, Rikiii!" Nadia berbalik cepat, matanya melotot. "Gue bayar pake gaji, bukan pake daun kering!"
"Lah, lebih mahal tagihan hotel ini, Maemunah! Makin lama lo nggak mutusin, kartu kredit gue makin bengkak. Lo nggak mikir?"
Nadia berkacak pinggang, bibirnya mengerucut tajam. "Hotel ini kan lo yang bayar. Kalau kosan, gue yang keluar duit sendiri. Ya jelas gue perhitungan!"
Riki ternganga, lalu menghempaskan punggungnya lagi. "Bodo amat. Tahu gitu ogah gue nganterin lo. Udah rugi bandar, di hotel cuma bisa ngeliatin lo doang. Tersiksa batin gue, Nad, ngeliat kecantikan lo yang cuma bisa dipandang tapi nggak bisa disentuh," goda Riki.
"Siapa suruh mesen cuma satu kamar? Modus lo basi," cibir Nadia, sudut bibirnya berkedut menahan senyum. "Masih mending lo dapet amal bisa liat gue abis mandi. Body seksi kayak gue gini mahal tontonannya."
"Seksi dari mana? Seksi itu tinggi semampai, bukan bogel mirip kurcaci," balas Riki.
"Eh, gue cantik ya! Lo tuh yang bogel! Jelek! Pelit! Fuckboy kelas teri!"
"Lo juga fuckgirl!"
"Apa lo bilang?!"
"Lo fuckgirl!"
"Rese banget sih lo! Kalau Rizal masih ada, udah gue aduin lo ke dia. Biar digebukin lo sampe penyok!"
Riki tertawa pendek. "Iya..."
Tawanya berhenti sendiri. Tatapannya jatuh ke sandal Nadia yang tergeletak sembarangan di dekat pintu.
"Udah... jangan berisik mulu kalian."
Suara Rizal terasa begitu dekat. Begitu nyata. Riki menoleh ke samping, kosong.
Suasana kamar mendadak senyap, menyisakan dengung rendah mesin AC yang menusuk telinga.
"Maaf... harusnya gue nggak nyebut nama dia," gumam Nadia. Suaranya melunak, langkah kakinya mendekat pelan di atas karpet tebal.
"Sahabat macam apa gue, Nad?" bisik Riki. Matanya memerah, menatap kosong ke arah lantai. "Gue yang bikin dia masuk penjara. Tapi pas dia bebas, gue nggak ada di sana buat narik dia pulang. Sekarang... gue bahkan nggak tahu dia dikubur di mana."