TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #78

77. KRUGGER

Asap tipis mengepul dari wajan, aroma gurih mentega dan bawang putih memenuhi ruang dapur. Ilham berdiri memunggungi meja makan, tangannya bergerak mengayunkan sudip, membalik butiran nasi. Aura duduk mematung di kursi kayu, matanya terkunci pada gerakan punggung Ilham.

"Kenapa Kakak lakuin ini semua?" Suara Aura pecah, bergetar di tengah suara desis kompor.

Ilham menghentikan gerakannya. Ia memutar knop kompor.

"Maksudnya?" Ilham menoleh separuh wajah, menyeka keringat di pelipisnya.

"Setelah aku pindah ke sini... Kakak selalu ada. Buatin sarapan tiap pagi, nungguin aku pulang, pastiin pintu terkunci tiap malam." Aura meremas pinggiran taplak meja. "Kakak nggak perlu lakuin itu sejauh ini."

Ilham membuang napas pendek. Ia menyendok nasi ke atas piring porselen. "Nggak apa-apa, Ra. Kakak nggak butuh alasan untuk lakuin itu semua."

"Pasti ada alasannya." Aura mendongak, matanya mulai memerah menatap punggung Ilham. "Karena Gilang, kan? Dia yang minta Kakak jagain aku?"

Ilham meletakkan piring berisi nasi goreng yang masih mengepul di hadapan Aura. "Iya, salah satunya. Gilang minta Kakak pastiin kamu nggak kurang satu apa pun di sini. Tapi selebihnya..." Ilham menarik kursi di seberang Aura. "Kakak lakuin ini karena kemauan Kakak sendiri."

"Kakak kasihan sama aku?" Aura mendorong piring menjauh. "Aku nggak perlu belas kasihan lagi. Aku bisa move on."

Jemari Ilham merapikan posisi piring di hadapan Aura yang belum disentuh. "Kalau memang sudah bisa, kenapa tadi pagi kamu masih naruh dua gelas di meja makan?"

Aura membeku, tatapannya perlahan bergeser ke arah rak dapur. Dua gelas kaca bening masih berdampingan. Satu kosong, satu lagi terisi setengah air putih yang sejak tadi dibiarkan.

"Kamu bahkan nggak sadar ngelakuinnya, kan?" suara Ilham melembut. "Ada bagian dari diri kamu yang masih nunggu Aurell keluar kamar."

Aura menggigit bibir bawahnya. Jemarinya yang semula mengepal perlahan mengendur.

Tatapan Ilham melembut. "Kakak lakuin ini sebagai bentuk dukungan buat kamu, Ra. Kakak tahu mental kamu hancur semenjak Aurell pergi. Apalagi... alasan kenapa dia ngelakuin itu semua. Kamu merasa bersalah, kan?"

Aura tersentak. Ia membuka mulut, hanya embusan napas tertahan yang keluar.

"Harusnya dia nggak perlu lakuin itu. Harusnya Gilang bisa cegah semuanya." Suara Aura mulai serak, menahan bendungan air mata di pelupuknya. "Harusnya aku-"

Aura menunduk, menatap butiran nasi di piringnya yang tampak kabur. "Aurell suka banget nasi goreng. Tiap kali aku pegang sudip, aku selalu denger suara dia yang bawel nungguin nasi goreng buatanku."

Setetes air mata jatuh, mendarat di pinggiran piring. Aura meremas jemarinya sendiri hingga memutih. "Harusnya dia nggak perlu berbuat sejauh itu."

Ilham mengulurkan tangan, ibu jarinya menyapu tetesan air mata yang jatuh di pipi Aura. "Nggak ada yang perlu disesali, Ra. Kita nggak bisa ngerubah masa lalu, tapi kita bisa rubah masa depan kita. Dan Kakak yakin, apa yang Aurell lakuin itu untuk masa depan kamu. Dia pasti sedih kalau ngeliat kamu kayak sekarang."

"Aku capek denger kalimat itu..." Suara Aura pelan hingga nyaris tenggelam oleh dengung kulkas di sudut dapur. "Semua orang nyuruh aku bangkit. Move on. Ikhlas. Tapi nggak ada satu orang pun yang ngajarin... gimana caranya berhenti nyalahin diri sendiri."

Ilham membuka mulut. Tidak ada jawaban yang keluar. Selama bertahun-tahun menjadi polisi, ia terbiasa menghadapi korban kecelakaan, perampokan, bahkan pembunuhan.

Namun menghadapi luka yang tidak mengeluarkan darah, ia sama bodohnya dengan semua orang.

Beberapa detik kemudian, Ilhammengembuskan napas pelan. "Kakak memang nggak tahu caranya. Tapi kalau kamu mau belajar pelan-pelan... Kakak temenin."

"Tapi, Ka-"

Ilham menempelkan telunjuknya di bibir Aura, menghentikan kalimat yang nyaris tumpah. Suara desis kompor yang baru saja mati menyisakan kesunyian yang tebal di antara mereka.

"Aurell pasti punya rencananya sendiri. Apa yang dia lakuin pasti sudah direncanain dengan baik," suara Ilham merendah. "Tapi lawannya terlalu kuat. Krugger bukan orang sembarangan. Kita cuma bisa berharap Gilang bisa balas apa yang sudah terjadi. Dan dia pasti akan melakukannya."

Lihat selengkapnya