TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #79

78. JALUR GELAP

Angin sore yang lembap membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran sampah dari kejauhan. Gilang duduk di bangku kayu yang catnya sudah mengelupas, membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran yang keras dan tidak nyaman.

Kriet...

Bangku kayu di belakangnya berderit saat seseorang mendaratkan tubuh. Mereka duduk membelakangi, hanya dipisahkan sandaran kursi yang tipis. Robi menarik napas dalam, bau rokok kretek tercium dari arahnya.

"Ngapain minta ketemu di tempat sepi kayak gini?" suara Robi pelan, nyaris berupa bisikan yang tertelan suara gesekan daun mahoni di atas mereka. Matanya menyisir setiap sudut taman melalui sudut matanya.

"Krugger dan Hydra. Apa yang lo tau soal mereka?" Gilang menatap lurus ke ke arah sepasang burung gereja yang berebut remah roti di aspal.

Suara rantai ayunan di ujung taman berderit pelan diterpa angin. Seorang pria tua berjalan santai melintas beberapa meter di depan mereka, menggandeng cucunya tanpa melirik ke arah bangku itu.

Robi membuka mulut setelah langkah mereka benar-benar menjauh. "Gue masih bingung. Harus nganggep lo polisi..." gumamnya lirih. "...atau orang yang nyelametin satu-satunya keluarga yang masih gue punya."

Ia menarik napas panjang. "Asal lo tau, keputusan buat duduk di bangku ini aja udah cukup buat bikin kepala gue dipatok peluru kalau ada orang yang salah lihat."

"Jadi?" Tanya Gilang lagi.

"Gue nggak tau banyak," Robi berdeham, suaranya parau. "Krugger itu hantu di Bogor. Dan Hydra? Lo udah liat sendiri gimana cara kerja mereka."

"Gue denger mereka punya koneksi satu sama lain," Gilang meremas ujung jaket kulitnya. "Lo tau soal ini? Ada rumor kalau Renggo dibunuh karena ulah The Hydra."

Robi terdiam sejenak. Ia membuang ludah ke samping. "Black Ribal belum lama gabung sama mereka. Tapi yang gue tau, salah satu petinggi Hydra itu orang penting, punya koneksi di mana-mana. Mungkin Krugger cuma pion, atau malah kerja langsung di bawah mereka."

Gilang mengembuskan napas perlahan. "Berarti potongannya mulai nyambung." Tatapannya tetap lurus ke depan. "Belum cukup buat jadi kesimpulan... tapi arahnya mulai kelihatan."

"Lo dapat info dari mana?" Robi menoleh sedikit, menampakkan rahangnya yang menegang.

"Salah satu source gue. Dari dia juga gue bisa sergap markas kalian," sahut Gilang, suaranya tetap datar tanpa intonasi.

Robi terdiam. Napasnya terdengar lebih berat. "Kalau bukan karena lo nolongin dia, nggak mungkin gue bakal bantuin lo sekarang. Tapi ingat... gue cuma bantu sampai batas tertentu."

"Gue tau ini berlebihan buat lo," Gilang memutar kepalanya sedikit, menatap wajah Robi yang tampak pucat di bawah bayang-bayang pohon. "Tapi kita bisa hancurin mereka kalau kita kerja sama. Lo bisa balas dendam buat orang-orang lo yang jadi tumbal."

"Gue akan bantu lo," Robi berdiri. "Tapi kalau gue bisa nemuin dia, dan dia minta gue buat berhenti bantuin lo, langkah gue akan berhenti di situ. Detik itu juga."

"Nggak masalah. Saat lo udah nemuin dia, gue sendiri yang akan minta dia bantuin gue," Gilang ikut berdiri. Ia merogoh saku jaketnya, menatap Robi. "Sekarang, gua butuh nama-nama broker dan informant Krugger di wilayah Tangsel dan Bogor."

Lihat selengkapnya