TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #80

79. BANGUN KEMBALI

Di pinggiran Jakarta Timur, sebuah proyek pemerintah yang mangkrak berdiri seperti kerangka raksasa yang membusuk. Robi melangkah melewati tumpukan sak semen yang telah membatu, sepatunya memecah kesunyian.

"Jadi di sini markas lo sekarang. Bau bangkai," suara Robi memantul di dinding beton yang telanjang.

Ucup, yang kini memimpin sisa-sisa Kelabang Hitam sepeninggalan Brandy, muncul dari balik pilar yang penuh coretan grafiti. Wajahnya berminyak, matanya merah karena kurang tidur. "Ada perlu apa lo ke sini? Kita nggak ada urusan lagi sama gangster kecil kayak lo," desis Ucup. Suaranya serak.

"Sekadar silaturahmi aja," jawab Robi santai, menyilangkan tangannya di dada. "Sebagai sesama sisa anggota yang udah dikhianati Hydra, gue pikir kita bisa saling berbagi informasi dan diskusi apa yang bakal kita lakuin setelah ini. Kalian cuma pion yang dikorbankan," lanjut Robi.

"Gue udah selesai sama Hydra. Kami mau hidup normal," sahut Ucup cepat, jemarinya gemetar saat menyulut rokok.

Robi melangkah maju, debu beterbangan di bawah celah cahaya lampu menyelimuti bayangannya. "Lo nggak ngerasa aneh? Markas gue digerebek polisi, dan di jam yang sama, Krugger ngeratain tempat lo. Itu bukan kebetulan, Cup. Itu operasi pembersihan."

"Nggak usah sebut nama itu di sini," Ucup membentak, asap rokok keluar dari hidungnya. "Dia yang bikin kami hancur!"

"Itu poinnya," Robi duduk di atas kursi. "Krugger itu anjing penjaga Hydra. Mereka mau kita hilang dalam semalam. Sekarang, terserah lo... mau terus sembunyi di sini bareng kecoa, atau bantu gue bangun kekuatan buat hancurin mereka."

Ucup terdiam. Suara tetesan air dari pipa bocor di sudut ruangan seperti detak jam menuju ledakan.

"Caranya? Krugger itu hantu. Nggak ada yang pernah liat mukanya dan masih hidup."

"Gue bakal cari kuncinya. Gue yakin orang itu tau siapa itu Krugger, dan dia kunci kita."

"Orang itu?"

Robi mengangkat kepala, menyapu lantai dua bangunan yang gelap. Pilar-pilar beton yang retak, lorong yang kosong, dan rangka besi berkarat menjadi tempat sempurna untuk menyembunyikan penembak.

"Kalau dia emang ngedenger omongan kita sekarang..." gumam Robi lirih. "...berarti permainan ini belum selesai."

"Dan pengkhianat yang ngerusak kelompok gue dari dalem. Gue nggak bakal biarin dia napas dengan tenang-"

"Yang lo maksud orang itu gue, kan?" Suara itu tenang, membelah kesunyian gedung mangkrak itu seperti mata pisau. Sanyo melangkah keluar dari kegelapan tiang beton, tangannya terangkat terbuka, menunjukkan telapak tangan yang kosong tanpa senjata.

"Lo!!!"

Klik. Moncong pistol baja Robi sudah menempel di dahi Sanyo sebelum kalimat itu selesai. Napas Robi memburu, uap hangatnya menerpa wajah Sanyo.

Lihat selengkapnya