TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #81

80. KITA AKAN KETEMU LAGI

Aroma teh melati yang mengepul panas bersinggungan dengan wangi minyak kayu putih yang samar di ruangan itu. Chacha menyesap cairan kuning keemasan dari cangkir keramiknya, membiarkan rasa hangat menjalar di tenggorokannya. Di seberangnya, Novi duduk dengan posisi punggung disangga bantal. Wajahnya tampak lebih segar, rona merah tipis menghiasi pipinya yang mulai berisi.

"Kenapa?" tanya Novi. Alisnya bertaut, matanya yang bulat menatap Chacha.

Chacha meletakkan cangkirnya. "Karena ini di luar kemampuan Kak Noval, Kak. Ini terlalu berbahaya untuk dia hadapi sendiri," suara Chacha rendah, nyaris berbisik.

Di atas meja, berjajar beberapa botol kaca berisi ramuan herbal buatan Bi Ijah, hadiah dari Chacha untuk menjaga janin Novi.

"Gue udah coba buat minta dia berhenti, Cha," Novi menghela napas panjang, tangannya mengusap perutnya yang masih rata di balik daster longgar. "Tapi dia tetep kekeh mau nyelidikin. Terlebih lagi... dia masih nggak percaya kalau Rizal udah meninggal."

Chacha menatap pantulan dirinya di permukaan teh yang tenang. "Insting mereka kuat ya, Kak. Meskipun udah lama nggak ketemu, ikatan mereka nggak pernah putus. Mereka emang ditakdirkan untuk saling melindungi."

Novi memajukan tubuhnya, sofa kulit di bawahnya berderit pelan. "Maksudnya, Cha? Insting apa? Lo ngomong seolah-olah ada yang gue nggak tahu."

Chacha menatap lurus ke dalam mata Novi. "Sampein salam ke Kak Noval. Insting dia bener..." Ia menjeda. "Kak Rizal masih hidup."

Mata Novi membelalak. Pupilnya melebar. "Serius, Cha? Kenapa lo nggak bilang dari awal? Ini kabar baik banget! Noval nggak akan gusar lagi, dia nggak akan begadang tiap malam cuma buat nyari jejak yang nggak ada!"

"Yah... agak rumit ceritainnya, Kak," Chacha mengusap tengkuknya. "Ini rahasia yang harus dijaga ketat. Bahkan dari orang-orang terdekat Kak Gilang sekalipun."

"Ayo dong, ceritain," desak Novi, suaranya naik satu oktav. "Noval pasti seneng banget. Dia berhak tahu di mana sahabatnya berada!"

Chacha meletakkan telapak tangannya di atas tangan Novi yang gemetar. "Oke. Tapi janji, cukup Kak Novi dan Kak Noval yang tahu. Jangan ada orang lain. Terutama... Kak Riki dan Kak Nadia."

"Kok gitu? Mereka juga berhak tahu, Cha! Mereka itu satu paket sama Rizal!" sergah Novi.

"Belum saatnya, Kak," Chacha menggeleng. Ia meremas jemari Novi. "Mereka terlalu blak-blakan. Terlalu emosional. Ini permintaan langsung dari Kak Rizal. Dia nggak mau ada yang tahu dia masih napas di bumi ini."

"Kenapa?" bisik Novi.

"Karena kalau dia kembali sekarang, nyawa semua orang, termasuk kak Riki dan kak Nadia bakal ada di ujung tanduk. Dan Kak Gilang..." Chacha menelan ludah. "Kak Gilang udah kerja keras setengah mati buat menutupi kepergiannya dari radar siapa pun."

Novi bersandar kembali ke bantalnya, wajahnya pucat. Kegembiraan tadi menguap, digantikan oleh kesadaran dingin bahwa suaminya sedang bermain-main di tepi jurang yang sangat gelap.

Chacha menunduk. Jemarinya perlahan mengusap bibir cangkir yang mulai kehilangan hangatnya. Beberapa detik berlalu tanpa satu pun dari mereka berbicara.

"Kak...," ucapnya pelan. "Apa yang Chacha ceritain setelah ini... nggak boleh keluar dari rumah ini."

(Flashback penyerangan Markas Black RIbal)

Bau apek karung goni basah bercampur dengan aroma amis darah yang masih hangat. Suara tetesan air dari atap seng pecah di tengah remang cahaya lampu bohlam yang berkedip.

"Rell!!!"

Teriakan Renggo dan Gilang membelah kesunyian gudang bersamaan. Di atas lantai semen yang dingin, tubuh Aurell tergeletak kaku. Lubang peluru di pelipisnya masih mengalirkan cairan merah pekat, merembes ke celah-celah ubin. Renggo jatuh berlutut.

"Sanyoooo!!!" raung Renggo. Suaranya bergema di antara tumpukan karung beras. Ia meletakkan tubuh Aurell perlahan, lalu bangkit.

Gilang mencengkram bahu Renggo.

"Anjing, lepasin tangan lo!!!" Renggo menyentak paksa hingga pegangan Gilang terlepas.

"Zal!!! Berhenti atau gua tembak!!!"

Lihat selengkapnya