TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #82

81. PERTEMUAN

Angin sore berembus kencang di area parkir pelabuhan yang sepi. Bau garam dan karat besi tercium tajam di udara. Sanyo berdiri bersandar pada mobil hitamnya, memutar korek api Zippo di tangannya. Bunyi logam beradu terdengar berulang.

Robi berdiri beberapa langkah di depannya, menghadap laut yang bergelombang pelan. Kedua tangannya masuk ke saku jaket. Tatapannya kosong, namun rahangnya mengeras setiap kali nama Rizal atau Aurell kembali melintas di kepalanya.


"Jadi dia masih hidup? Gilang lepasin dia?" tanya Sanyo tanpa mengalihkan pandangan dari korek apinya.

"Iya. Gilang ngelepasin dia setelah lu bunuh Aurell. Gilang yang memalsukan semuanya," jawab Robi.

"Kenapa? Bukannya tugas dia buat nangkep Renggo?" tanya Sanyo heran.

"Karena dulu mereka sahabatan, dan Gilang punya utang nyawa sama dia. Dan saat lu ketemu dia, gua harap lu bisa antisipasi respon dia saat ketemu lu," saran Robi.

"Menurut lu, dia bakal ngapain kalo ketemu gua?" Tanya Sanyo lagi.

Robi terkekeh pelan. Senyum tipis yang muncul di wajahnya lebih menyerupai rasa iba daripada hiburan. "Kalau lo tanya pendapat gue..." Pandangannya menerawang jauh ke permukaan laut. "Lo harusnya bersyukur dia masih bisa nahan diri."

Flashback Satu bulan setelah penyerangan markas Black Ribal

Di dalam gudang beras yang sudah porak-poranda, Gilang menelusuri setiap ruangan yang pernah menjadi markas Black Ribal. Pecahan kaca, bercak darah, dan puing-puing akibat peperangan satu bulan yang lalu masih berserakan di sana.

Sudah beberapa kali Gilang mendatangi tempat ini. Dia ingin segera menemui Robi yang ia yakini selamat, seseorang yang mungkin bisa membantunya untuk menyelidiki The Krugger, kasus yang saat ini dia tangani.

"Ngapain lo di sini?!!" tanya Robi, menodongkan pistolnya ke Gilang, ia muncul dari balik puing-puing.

"Akhirnya gue ketemu juga sama lo, Robi. Ada hal yang mau gue sampein ke lo," jawab Gilang, mengangkat tangannya.

"Gue kasih kesempatan lo buat jelasin. Hidup nggaknya lo setelah ini tergantung alesan lo di sini," ancam Robi, matanya penuh kecurigaan.

Pandangan Gilang menyapu gudang yang kini tinggal puing. Karung-karung beras yang robek, bercak darah yang mulai menghitam, dan lubang-lubang peluru di dinding menjadi saksi betapa brutal malam itu.

"Gue butuh bantuan lo. Aurell pernah bilang sama gue. Kalau suatu hari terjadi sesuatu,

orang pertama yang harus gue cari itu lo."

Lihat selengkapnya