TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #83

82. JANGAN PERCAYA SIAPAPUN

Gilang melempar bolpoinnya ke atas meja lalu menggelinding melewati tumpukan berkas kusam. Gilang menyandarkan punggung. Matanya menatap papan sterofom di dinding yang penuh dengan benang merah kusut. Di tengahnya, satu siluet tanpa wajah dengan tulisan KRUGGER tampak seperti lubang hitam yang menelan semua informasinya selama tiga bulan.

Tiga bulan mengejar bayangan yang sama. Setiap nama yang berhasil ia tarik ke permukaan selalu berakhir di jalan buntu. Setiap langkah yang ia susun selalu terasa sudah lebih dulu diketahui seseorang.

Bau kertas tua dan kopi dingin yang sudah basi menggantung di udara. Gilang menyambar jaket kulitnya yang tersampir di kursi. Gesekan kulit jaket itu terdengar kasar di keheningan.

Gilang melangkah keluar dari lobi Polres Tangsel. Hawa panas siang hari menyergap wajahnya. Dia menyalakan mobilnya, suara knalpotnya menderu rendah di parkiran yang padat.

Aspal jalanan menuju Bogor memantulkan panas dari balik kemudi, Gilang memacu kendaraannya membelah kemacetan panjang di Parung. Satu jam kemudian, ban mobilnya menggilas kerikil di parkiran Polres Bogor. Suasana lebih lembap, dengan pepohonan besar yang menaungi gedung tua itu.

Pintu ruang kerja Satreskrim terbuka dengan derit pelan. Sanjaya mendongak dari balik monitor.

"Eh, Lang! Tumben banget, kok nggak ngabarin lu mau ke sini?" Sanjaya berdiri, kursi kerjanya berdecit keras menabrak meja di belakangnya. "Kirain udah lupa jalan kesini."

"Iya, Bang. Mau update perkembangan," Gilang menjabat tangan Sanjaya. "Udah sebulan nggak ketemu. Nggak apa-apa kan gua dateng tanpa ngabarin dulu?"

"Santai aja. Lu kan udah kayak adek gua sendiri." Sanjaya menepuk bahu Gilang, lalu suaranya merendah. "Kebetulan lu di sini, gua dapet info kita bakal kedatengan orang Polda. Buat bantu ngejar Krugger. Mereka juga mulai gerah."

Gilang menyipitkan mata. Ujung sepatunya mengetuk lantai ubin yang retak. "Oh, ya? Bukannya Krugger di luar wilayah Polda Metro? Ada urusan apa dia ikut campur?"

Sanjaya mendekat, bau rokok dari napasnya tercium tipis. "Koneksi Hydra, Lang. Dia lagi ngejar Hydra yang markasnya di Jakarta. Jadi klop, kan?"

"Kebetulan banget," gumam Gilang.

"Iya, kebetulan banget. Nah, itu dia orangnya." Sanjaya menunjuk ke arah pintu.

Pak Abrur, Kapolres Bogor, masuk mendampingi seorang pria bertubuh tegap dengan seragam PDH yang licin tanpa cela. Tanda pangkat AKBP di pundaknya berkilat tertimpa lampu neon.

"Jaya... Gilang... Kenalin ini Pak Rudi, Kabag Bin Ops Narkoba Polda Metro," ucap Pak Abrur formal.

Pak Rudi menjabat tangan Gilang, lalu beralih ke Sanjaya.

"Pak Rudi, ini Sanjaya, Kasatres Polres Bogor dan ini Gilang, Kasatres Polres Tangsel. Mereka berdua yang ngejar Krugger saat ini," lanjut Pak Abrur mengenalkan Sanjaya dan Gilang.

"Semoga kita bisa saling bantu. Kita punya musuh yang sama," ucap Pak Rudi. Suaranya berwibawa, namun terasa seperti rekaman yang diputar ulang.

"Semoga, Pak," sahut Gilang. Jarinya yang baru saja dilepas Pak Rudi terasa kesemutan.

"Jadi, informasi A1 soal Krugger dan Hydra itu valid?" tanya Pak Rudi. Matanya terkunci ke Gilang.

"Benar, Pak. Sangat valid," jawab Sanjaya.

"Apa update terbaru? Krugger sudah terdeteksi?" Pak Rudi beralih ke Sanjaya.

"Saya masih mengawasi Daeng, Pak. Pengelola Club 90's. Rumornya dia orang kepercayaan Krugger," jelas Sanjaya sambil menunjukkan beberapa foto kusam di atas meja.

Pak Rudi melirik foto itu sebentar, lalu kepalanya berputar perlahan ke arah Gilang. "Kamu, Lang? Saya dengar kamu yang beresin dua kelompok di Tangsel. Pasti pergerakan kamu lebih dari sekadar mengawasi foto lama. Silakan di-share."

Jangan percaya siapapun!!!

"Suara serak Daeng tiba-tiba meledak di gendang telinga Gilang. Begitu nyata hingga Gilang merasakan bulu kuduknya berdiri. Bau cerutu mahal dan whiskey murah dari ruangan Daeng sebulan lalu seolah kembali memenuhi hidungnya.

(Flashback satu bulan lalu)

Lampu strobe warna-warni menyambar wajah Gilang saat dia digiring melewati kerumunan orang yang menari. Musik techno berdentum hingga menggetarkan tulang rusuknya. Sanjaya diminta menunggu di bar bawah, sementara Gilang dipaksa naik ke lantai dua.

Lihat selengkapnya