TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #85

84. AKIBAT

Di ruangan kosong dengan dinding semen yang lembap dan gelap di Bandung, suara tamparan keras menggema.

PLAK!

Sisilia duduk bersimpuh, kedua tangannya terikat ke atas di pipa besi. Rambutnya acak-acakkan, menutupi sebagian wajahnya. Richard berdiri di depannya, napasnya memburu.

"Plis, lepasin aku...," lirih Sisilia, suaranya parau, air mata membasahi pipinya yang memar.

PLAK!

Telapak tangan Richard kembali menghantam wajah Sisilia.

"Aku mohon, lepasin aku Bee. Aku mohon maafin aku... Aku salah," Sisilia memohon, tubuhnya bergetar.

"Maaf?!!!... Setelah kamu lakuin ini, kamu minta maaf?!!! Di mana otakmu, Sisil!" sentak Richard, suaranya menggelegar. Dia melemparkan testpack plastik ke lantai beton.

Testpack itu memantul dua kali sebelum berhenti tepat di depan kaki Sisilia. Garis merah samar di permukaannya masih terlihat jelas.

Richard menatap benda kecil itu tanpa berkedip. Dadanya naik turun tidak beraturan. Bibirnya bergetar pelan. "Aku kerja siang malam..." bisiknya lirih. "Aku bangun semuanya buat kita." Jarinya bergetar menunjuk testpack itu dengan jari yang gemetar. "Terus kamu balas aku begini?"

Sisilia menunduk. Air matanya jatuh menetes ke lantai. "Bee... aku salah..."

Richard tertawa pelan. "Salah?" ulangnya lirih. Tawanya semakin keras, lalu mendadak berhenti. "Salah itu lupa ulang tahun. Salah itu telat jemput. Salah itu bukan ngandung anak laki-laki lain."

"A-Aku bisa jelasin, Bee," ucap Sisilia tertatih.

"Nggak ada yang perlu dijelasin! Aku sudah muak sama kalian berdua." Richard kembali memberikan tamparan keras ke pipi Sisilia.

Richard mencengkeram rambut Sisilia hingga wajah wanita itu terangkat paksa. "Lihat aku!"

Sisilia memejamkan mata.

"Lihat aku!!!"

Sisilia perlahan membuka matanya.

"Aku pernah kurang apa? Aku pernah bikin kamu kelaparan? Aku pernah ninggalin kamu?"

Sisilia menangis.

Richard melepaskan rambut Sisilia, kepala Sisilia kembali terhempas ke belakang.

"Aku bodoh..." Richard mengusap wajahnya sendiri. "Aku kira musuhku itu gangster. Ternyata musuhku tidur di rumahku sendiri."

Terik matahari kota Bandung tak jauh Terik matahari Bandung memantul di kaca-kaca showroom mobil yang bersih. Di dalam, Nadia sedang berbicara dengan rekan kerjanya. Ponselnya di atas meja berdering. Dia melihat layarnya, lalu mengangkatnya.

"Setelah makan siang, Pak? Satu jam lagi, dong ya? Saya mau memastikan unitnya siap," tanya Nadia memastikan.

"Iya, Bu. Mumpung pimpinan kami lagi berkunjung ke Bandung jadi bisa sekalian negosiasi. Tapi beliau hanya bisa setelah makan siang saja, jam tiga beliau harus balik ke Jakarta. Urusan mendesak," jawab calon pembeli di seberang telepon.

"Oh, baik, Pak. Tolong kirim alamatnya ya, Pak. Saya segera ke sana,"

"Baik, Bu. Segera saya kirim alamatnya. Kami tunggu ya, Bu,"

"Terima kasih, Pak,"

"Sama-sama, Bu... tut tut tut."

Nadia menyambar kunci mobil dan tas kerjanya. Layar ponselnya menampilkan sebuah alamat di sudut terpencil Bandung. Dia melirik jam di dasbor mobilnya, waktunya sempit. Dia menyalakan mesin mobil, deru mesin terdengar halus. Pikirannya sudah fokus pada bonus komisi sepuluh unit mobil.

Lihat selengkapnya