TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #87

86. HARGA YANG HARUS DI BAYAR

RS Santosa, Bandung.

Lorong ICU diselimuti cahaya lampu neon putih pucat yang dingin. Bau antiseptik yang menyengat, aroma darah yang tersembunyi, dan sisa kopi basi bercampur menjadi aroma rumah sakit yang menyiksa, menjepit hati setiap orang yang menunggu. Di ujung koridor yang sepi, Rizal berdiri seperti patung, mengenakan hoodie hitam, wajahnya tersembunyi di balik masker dan topi yang menaungi pandangannya.

Ia baru saja menjenguk Riki melalui kaca satu arah setelah sebelumnya mendatangi kamar jenazah dan makam sementara Nadia. Riki, yang biasanya penuh vitalitas, arogan, dan tawa, kini hanyalah gundukan perban putih, alat bantu napas menempel di wajahnya yang bengkak tak dikenali. Infus menancap di dua tangan, dan mesin monitor jantung terus berbunyi beep-beep lemah, penanda kehidupan yang rapuh. Di ruangan sebelah, Sisilia terbaring kritis, koma akibat trauma fisik dan mental yang diterimanya, berjuang mempertahankan nyawanya dan janin yang dikandungnya.

Rizal menunduk, matanya terpejam di balik masker. Tangannya mengepal, kuku-kuku jarinya menekan telapak tangan hingga sakit. Ia merasakan rasa bersalah yang menusuk, kegagalan karena tidak mampu melindungi mereka yang tidak bersalah. Keinginannya untuk hidup normal di desa telah luntur. Peringatan Chacha tentang flashdisk peninggalan Aurell terngiang jelas.

Rizal keluar dari rumah sakit tanpa suara. Ia berjalan membelah malam. Angin dingin khas Bandung menusuk tulang. Di parkiran, cahaya interior mobil yang pintunya terbuka menyambutnya. Chacha duduk diam di kursi pengemudi, tangannya memegang kemudi dengan erat. Alee duduk di kursi belakang, bersiap mengamankan jalan. Rizal masuk, pintu ditutup pelan.

"Gue balik, Cha," suara Rizal serak, jauh dari ketenangan yang ia paksakan selama di desa Sukabumi.

Chacha mengangguk pelan, matanya tetap menatap lurus ke depan.

"Richard dapet bekingan dari The Hydra. Kak Nadia mati karena The Hydra, Kak. Mereka pakai Nadia untuk memancing Kak Riki," Chacha mengonfirmasi data yang ia kumpulkan.

"Nadia mati karena The Hydra," ulang Rizal, menarik napas panjang. "Gue nggak lari lagi. Ini urusan gue."

Chacha men-starter mobil, mesin diesel berderu pelan.

"Malam ini kita ketemu Kak Gilang di Jakarta. Sebelum ada korban lagi."

***

Siang hari - Markas Polres Tangsel.

Ponsel Gilang bergetar di meja kerjanya yang berantakan, di tengah tumpukan laporan insiden penculikan dan pembakaran gudang di Bandung. Ia menganalisis pola serangan Richard, mencari keterkaitan Richard dengan jaringan kriminal yang lebih besar.

Ponselnya di atas meja bergetar, ia melirik nama Pak Rudi di layar ponselnya.

Gilang meraih ponselnya, mendekatkan ke telinga.

"Gilang, kita harus ketemu sekarang. Ada yang perlu kita bicarakan. Sendirian. Jangan bawa siapa pun, apalagi pengawal. Lima belas menit. Di coffee shop biasa, di dekat kantor Walikota," Suara Pak Rudi di seberang telepon terdengar tegang.

Gilang menatap layar ponselnya yang telah kembali gelap. Tidak ada salam penutup, hanya keheningan yang tertinggal di ujung sambungan. Ia meraih kunci mobilnya, lalu berangkat menuju lokasi.

Dua puluh menit kemudian, ia memasuki cafe langganan mereka. Pak Rudi duduk gelisah di sudit cafe, ia menatap Gilang berjalan menuju mejanya.

"Lang, Kamu harus pertanggung jawabkan hal ini. Laporanmu mengenai Black Ribal." Pak Rudi menunjuk foto Renggo.

Gilang menatapnya tajam. "Bapak tau dari mana?"

"Laporan Black Ribal masuk ke meja saya." Pak Rudi melihat ke sekitar ruangan. "Kalau laporan ini beralih ke meja lain..." Ia menjeda kalimatnya. "...kamu harus tanggung jawab atas laporan yang kamu buat."

"Saya bisa jelaskan, Pak."

"Cukup, Lang, kamu sudah saya beri peringatan. Mereka bukan orang yang bisa bohongi." Pak rudi mengambil kunci mobil. "Keputusan ada di tanganmu," katanya.

***

Malam hari - Cafe outdoor, Cilandak, Jakarta Selatan.

Chacha dan Rizal sampai di cafe yang ramai.

Lihat selengkapnya