4 Bulan setelah pemakaman Gilang,
Udara dingin dan lembap khas perbatasan Bogor-Tangerang menusuk hingga ke tulang, bercampur aroma pekat debu kapur dari tambang Rumpin yang tersembunyi di balik kegelapan.
Mobil off-road hitam terparkir di balik rumpun bambu, tersembunyi dari jalan tambang yang hanya dilalui truk-truk pengangkut kapur di siang hari.
Di dalam kabin, Beta meletakkan tablet di atas pahanya. Denah bangunan memenuhi layar, diselingi titik-titik merah yang bergerak tidak beraturan. "Lima orang terdeteksi."
Delta memeriksa magasin pistolnya, lalu memasukkan kembali ke sarung di dada. "Penjagaan segini buat pabrik sebesar itu?"
"Yang jaga tempat ini bukan jumlah orangnya," sahut Gamma dari kursi belakang.
Alpha menatap satu-satunya jendela yang menyala di lantai dua. Cahaya redupnya sesekali tertutup bayangan orang yang bergerak di dalam.
Beta menggeser tampilan di layar. Sebuah garis biru muncul di sisi timur bangunan. "Ada sinyal radio aktif. Frekuensinya pindah setiap tiga puluh detik."
"Radio biasa?" tanya Delta.
Beta menggeleng. "Frekuensi aparat."
Kabin mobil kembali sunyi.
Alpha membuka pintu mobil. Udara dingin masuk bersama debu kapur yang terbawa angin. "Kita masuk."
Empat siluet gelap bergerak tanpa suara menuju bangunan pabrik kimia yang lama terbengkalai. Pagar kawat berkarat mengelilingi area pabrik sudah jebol di beberapa titik. Di lantai dua bangun utama, satu jendela menyala redup, satu-satunya titik hidup di bangunan mati itu.
Alpha memimpin di depan, balaclava hitam membungkus rapat kepalanya, menyisakan sepasang mata menatap tajam ke depan. Sepatu bot Alpha menapak di atas tanah berbatuan. Di bawah sorot pucat bulan yang tertutup polusi tambang, bayangannya memanjang, menyentuh pilar beton yang terkelupas.
Pipa-pipa besar berkarat mencuat dari dinding Pabrik kimia di depan mereka, cairan hitam kental menetes cairan ke kubangan air payau di bawahnya. Bunyi jangkrik mendadak putus saat ujung laras senjata Gamma menyapu semak belukar yang kering di sekitar mereka.
Di barisan belakang, Beta menyesuaikan fokus pada layar tablet miliknya. Cahaya biru yang memancar dari layar itu memantulkan retret balaclava yang ia kenakan. Di atas layar digital tersebut, denah gedung tua itu tampak rumit, menyerupai labirin semut yang saling silang dengan garis-garis oranye yang berkedip pelan, menandakan posisi sensor.
"Tiga orang di pintu depan, dua lagi patroli di area belakang. Gerakan mereka kacau, kemungkinan besar pemakai lagi teler. Target utama kita di lantai dua," bisik Beta, memecah kesunyian.
Alpha mengangguk sekali tanpa menoleh. Ia mengangkat dua jari ke udara, memberi jeda satu detik, lalu mengepal kuat.
"Kita nggak punya banyak waktu. Masuk lewat atap," bisik Alpha. "Beta, ambil alih lantai dan amankan lantai dua. Delta dan Gamma, kalian bersihkan lantai satu. Ingat aturan mainnya, nggak ada tembakan. Kita adalah hantu."
"Siap," jawab dua siluet lainnya.
Delta bergerak maju, bergeser di sisi Alpha, pergerakan presisi yang lahir dari hasil latihan keras dan brutal selama berbulan-bulan. Gamma bergerak lebih tenang, langkahnya konstan, hampir terlihat santai.
Alpha memimpin rute infiltrasi. Dalam hitungan detik, mereka merayap di atas atap seng yang rapuh dan rawan berderit. Beta melonggarkan beberapa baut di ventilasi atap yang sudah berkarat tanpa menimbulkan suara logam beradu. Alpha turun pertama, meluncur menggunakan tali webbing, menembus ke dalam kegelapan lantai satu.
Puluhan keranjang besar berisi ribuan pil ekstasi warna-warni memenuhi setiap sudut ruangan. Di tengah ruangan, mesin cetak terus bekerja mengeluarkan obat-obat terlarang. Mata Alpha menyipit, menatap ke seluruh ruangan, kondisi yang terlalu rapi dan siap untuk tempat terpencil.
Salah satu penjaga yang sedang duduk lengah mendongak, mendengar suara sepatu bot Alpha yang mendarat sedikit terlalu keras.
"Siapa di sana?!" teriak penjaga itu, tangannya bergerak ke samping pinggang, mencoba meraih pistol di sarungnya.
Brak!
Alpha sudah berada di belakangnya sebelum penjaga itu berdiri dari kursinya. Pukulan keras dan terarah menghantam telak di pelipis penjaga itu. Mulut penjaga terbuka, Alpha memutar lengan penjaga ke belakang punggungnya.
Lengan Alpha melingkar di leher penjaga, menekan kuat. Jemari penjaga meraih dan mencengkram lengan jaket Alpha, mencari pegangan di tengan jepitan. Sepatu bot penjaga menyeret di atas lantai, satu langkah panjang, lalu setengah langkah tertahan.
Krak
Alpha menyentak lengannya, mematahkan leher penjaga. Tubuh penjaga itu lunglai. Alpha menyeret tubuhnya ke dalam bayangan gelap di balik tumpukan palet.
Di lorong penyimpanan bersekat, Delta menangkap pergelangan tangan seorang penjaga yang mendadak muncul dari balik tumpukan drum kimia. Delta memutar tangan penjaga 180 derajat, bunyi tulang retak terdengar pelan.