TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #89

88. JAGERMESITER

Rizal berdiri di balik pilar beton jembatan penyeberangan yang kusam jelaga knalpot. Permukaan beton yang kasar terasa dingin di balik telapak tangannya. Ia menarik topi bisbol hitamnya lebih rendah, menutupi bekas luka parit yang melintang dari kuping kanan ke kuping kiri, bayangan tajam memotong wajahnya. Di bawah sana, di antara arus kendaraan yang padat, dua pria berjas safari berdiri di depan pintu baja ganda.

Di bawah jembatan, arus kendaraan padat merayap. Rizal menatap lurus dua pria berbadan tegap dengan jas safari longgar berdiri kaku di depan pintu baja ganda club malam. Tatapan mereka menyapu setiap pejalan kaki yang lewat.

Bzzzt. Bzzzt.

Ponsel di dalam saku jaket parasut Rizal bergetar berulang kali, bunyi getarannya diredam gesekan kain. Tangannya meraba saku dadanya, ia menempelkan ponselnya ke telinga kiri anpa mengalihkan pandangan dari lobi club di seberang jalan.

"Ada pergerakan?" Suara Ilham parah di ujung telepon, deru bising klakson kendaraan saling bersahutan di latar belakangnya.

"Satu jam. Belum ada yang keluar," suara Rizal datar, nyaris tak terdengar di bawah bising knalpot angkutan kota. Matanya bergerak ke mobil box menurunkan muatan bir. "Nggak ada yang mencurigakan di sini."

Ilham menarik napas panjang, embusan napasnya terdengar berat di speaker ponsel Rizal. "Dia punya banyak lini bisnis di kota ini, Zal. Tempat yang lo pantau itu cuma salah satu dari sekian banyak kedoknya. Kalo bajingan itu memang nggak ada di situ sampai malam, kita perlu gerak cepat buat cek titik potensial yang lain."

Rizal tidak langsung menyahut. Sebuah sedan tua hitam dengan kaca film gelap memperlambat lajunya tepat di depan pintu masuk club. Ban mobil itu berdecit halus saat bergesekan dengan pembatas aspal. Pintu belakang terbuka. Seorang pria paruh baya turun perlahan, perutnya menyembul di balik kemeja safari abu-abu kebesaran di tubuhnya. Pria itu berhenti sejenak, mengeluarkan selembar sapu tangan dari sakunya, lalu mengusap sisa keringat yang mengucur di dahiny, lalu melangkah masuk dikawal dua penjaga pintu.

"Ada yang masuk," bisik Rizal, suaranya merendah, jemarinya mencengkeram badan ponsel lebih erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Rizal memutus panggilan. Ia membuka sebungkus biskuit, mengunyahnya pelan. Ia terus menatap pintu baja itu sampai lampu jalan mulai berkedip menyala satu per satu. Saat gelap benar-benar jatuh dan dentum musik dari dalam club mulai bergetar sampai di aspal bawah kakinya, Rizal turun dari jembatan penyebrangan.

Rizal berbalik perlahan, berjalan menuruni tangga jembatan penyeberangan. Ia mendekati sepeda motor maticnya yang terparkir di sudut gelap bawah jembatan. Ia memutar kunci, menyalakan mesin lalu menarik gas pelan. Rizal bergerak lambat, menyelinap di antara kemacetan malam, melebur di antara ribuan lampu merah kendaraan yang merayap memadati jalanan Bandung.

***

Di dalam rumah petak sederhana yang terasing dari keramaian, tiga unit monitor di atas meja kayu panjang menyala sejak fajar menyingsing, memancarkan radiasi elektromagnetik. Secangkir kopi hitam di samping keyboard sudah mendingin, menyisakan lapisan minyak tipis di permukaannya.

Di halaman belakang beralaskan tanah keras, Rizal menyelesaikan sesi latihan fisiknya. Keringat dingin membasahi kaos yang melekat ketat di tubuh. Butir-butir keringat menetes dari ujung rahangnya, jatuh membasahi tanah kering di bawahnya.

Napasnya diatur sangat teratur. ekas luka panjang yang melintang di wajahnya menarik garis batas di wajahnya, sisi gelap seorang Renggo yang tidak pernah benar-benar mati di dalam dirinya.

Di dalam ruangan, keheningan terasa begitu mengintimidasi. Chacha menatap baris kode hijau dan umpan kamera jalanan di tiga layar monitor. Dua ponsel di atas meja kayu bergetar bersamaan beberapa detik. Di dekat kaki meja, tablet dengan layar retak tipis di sudutnya tergeletak, layarnya menyala redup.

Chacha tidak menoleh ke arah ponsel yang sempat bergetar. Jemarinya terus bergerak di atas keyboard, bunyi ketukan yang stabil dan cepat, hampir seperti mesin jahit tua. Ratusan notifikasi pesan dan enkripsi data berlalu di sudut layarnya.

Cklek.

Pintu depan berderit terbuka memecah keheningan ruangan. Ilham melangkah masuk, membawa dua bungkus kertas berisi nasi padang. Sesekali, Ilham menyempatkan diri datang ke rumah aman, melepas penat setelah menyelesaikan shift tugas hariannya yang melelahkan di kantor kepolisian.

"Sudah sebulan, tim resmi di Polda masih tetap nol besar," Ilham menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas sofa yang berdebu, melepas jaket dinas kepolisiannya yang tebal, lalu melempar lencana peraknya ke atas meja.

Lihat selengkapnya