Lampu meja halogen memotong kegelapan, menyinari permukaan marmer hitam, memantulkan bayangan kursi kulit. Di balik dinding kaca temper setinggi empat meter, hamparan city light kota Jakarta bersinar di tengah kegelapan malam. Udara di dalam ruangan ditekan hembusan pendingin udara sentral, suara dengung rendah dan konstan mengisi setiap sudut yang sunyi.
Krugger duduk diam di kursi kulitnya. Tubuh tegapnya dan kokoh terbungkus kemeja sutra gelap, melekat rapi tanpa satu kerutan. Telepon satelin di tangan kanannya mengeluarkan suara statis, memecah kesunyian malam dengan ritme yang menjengkelkan. Ujung jari telunjuknya menggeser asbak kristal berat di atas meja kayu ek kuno. Matanya mengunci pergerakan benda itu, memastikan sudut asbak sejajar sempurna dengan garis urat alami yang terukir di kayu meja. Jemarinya beralih, mencengkeram pemantik S.T. Dupont perak.
Cring.
Tutup logam pemantik itu terbuka, bunyi dentang khas yang jernih bergaung di dalam ruangan. Ibu jari Krugger bergerak lambat, memutar roda pemantik. Lidah api jingga terang muncul, bergoyang pelan, meliuk tipis mengikuti arus udara dingin yang ditiup AC ruangan. Krugger menatap lurus ke arah nyala api tanpa berkedip. Di bawah siraman cahaya, pupil matanya mengecil, mengunci fokus di titik panas yang bergerak.
Nyala api kecil yang memancar dari pemantik cerutunya memantul di permukaan logamnya yang mengilap. Ketukan jarinya di atas meja berhenti total. Kesunyian kembali menyergap, lebih pekat dari sebelumnya.
Krugger mengulurkan tangan, hendak menekan tombol interkom di ujung meja, memanggil staf keamanan internal. Telepon pribadi di saku kemejanya berdering nyaring, jalur komunikasi rahasia yang hanya diketahui oleh segelintir orang di lingkaran terdalamnya. Ia mengangkat telepon, menempelkannya ke telinga.
"Bos. Gudang Rumpin dihantam. Semua ludes," suara Daeng terdengar berat, terengah-engah lewat speaker ponsel, dibarengi deru angin malam yang berembus kencang menghantam bising mikrofon. "Saya sudah di lapangan sekarang, Bos. Ini bukan kerjaan polisi. Pihak Polda Metro bahkan nggak tahu soal koordinat lokasi gudang kita yang ini."
"Rumpin," suara Krugger serak, keluar di sela geraham yang mengunci.
Krugger perlahan menyandarkan tubuhnya ke belakang, seluruh beban punggungnya menekan sandaran kursi kulit yang berderit halus. Tangan kirinya mengetuk permukaan meja kayu. "Kalo bukan polisi, trus siapa?" suaranya tenang.
"Gue duga ini dari sisa-sisa kelompok lama yang beraliansi," jelas Daeng, suaranya merendah. "Mereka ngira wilayah ini kosong setelah Sanjaya tewas. Mereka pasti punya informan yang kuat di internal kita, Bos, nggak mungkin mereka bisa tahu jalur masuknya secepat ini."
Daeng menarik napas dalam di seberang telepon. "Para penjaga gudang yang selamat... mereka menyebut penyerang itu Hantu."
"Hantu," Krugger mencibir sinis. Sudut bibirnya terangkat, ia melempar pemantik cerutu peraknya ke tengah meja.
Logam itu beradu keras dengan permukaan marmer. Sepasang mata Krugger beralih, tertuju lurus ke pantulan siluet dirinya yang samar tercermin di kaca jendela besar di hadapannya. Ia menarik napas pendek melalui hidung, lalu menahannya di dalam dada beberapa detik. "Cari siapa yang bayar mereka."
Otot halus di bagian bawah mata kirinya berkedut pelan. Ia mengangkat tangan, ibu jarinya menekan pelipis kirinya, memijatnya perlahan. "Pakai semua sumber daya Hydra yang kita punya sekarang. Jangan libatkan pihak polisi dalam urusan ini. Jangan ninggalin bau atau jejak apa pun di lapangan. Gue mau nama mereka semua ada di meja gue secepatnya. Dan cari tahu siapa orang dalam kita yang sudah berani bocorin lokasi Rumpin."
Suaranya merendah nyaris menyerupai bisikan. "Bawa mereka ke hadapan gue hidup-hidup. Biar mereka bicara."
"Siap, Bos. Gue akan cari dan kejar mereka sampe ke akarnya," sahut Daeng, tepat sebelum suara klik halus sambungan telepon terputus.
Krugger perlahan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja marmer. Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Otot-otot rahangnya menegang keras hingga tulang pipinya menonjol, lalu perlahan-lahan mengendur kembali seiring dengan pengaturan napasnya.
Ia mengulurkan jari telunjuknya, bersiap menekan tombol interkom perak di sudut meja kerja. Jarinya mendadak menggantung diam di udara, tertahan tepat di atas tombol selama tiga detik. Cahaya indikator merah mesin interkom berkedip-kedip pelan, memantul di atas kuku jarinya. Di dalam keheningan yang mencekam, suara desah napas terdengar halus dari staf keamanan yang sedang berjaga di balik pintu besi di seberang mesin interkom, menunggu perintahnya.