Alpha melangkah melewati pintu gerbang geser gudang logistik tua. Cahaya matahari pagi tertahan kabut polusi menyusup masuk melewati celah ventilasi udara. Bau besi berkarat dan sisa oli mesin lama menggantung pekat di udara.
Langkahnya terhenti sejenak. Ia mengangkat tangan kanannya yang dibungkus sarung tangan, lalu menarik pelan balaclava hitamnya ke atas, menyibakkan rambutnya yang lepek rembesan keringat, wajahnya jauh lebih tirus dibandingkan beberapa bulan lalu. Lingkar hitam pekat mengelilingi kedua kelopak matanya.
Di bagian gudang, Pak Rudi berdiri tegak menghadap sepasang monitor besar. Cahaya biru memancar dari layar digital menyinari garis-garis tegas di wajah Pak Rudi. Di atas layar, baris demi baris data operasional kehancuran gudang Rumpin menyala di atas layar, memantulkan grafik kerugian finansial yang masif.
"Kerja bagus, Gilang," suara Pak Rudi berat dan dalam, bergema pelan di antara pilar-pilar besi penyangga atap gudang. "Ledakan di Rumpin sukses besar. Krugger mulai gerak acak sekarang. Dia kelihatan panik, sibuk nyari sesuatu yang sebenarnya nggak pernah ada di koordinat petanya."
"Hantu," sahutan pendek terdengar dari sudut ruangan yang remang.
Daeng berdiri hampir tidak terlihat di balik bayang. Kedua tangannya bersedekap di depan dada, punggungnya bersandar kaku di dinding bata.
Gilang menarik napasnya dalam, dadanya naik-turun lambat. "Kita gerak terlalu dekat, Pak. Predator kayak dia... cepat atau lambat pasti akan nyium bau kita di lapangan."
"Memang itu tujuan kita, Lang." Pak Rudi mengulurkan jari telunjuknya, mengetuk layar monitor. "Informasi palsu sudah mulai mengalir lewat jalur Daeng. Fokus kecurigaan Krugger sekarang ke sindikat lama yang sengaja kita hidupkan kembali... setidaknya di atas kertas."
Gilang memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah Daeng yang berada di sudut gelap, mata mereka bertemu. "Laporan palsu yang lo kasih ke Krugger kemarin malam... dia telan mentah-mentah?"
Daeng mengangguk pelan. "Gue bilang ke dia kalau para penjaga gudang yang selamat cuma sempat lihat bayangan hitam gerak cepat. Gue sebut unit penyerang kita Hantu. Gue tekankan juga kalau ini urusan dendam lama dari kelompok saingan, bukan gerakan dari orang-orang seragam cokelat. Sekarang, dia langsung nyuruh gue buat pimpin perburuan bayangan itu di Jakarta." Daeng menoleh ke Beta. "Tenang aja, gue bakal kasih dia jejak-jejak palsu yang memang pengen dia temukan."
Gilang mengangguk pelan. Ia melangkah mundur, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi logam tanpa sandaran di dekat meja kerja. Tangan kanannya meraba permukaan bahu kirinya, meremas perlahan melalui kain jaket. Kain jaketnya kering, tdak ada rembesan darah. Otot-otot di sekitar pundaknya menegang. kedua matanya terpejam.
Satu detik. Dua detik.
Dengung kipas pendingin komputer berputar di telinganya, perlahan meredup digantikan suara memori yang menyeret kesadarannya kembali masuk ke dalam kegelapan.
***
Pabrik Baja, Setu, Tangerang Selatan
Malam Penyerbuan Gilang
Klik
Sepasang lampu sorot LED berkekuatan tinggi menyala dari arah depan, cahaya putih silau menyorot pupil mata Gilang, dunianya berubah putih buta. Kedua pergelangan tangannya dipaksa menekuk ke belakang, terikat kencang lilitan kawat tembaga tebal ke kursi besi yang dipaku mati ke atas lantai beton. Rasa dingin merayap naik dari pergelangan tangannya.
Di hadapannya, samar-samar di balik pendaran cahaya silau, dua siluet pria berdiri tegak mematung. Daeng, dalam balutan jas hitam licin tanpa kerutan, menatap kosong ke arahnya tanpa berkedip. Di sampingnya, Sanjaya tersenyum tipis. Jauh di balik kegelapan di sudut ruangan pabrik, seorang pria berjas berdiri mengamati proses interogasi dari atas.
Sanjaya melangkah maju. Bunyi sol sepatu kulitnya beradu dengan permukaan lantai beton pabrik.
"Gilang Kharisma... Lo jalan terlalu dalam kali ini," bisik Sanjaya. Ia membungkuk rendah di depan wajah Gilang, aroma parfum bercampur dengan bau oli industri pabrik. "Sayang sekali, Lang. Padahal kalau lo mau sedikit lebih pintar, lo bisa punya karier yang sangat panjang di kepolisian."
Sanjaya terkekeh pelan. "Lo pikir lo selama ini bisa melangkah sejauh ini karena kehebatan atau kecerdasan lo sendiri? Hah?" Sanjaya menggeleng perlahan. "Krugger yang selama ini buka jalan buat lo dari atas, Lang. Lo itu cuma alat gratisan yang sengaja kami pakai buat bersihin kerikil-kerikil kecil dari geng-geng saingan yang terlalu berisik di jalan bisnis kami."
Sanjaya memajukan wajahnya lagi, ujung hidungnya nyaris menyentuh daun telinga Gilang yang bersimbah keringat. "Lo itu nggak lebih dari sekadar pahlawan boneka yang kami kendalikan dari balik layar, Lang." Ia menjeda kalimatnya, menarik tubuhnya tegak kembali. "Oh, ada satu hal menarik lagi yang perlu lo tahu. Soal adek kesayangan lo itu. Chacha."