Cahaya lampu neon biru berkedip di langit-langit, menyapu dinding gudang tanpa jendela. Bau oli pelumas senjata bercampur kopi instan yang baru diseduh menempel di udara, pahit dan asing, terlalu lama tinggal di hidung. Gilang, atau Alpha, duduk membungkuk di atas kursi lipat logam. Seragam taktikal hitam pekat yang melekat di tubuhnya masih dipenuhi lapisan debu halus sisa-sisa ledakan dari misi terakhir mereka di kawasan tambang Rumpin.
Obeng kecil magnet berputar pelan di tangan kanannya, ia membongkar perangkat radio komunikasi di atas meja untuk ketiga kalinya, sekrup terakhir berukuran mikr berputar terlalu lama di tempatnya, sebelum akhirnya lepas, berdenting halus di atas permukaan meja.
Di atas meja kayu penuh foto-foto target, dan lembaran skema jaringan Hydra. Alee duduk tenang di seberang meja, tangannya bergerak pelan, mengasah sebilah golok panjang tradisional di atas batu asah hitam yang basah. Sesekali, Alee memercikkan sedikit air dari botol plastik ke atas permukaan batu, tetesan air bercampur serbuk besi hitam membasahi jemarinya.
"Target berikutnya?" tanya Gilang tanpa menoleh. Suaranya datar, matanya menatap detail rumit sirkuit hijau radio di hadapannya.
Suara gesekan kasar bilah baja dingin dan batu asah mengisi keheningan di dalam gudang. Alee mengangkat goloknya ke atas, menguji ketajaman mata bilahnya dengan ujung ibu jari kanannya, menekan sedikit lebih keras, membiarkan kulit arinya tergores tipis hingga memunculkan setitik darah merah.
"Gudang logistik utama di kawasan Cengkareng," Alee mengulurkan ujung goloknya yang mengilat tajam, mengetuk titik koordinat baru di atas peta besar. "Ini tempat mati, titik Krugger biasanya nyuci duit paling banyak."
Gilang menghentikan putaran obeng kecil di tangannya, meletakkan obeng di atas meja, logam kecil itu berdenting nyaring. Ia mengangkat pelan wajahnya, mengarahkan tatapan matanya ke dalam pupil mata Alee. "Sebelum kita mutusin buat serang ke sana. Gue butuh kepastian dari lo," suara Gilang merendah.
Alee berhenti mengasah. Ia meletakkan golok panjangnya melintang tepat di atas lembaran peta meja kayu, cahaya biru lampu neon memantul di atas permukaan bajanya yang tajam. "Kepastian apa lagi yang lo butuhin dari gue?" Ia mencondongkan tubuh, aroma besi dan keringat menguar tubuhnya. "Gue yang jebol server mereka semalam. Dua penjaga tumbang bahkan sebelum mereka sadar ada orang di belakang mereka. Masih belom cukup?"
"Bukan soal kemampuan," Gilang menghela napas panjang. Tangannya menyentuh bekas luka di bahunya. "Gue mau tahu kenapa lo di sini."
Alee tertawa kecil. Ia memutar kursi kayunya, duduk berhadapan dengan Gilang hingga lutut mereka nyaris bersentuhan. "Gue yang ngajarin adek lo, buat jadi bayangan saat dia ngejar Krugger. Gue yang jagain dia." Alee menyandarkan punggungnya ke kursi. "Walaupun akhirnya dia lebih pilih ikut si Renggo."
"Ini juga bukan soal Chacha. Dan berhenti panggil Rizal Renggo," sahut Gilang menyipitkan matanya.
Alee menarik napas panjang. "Lo mau versi laporan atau versi panjang?"
"Gue punya banyak waktu sampe jadwal kita nyerang lagi," jawab Gilang.
Alee menyilangkan kakinya, matanya menatap langit-langit beton yang lembap, mencari bayangan masa lalu yang terbakar.
Tiga Bulan Lalu
Hujan lebat menghantam atap sirap, menciptakan kebisingan yang mengisolasi ruang kerja Daeng. Di dalam, lampu meja kuning tua yang menyala, menciptakan bayangan raksasa di dinding. Alee berdiri di depan meja besar, napasnya memburu, tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih.
"Lo mau gue bantu Pak Rudi? Jadi tikus di tim polisi?" suara Alee bergetar. "Lo gila, Om?"
Daeng mengamati kemarahan yang membakar mata Alee, tangannya telurur, membuka laci meja kerjanya perlahan, mengeluarkan sebuah foto lama yang sudah usang dan terlipat di beberapa bagian. Ia menggeser foto itu ke tengah meja, tepat di bawah sorot lampu kuning.
Foto Seorang pria berwajah keras, mengenakan jaket kulit tua, menatap ke arah kamera. Rahang, mata, dan cara berdirinya identik dengan dirinya.
Alee menatap foto itu tanpa menyentuhnya. Dadanya naik-turun. "Itu... bukan gue."
"Itu bokap lo, Krugger yang asli" jawab Daeng
Alee tertegun. Tangannya gemetar perlahan bergerak meraih foto itu. Tekstur kertas perak halida yang sudah lama mengering itu terasa kasar dan rapuh di bawah kulit jemarinya. Selama belasan tahun hidupnya, Daeng selalu mengatakan ayahnya mati dalam kecelakaan kerja tragis di luar kota. Tidak pernah ada makam yang bisa dikunjungi, tidak ada satu pun kenangan fisik yang ditinggalkan
"Lo bohong selama ini?" suara Alee serak, nyaris hilang tertelan suara hujan.
"Gue ngelindungi lo," suara Daeg berat. "Karena orang yang narik pelatuk ke arah ayah lo masih bernapas. Sekarang dia memakai nama Krugger."
Alee menjatuhkan foto itu ke atas meja. "Foto bisa dibuat. Cerita bisa lo susun sesuka hati." Tatapannya mengeras. "Gue nggak bakal masuk ke perang lo cuma karena wajah gue mirip sama orang mati."
Daeng bangkit dari kursinya, berjalan menuju lemari besi pendek di sudut ruangan. Dua kunci berbeda dimasukkan berurutan, disusul putaran kode mekanis yang berhenti pada tiga angka.
Pintu lemari terbuka. Daeng mengeluarkan kotak plastik hitam, meletakkannya di atas meja, lalu menarik kaset rekaman dan buku besar berlapis kulit dari dalamnya.
"Duduk."
"Gue udah duduk."
"Kalau gitu, diam dan lihat." Daeng memasukkan kaset ke pemutar video kecil yang tersambung ke monitor di sisi meja. Layar menyala dipenuhi garis-garis statis, rekaman gudang berputar.