TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #93

92. AURORA

Tiga unit monitor berjajar di atas meja kayu, Cahaya biru pucat menyapu wajah Chacha. Jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik, rentetan bunyi ketukan memecah keheningan rumah aman. Di atas layar monitor utama paling besar, folder rahasia terenkripsi berlapis-lapis dengan nama kode "AURORA" berada dalam proses decrypt yang berjalan lambat.

Pantulan baris demi baris kode enkripsi hijau neon bergerak cepat di kornea mata Chacha mendadak berhenti. Gerakan data itu membeku, digantikan bilah progres horizontal yang mendadak tertahan di angka 98%. Deru rendah dari putaran kipas prosesor komputer yang bekerja keras menembus enkripsi menggantikan bunyi ketukan papan ketik yang menghilang

Rizal melangkah maju dari sudut ruangan, bayangan tubuhnya menutupi separuh bagian papan ketik di bawah Chacha. Di belakang punggung Rizal, Ilham berdiri tegak, bersedekap dada, matanya mengunci lurus ke arah layar.

"Dari mana lo bisa dapat dokumen ini, Cha?" suara Ilham parau, memecah ketegangan yang menggantung di udara.

Proses decrypt di layar monitor berjalan semakin melambat, pantulan cahaya putih dari layar digital membuat kelopak mata Chacha berkaca-kaca, berkilau lembap di pelupuk matanya.

"Aurell," suara Chacha pelan, nyaris berupa bisikan lirih yang bergetar di tenggorokan.

Chacha perlahan melepaskan pegangan tangannya dari atas kursor. Telapak tangannya basah rembesan keringat dingin. Kedua tangannya bergerak turun, meremas kuat pinggiran meja kayu tua di hadapannya hingga seluruh buku-buku jarinya memutih dan bergetar kaku.

Di samping papan ketik, gelas plastik sisa air putih bergoyang pelan, riak-riak gelombang kecil menabrak dinding seiring dengan getaran dari mesin prosesor di bawah meja.

Rizal menarik langkahnya mundur, Ilham merogoh saku celananya, mengeluarkan pemantik api logam perak. Ia memutar-mutar pemantik itu di antara jepitan jempol dan jari telunjuknya, lalu memasukkan kembali ke dalam saku tanpa menyalakannya. Sepasang mata Ilham menatap lurus tengkuk Chacha yang menegang keras.

***

Satu hari sebelum penyerangan Markas Black Ribal.

Suasana di tepi danau yang tenang itu terasa damai. Angin danau buatan bertiup rendah, riak-riak air tenang di atas permukaan danau, sisa cahaya matahari senja mulai meredup di atas permukaan air.

"Ternyata lo itu adalah adeknya Gilang?" Aurell melangkah perlahan dari arah belakang, mendekati Chacha yang duduk sendirian di atas bongkahan batu besar, melempar tatapan kosongnya lurus ke arah permukaan air yang luas.

"Tahu dari mana soal itu?" Chacha membalas tatapan mata Aurell yang tajam menyisir wajahnya.

"Gue tahu banyak hal tentang lingkaran lo, Cha. Dan gue tahu kalau lo lagi sibuk nyari jalan buat balas dendam," lanjut Aurell. "Tapi sayangnya, orang yang udah bikin hidup lo jadi hancur berantakan begini... malah udah mati duluan di tangan orang lain. Dan akhirnya, sekarang lo bingung, lo cuma bisa nyari pelampiasan lain buat kemarahan lo."

Chacha memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah bentangan danau di hadapan mereka. Air danau bergerak pelan, berlapis-lapis dan bergelombang tipis tertiup sapuan angin sore. Ekspresi wajah Chacha tetap datar.

"Sebenarnya... ada orang lain yang lagi gue kejar sekarang," Aurell memecah keheningan diantara mereka. Ia ikut duduk di samping Chacha di atas batu yang sama. "Dan orang yang kita kejar... ternyata sama."

Lihat selengkapnya