TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #94

93. 11 JUNI 2013

Air hujan masih menghantam atap rumah aman, suara hantaman air beradu dengan sunyi dalam ruangan. Chacha melirik cangkir kopi di samping keyboard, sisa ampas hitam mengendap di dasarnya. Di seberang mejanya, dua kursi kayu masih kosong, tidak ada suara ketukan langkah kaki dari luar, tidak ada getar notifikasi pesan masuk di ponselnya.

Cahaya dari layar komputer memantulkan wajah pucat Chacha, matanya memerah menatap lurus desktop, folder terenkripsi peninggalan Aurell menyisakan satu subfolder terakhir yang baru selesai melewati proses decrypt otomatis. Mata Chacha menyipit membaca nama folder 11 Juni 2013.

Chacha menahan napasnya di tenggorokan, jantung berdegup kencang. Jari telunjuknya bergetar di atas mouse, ia mengetuk folder tersebut. Gerakan tangannya berat dan lambat.

Di dalam folder, tidak ada dokumen rumit berukuran besar. Hanya ada satu file teks sederhana, judulnya pendek. Kalo lo baca ini, berarti gue udah nggak ada - Aurell.

Chacha memejamkan kedua matanya beberapa detik, menghela napas panjang, mengatur tangannya agar tidak bergetar.

Kelopak matanya kembali terbuka, bias cahaya putih dari monitor komputer menyorot ke arah wajahnya, menusuk kornea mata. Huruf-huruf digital hitam menunggu diam.

Kursor berkedip sekali, lalu hilang ketika baris pertama muncul.

Gue nggak tau harus mulai dari mana. Sebenarnya gue nggak mau ada yang baca ini. Karena artinya, gue sudah gagal.

Aura selalu lebih lembut dari gue. Atau mungkin gue yang terlalu keras.

Dia takut gelap. Ironis, karena gue yang hidup di sana.

Dia hidup normal, punya impian sederhana, dan punya pacar polisi muda.

Gue? Jaket kulit, celana jeans robek, motor berisik, dan gue nggak pernah takut apa-apa. Gue hidup di bayangan, di jalanan, di tempat-tempat yang kotor. Kami saling melengkapi. Dia cahaya. Gue perisainya.

Sampai hari itu, 11 Juni 2013.

Gue lagi nongkrong sama Aban di Puncak. Kami sengaja cari tempat yang sepi, jauh dari keramaian dan pengawasan kota. Kami nemuin villa yang gue kira kosong. Kami cuma mau cari tempat sepi buat ngobrol serius, jauh dari berisiknya basecamp. Villa itu besar, tua, dan lembab.

Tapi saat gue buka pintu basement yang tersembunyi, gue lihat adegan yang bikin darah gue dingin. Di sana, gue lihat dua orang lagi eksekusi polisi yang tangannya diikat di kursi.

Satu orang, pake kemeja rapi yang mahal, nembak kepalanya. Satu orang lagi, badannya tinggi besar, jalan mondar-mandir dengan langkah arogan. Dia teriak Hail Hydra. Terlalu keras. Terlalu puas. Kayak itu bagian dari sesuatu yang emang sering mereka lakukan.

Karena kebodohan gue, gue ngga sengaja bikin suara. Mungkin kaki gue menginjak pecahan kaca. Suara kecil itu bikin mereka sadar keberadaan gue. Gue lari. Lari secepat mungkin keluar dari villa itu, dan bawa Aban menjauh. Tapi gue tau mereka lihat muka gue.

Tiga hari kemudian, Aura cerita dia dikejar-kejar dua orang naik motor hitam. Mereka beraksi di sekitar kampus.

Lihat selengkapnya