TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #95

94. BLACK ORCHID

Malam Yang Sama Sebelum Diary Aurell Dibaca

Bulir-bulir air berukuran besar menghantam atap bangunan klub malam tanpa jeda, suara gemuruh padat dan datar, seperti sesuatu yang dipukul terus-menerus sampai lupa kapan harus berhenti.

Di dalam bangunan, musik techno frekuensi bas menggelegar keras. Dentumannya memukul dinding-dinding bata, kaca-kaca jendela bergetar halus. Bau parfum yang menyengat bercampur aduk dengan aroma keringat manusia dan kepulan asap rokok.

Rizal berdiri di gang belakang Club Black Orchid yang gelap. Ia menyelinap, bersembunyi di balik tumpukan kardus-kardus basah, bau apek menyengat membusuk akibat air hujan. Hoodie hitam tebal yang dikenakannya basah kuyup, menempel ketat di kulit, menyerap hawa dingin malam yang menusuk tulang. jemarinya menggenggam stik baton baja, ia menyentak pergelangan tangannya, tongkat baton memanjang. Telapaknnya mencengkram erat.

Suara Ilham terdengar jelas dari sambungan telepon. "Gue udah sampai di kawasan Braga. Di depan Club Red Moon," lapor Ilham. "Red Moon lebih besar dari perkiraan awal kita, Zal. penjagaannya juga jauh lebih ketat. Lo beneran yakin bisa ngatasin situasi sendirian di Cicendo?"

Rizal tersenyum tipis di balik bayangan kain hoodie yang menutupi wajahnya. "Gue lahir di tempat kaya gini, Ham," jawab Rizal pelan

Rizal mematikan sambungan telepon. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku berlapis pelastik. Lalu, Rizal bergerak, menghilang ke dalam kegelapan. Langkahnya pelan tanpa menimbulkan suara mendekati dua penjaga di pintu belakang. Mereka membagi sebatang rokok sambil mengobrol tentang taruhan bola.

Sret!

Stik baton baja di tangan Rizal melesat cepat memotong udara malam. Pukulan keras pertama menghantam telak bagian pelipis kanan penjaga pertama, pukulan kedua menyusul tanpa jeda, menghantam tengkuk penjaga kedua.

Sebelum tubuh kedua penjaga itu ambruk ke atas tanah, Rizal mencengkeram kerah baju mereka. Ia menyeret kedua tubuh yang pingsan ke balik sebuah tempat sampah logam besar di sudut gang, lalu menutupi posisi mereka menggunakan sisa-sisa lembaran kardus basah.

Tangan kirinya bergerak perlahan mendorong gagang pintu servis belakang. Pintu besi itu berderit halus, membuka akses masuk menuju ke sebuah lorong sempit yang langsung berhadapan dengan area aula utama klub. Rizal melangkah masuk, suara getaran musik techno menghantam tubuhnya, bergetar ke dalam tulang dada.

Rizal menurunkan pandangan matanya, bergerak lambat, berjalan lelet melewati kerumunan manusia yang bergoyang liar di bawah siraman lampu strobo. Matanya bergerak menyisir setiap sudut ruangan, mencari celah keamanan tak terlihat, mengabaikan wajah-wajah mabuk para pengunjung yang sesekali memandangnya dengan tatapan kosong kehilangan kesadaran. Ia melangkah menuju ruang privasi kelas VIP di lantai dua, sedangkan ruang penyimpanan khusus tersembunyi di dalam basement bawah tanah.

Aroma busuk bercampur tumpukan sampah dapur, ceceran alkohol basi, dan bau anyir dari noda darah kering yang melekat di sela ubin menuju lantai dua. Dua orang penjaga bertubuh kekar berdiri tegak di depan pintu masuk area VIP. Di sabuk celana mereka, unit walkie-talkie yang terus berkresek, serta pucuk senjata api berukuran kecil terselip kaku di balik pinggang.

Rizal merangsek maju, menyerang dari arah buta tanpa peringatan Satu pukulan tangan kiri menghantam telak jakun tenggorokan penjaga pertama, memutus pasokan oksigennya. Penjaga itu membelalakkan matanya, mencoba berteriak meminta bantuan, suara cekikan parau dan udara kosong keluar dari tenggorokannya yang hancur.

Tendangan kaki kanan Rizal mendarat tepat di sisi luar lutut penjaga kedua. Bunyi gemertak sendi yang bergeser terdengar nyaring, menghancurkan titik keseimbangan, pria itu tersungkur keras ke atas lantai beton. Kedua tubuh itu ambruk. Rizal menyeret pakaian mereka masuk ke sudut koridor yang gelap, bayangan ruangan menutupi noda-noda memar yang akan segera muncul di kulit mereka.

Di balik daun pintu kayu ruang VIP, suara isak tangis lirih seorang perempuan terdengar samar di bawah hantaman dentuman musik techno dari luar. Bahu Rizal mendorong pelan, stik baton baja di tangan kanannya terangkat di depan dada.

Lihat selengkapnya