Lampu neon putih tergantung di plafon gudang berkedip. Suhu ruangan menetap di 16°C. Di dinding tengah, peta digital menampilkan titik-titik cahaya. Area Rumpin berwarna abu-abu. Cicendo merah padam. Puluhan titik hijau berkedip di area Jakarta lainnya. Gilang berdiri satu meter di depan peta. Kedua tangan masuk ke saku celana taktikal. Kelopak matanya gelap, dikelilingi pembuluh darah merah di sekitar mata.
Di sisi kanan, Alee duduk menghadap meja kayu. Komponen laras panjang berserakan di atas meja, pegas, pin pengunci hingga bolt carrier. Bunyi klik logam terdengar berulang kali, menggema tipis di dalam gudang setiap kali tangan Alee menyatukan kembali komponennya.
Di sudut ruangan terjauh dari jangkauan cahaya neon, Delta atau Ajat, menyandarkan punggung lebarnya ke dinding beton yang lembap. Rahangnya bergerak naik-turun, mengunyah lambat permen karet, nyaris malas. Matanya menatap lurus pintu baja hidrolik yang menutup rapat di ujung lorong masuk.
Detik berikutnya, getaran halus merambat di lantai beton. Pintu baja besar mulai bergeser perlahan ke atas. Bunyi desis udara bertekanan tinggi mendesak keluar dari katup hidrolik, melepas tekanan gas yang tertahan. Pintu gudang terbuka, memecah keheningan mencekam yang mengendap di dalam gudang.
Rizal melangkah masuk, langkahnya terseret. Ia mengenakan hoodie hitam, wajahnya penuh guratan goresan merah dan memar keunguan di sekitar tulang pipi. Chacha berjalan dua langkah di belakang punggung Rizal, langkahnya ringan tanpa suara di atas lantai. Matanya sempat berhenti di wajah Gilang, lalu turun ke pistol di paha kanannya, lalu kembali ke layar peta di dinding.
Gilang menatap Rizal lama, membaca luka baru di tubuh Rizal. "Lo masih bisa jalan?"
Ruangan mendadak hening, Rizal tersenyum tipis. "Lo masih bisa tidur nyenyak?"
Mereka saling mengangguk. Ringkas. Anggukan dua pria yang pernah saling memburu, saling menyelamatkan, dan sama-sama kehilangan terlalu banyak untuk menyebut pertemuan itu sebagai reuni.
Alee meletakkan baut senjata ke atas meja, lalu berdiri. Kursi kayu di belakangnya berderit tipis. Ia berjalan lambat, melangkah mendekati Chacha. Aroma tajam minyak senjata merembes dari pakaiannya
"Selamat datang, Chacha. Masih cantik aja sayang," Alee menyeringai, matanya berbinar menatap Chacha.
Chacha menatap Alee dari kepala sampai ujung sepatu. "Masih berisik aja, Lee. Gue kira dikurung bareng Abang gue bikin lo belajar sopan."
"Sopan itu buat orang yang nggak punya pesona, sayang."
"Berarti lo memang harus mulai belajar."
Senyum Alee tertahan. "Mulut lo sekarang lebih tajam."
"Gurunya bagus." Pandangan Chacha turun sebentar ke golok di tangan Alee. "Walaupun gurunya masih terlalu bangga sama senjatanya sendiri."
Alee mengangkat goloknya sedikit. "Yang ini seenggaknya nggak pernah ninggalin gue."
"Karena dia nggak punya kaki," sahut Chacha datar.
Gilang melangkah ke ruang di antara mereka. Tangan kanannya bergerak cepat mencabut pistol dari holster. Tangan kirinya melingkar di pinggang Chacha, menarik tubuh Chacha hingga menempel di seragam taktikalnya. Pandangan Chacha turun ke tangan Gilang di pinggangnya lalu beralih menatap lurus wajah Alee tanpa berkedip.
"Lo berani macem-macem," Moncong senjata Gilang menekan kulit di bawah dagu Alee, mendongakkan kepalanya dua sentimeter. Gilang menatap pupil mata Alee beberapa detik, lalu memutar lehernya kembali ke arah peta. "Gue bolongin kepala lo."
"Pistol lagi?" Alee melirik senjata di bawah dagunya. "Gue kira setelah jadi Alpha, cara ngancem lo bakal lebih kreatif."
"Gue simpan kreativitas buat orang yang lebih susah dibunuh."
"Berarti lo masih nganggep gue gampang?"
"Gue nganggep lo berisik."
Alee mengangguk pelan. "Nah, itu Gilang yang gue kenal."
Tekanan moncong pistol bertambah sedikit.
"Panggil gue Alpha."
"Siap, Kak Gilang." Alee menyeringai lebih lebar, mengangkat kedua telapak tangan setinggi bahu.
Gilang mendengus, Chacha tersenyum tipis.
"Lagi pula, Chacha duluan lho yang ngajakin gue pacaran," lanjut Alee.
Dari sudut gelap, Ajat melangkah maju. Sepatu boot-nya menghantam lantai. Ia mengabaikan ketegangan antara Gilang dan Alee, berjalan lurus ke arah Rizal yang masih berdiri kaku. Tangan kanan Ajat menyambar pergelangan tangan Rizal, mencengkeramnya dalam jabat tangan menyerupai kuncian besi. Kulit di punggung tangan keduanya memuti, urat-urat hijau dan menonjol kasar di bawah permukaan kulit mereka.