TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #97

96. IRISH

Udara di dalam ruangan mengembun dari sisa penguapan hujan di balik celah atap gudang. Peta digital Jakarta terpantul di dinding tengah, titik-titik hijau jaringan Hydra tersebar seperti barisan semut. Chacha, Rizal, dan Gilang berdiri di depan peta. Mata mereka bergerak lambat, menyisir garis demi garis, menganalisis struktur Hydra yang baru berhasil diurai dari kegelapan. Nama krugger bukan lagi bayangan, identitas Jendral Bintang Satu berada dibaliknya.

"Kita terlalu kecil buat ngelawan bintang satu," suara Gilang datar, tertahan di tenggorokan. "Ratusan anak buah legal. Hydra di setiap sudut. Satu kesalahan langkah, kita abis."

Rizal melangkah maju. Sepatunya berdecit pelan di atas lantai. Ujung jarinya bergerak, menyentuh titik merah padam area Cicendo di peta. "Serangan frontal selesai. Kita pakai data Aurell buat serangan balik."

Chacha menatap lurus monitor kendali. Jemariny bergerak di atas keyboard. Di sudut bawah layar, berkas terenkripsi dengan label IRISH terbuka perlahan. Foto seorang wanita berambut acak-acakan dengan papan nomor tahanan di dada muncul dari balik berkas.

"Aurell ninggalin kunci," Chacha memecah fokus keduanya. "Irish. Dia dibuang Champagne setelah ditangkap di markas Black Ribal."

Rizal menoleh, alis kirinya terangkat. "Kamu mau nego sama Kepala Hydra? Dia akan jual kita di kesempatan pertama, Cha."

"Orang kaya dia nggak pernah suka menjadi sampah, Kak," sahut Chacha tanpa mengalihkan pandangan.

"Kakak lebih tau mereka, Cha," Rizal berjalan mendekat. Bayangan tubuhnya menutupi sebagian meja.

Chacah mendongak, menatap lurus mata Rizal. "Karena kakak udah pernah kena jebakan mereka?"

Rizal terdiam, bahunya merosot. Gilang membuang muka ke arah peta. Tangannya berhenti di saku celana.

Pandangan Chacha beralih kembali ke layar. "Dia akan jual Champagne," jari-jarinya mengetuk meja. "Irish punya rahasia. Dan orang yang ditinggal sendirian di sel biasanya punya keinginan besar buat nyanyi."

"Nggak," Bahunya Gilang menegang. Otot lehernya menonjol di bawah kaos hitamnya. "Chacha nggak masuk ke tempat yang seluruh petugasnya bisa dibeli Champagne."

"Kalau Kak Gilang masuk, kematian Kakak terbongkar. Kalau Kak Rizal masuk, Irish bakal tahu kita datang karena butuh," sahut Chacha. "Chacha satu-satunya orang yang belum punya sejarah langsung sama dia."

"Irish nggak butuh sejarah buat nusuk orang dari belakang. Dia bisa baca kelemahan kamu sebelum kamu duduk," balas Rizal.

"Makanya Kak Rizal nggak boleh ada di sana."

Rizal menatap Chacha beberapa detik. "Kamu yakin bisa ngadepin mantan kepala Hydra sendirian?"

"Dia dipenjara, bukan kehilangan otak. Kalau kita datang ramai-ramai, dia tahu kita takut."

Gilang menarik tangan dari saku celananya. "Ini bukan soal takut."

"Terus soal apa?"

"Tempat itu di bawah Champagne. Satu petugas kasih laporan kalau kamu datang, kita nggak tahu apa yang nunggu saat kamu keluar."

"Justru itu, kak." Chacha menoleh, cahaya biru monitor memantul di samping wajahnya. "Kalau Champagne yakin Irish aman di dalam, dia nggak akan perhatiin siapa yang datang selama nggak ada alarm."

Chacha menekan tombol Enter. Layar monitor berubah menjadi hitam, menyisakan pantulan wajahnya yang statis di kaca. Suara dengun kipas poyektor mengisi keheningan di antara mereka.

"Kamu nggak pergi sendiri," ucap Rizal memecah keheningan.

Chacha mengangguk ke arah Alee. "Makanya Alee ikut."

Alee bangkit dari kursi kayu di sudut. Tangannya bergerak cepat memasukkan magasin ke dalam Glock. "Gue bisa jadi pengawal atau gue jadi sopir pengacara muda yang terlalu sibuk buat punya SIM."

Rizal melirik Alee. "Bagian nggak punya SIM gue percaya."

"Bagian pengacara muda yang ganteng juga boleh dipercaya."

"Gue lebih percaya Irish," balas Rizal.

Alee mendecak, lalu menoleh ke Gilang. "Pak Rudi bisa masukin identitas Chacha lewat firma hukum rekan lamanya. Secara administratif, kunjungannya bersih."

"Secara administratif," ulang Gilang. "Bukan secara keamanan."

Chacha melangkah berdiri tepat di depan Gilang. "Kakak nggak harus percaya tempatnya. Percaya sama Chacha."

Rahang Gilang mengeras. Ia melihat wajah Chacha beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan ke layar peta. "Empat puluh menit. Lewat lima menit dari jadwal, Alee lapor."

"Lapor, bukan masuk," tekan Chacha.

"Kalau lo nggak keluar, gue masuk," sahut Alee.

"Kalau lo masuk bawa senjata, semua orang tahu kunjungan ini bukan urusan hukum."

"Gue bisa masuk tanpa senjata."

Chacha menatapnya datar. "Itu justru lebih mengkhawatirkan."

Rizal menahan senyum tipis.

"Identitas, dokumen firma, sama izin kunjungan Pak Rudi yang urus," lanjut Chacha. "Alee tunggu di luar. Kak Rizal dan Kak Gilang tetap di gudang. Kalau Irish kasih informasi, kita verifikasi dulu sebelum bergerak."

"Bukan kamu yang mutusin semuanya sendiri," bantah Rizal.

"Yang masuk Chacha, Kak." Chacha mengambil flashdisk dari meja. "Jadi batasnya Chacha yang tentuin."

Alee menepuk pelan permukaan meja. "Akhirnya ada orang di ruangan ini yang bisa ngasih perintah masuk akal."

Tatapan Gilang beralih ke Alee.

"Selain kak Alpha," tambah Alee cepat.

Gilang kembali memandang Chacha. "Empat puluh menit."

"Iya, Kak."

***

Satu hari setelahnya

Bau disinfektan dan deterjen murah memenuhi koridor Lapas Wanita. Chacha berjalan pelan, Blazer gelapnya menyerap cahaya lampu neon yang berkedip. Di tangannya, tas kulit berisi dokumen firma hukum palsu yang telah diurus Pak Rudi, menggunakan koneksi lamanya. Suara langkah sepatunya beradu dengan lantai.

Di ruang kunjungan khusus, kaca setebal lima sentimeter memisahkan ruangan. Irish sudah duduk di balik kaca, mengenakan seragam penjara biru tua kebesaran di tubuhnya yang menyusut. Matanya bergerak mengikuti setiap pergerakan Chacha.

Chacha menarik kursi, lalu duduk. Tangannya terulur mengangkat gagang telepon. "Selamat sore, Irish. Atau Veronica?" suara Chacha terdengar profesional dari balik speaker telepon.

Lihat selengkapnya