Lampu bohlam tunggal yang tergantung rendah di tas ring berayun pelan, lingkaran cahaya kuning redup memotong kegelapan sasana, bayangan tiang-tiang ring bergeser di atas kanva Bau tajam balsem otot mengendap di udara, bersaing dengan bau apak dari debu tua di sela-sela dinding kayu bangunan. Di salah satu sudut, sepasang sarung tinju bekas tergantung di paku. Handuk lusuh terlipat kaku di atas tumpukan karung pasir.
Deb
Sarung tinju Riki menghantam bagian tengah karung pasir. Debu halus beterbangan dari pori-pori kulit karung setiap kali benturan terjadi. Riki berdiri diam, menumpu berat badan di kaki kanan. Tangan kirinya tergantung sedikit lebih rendah. Perban putih di pergelangan tangan kirinya sudah berubah warna menjadi abu-abu, serat kainnya terburai di sela jemari. Setiap kali dia mengepal, ujung perban bergetar tipis.
Deb. Deb.
Jarak pukulannya tidak berubah. Kaki kiri Riki mundur setengah langkah, lalu kembali menghentak ke posisi semula.
Di sudut sasana, jajaran kursi kayu kosong menghadap ke arahnya. Riki menatap kursi paling depan selama dua detik, lalu memutar bahunya, melepaskan pukulan hook kanan yang membuat rantai pengikat karung berderit tajam. Karung itu berayun lebih liar dari sebelumnya. Napas Riki keluar pendek dari hidung, teratur seperti detak jarum jam. Dadanya naik-turun di bawah kaus hitam.
Pintu besi di ujung ruangan berderit, suara gesekan logam dan karat. Noval melangkah masuk, jas hujan plastik transparannya basah kuyup, memantulkan sisa cahaya lampu jalanan luar. Air hujan menetes ke lantai, genangan kecil terbentuk di bawah kakinya. Dia melepas jas itu, melipatnya rapi lalu duduk di salah satu kursi kayu.
Riki terus memukul, suara hantaman tinjunya mengisi kekosongan ruangan.
"Lo yakin, Ki? Ini bukan jalan pulang," suara Noval memantul di dinding sasana. "Itu ring ilegal. Kalah ya mati."
Riki melepaskan satu pukulan terakhir. Tinju kanannya membenam ke permukaan karung pasir, bagian belakang karung menonjol keluar. Karung itu berayun menjauh, lalu kembali meluncur ke arah dada Riki, satu tangannya menahan ayunan samsak.
"Kalau mati, ya udah," suara Riki datar. "Yang penting lunas."
Noval berdiri, langkah kakinya perlahan melintasi tali ring yang kendur. Tangannya terlurur, kedua telapak tangannya meraih pergelangan tangan kiri Riki. Ibu jarinya menekan bagian punggung tangan yang membiru. Tekstur kulitnya lebih hangat dari sekitarnya.
Mata Riki mengikuti gerakan tangan Noval, otot di lengannya menegang, urat-urat di lengan bawah menonjol.
"Masih bengkak," kata Noval.
"Nggak perlu tangan kiri," jawab Riki. Dia menarik tangannya perlahan, melepaskannya dari genggaman Noval. "Satu pukul tangan kanan cukup."
Noval menarik napas panjang. Udara masuk lambat, berhenti sebentar di dada, lalu keluar lebih lambat. "Jangan mati konyol."
Riki kembali menghadap karung pasir. Punggungnya lebar, diam, tidak bergerak.
Di luar, suara hujan mulai terdengar lebih jelas. Deras. Air dari talang yang bocor jatuh ke seng dengan bunyi yang tidak beraturan. Suara langkah sepatu bot terdengar di tangga kayu. Robi masuk dengan jaket kulit yang basah kuyup. Dia berdiri di sisi ring, tangannya masuk ke saku jaket.
"Lo udah siap?" Pandangan Robi menyapu tubuh Riki dari belakang.
Riki menarik perekat sarung tinjunya dengan gigi. Suara velcro robek terdengar kasar, lalu melemparkannya ke lantai. Sarung tangan itu mendarat di atas kanvas. Sarung tinju kanan menyusul perlahan.
"Lo udah urus jalurnya?" Riki menoleh ke Robi.
Robi mengangguk. "Lo harus menang dulu. Kalau kalah, pintu ke Richard nggak bakal kebuka."
Riki menurunkan kedua tangannya. "Richard tahu gue yang bakal datang?"
Robi mengeluarkan ponsel dari saku jaket, membuka satu pesan, lalu meletakkan di atas tiang sudut ring.
Riki menatap foto dirinya saat masih di rumah sakit. Foto itu diambil dari seberang jendela ruang perawatan. Matanya bergerak ke bawah, membaca pesan pendek di bawah foro.
Biarin dia masuk. Gue pengin lihat seberapa keras calon ayah itu bisa dipukul sebelum minta ampun.
"Gue daftarin lo pakai nama lain," Robi menatap memar di lengan kiri Riki. "Tapi belum sampai satu jam, pengelola ring kirim foto ini ke gue. Richard sudah tahu dari awal."
Noval bangkit dari kursinya. "Berarti ini jebakan."