Lampu neon gantung di langit-langit gudang berdegung keras. Cahayanya putih menyilaukan, konsisten menerangi ruangan sejak sore. Di tengah ruangan, Rizal berdiri menghadap meja besi berkarat. Di atasnya, tumpukan magasin Glock berjejer rapi. Suara pegas magasin tertekan saat Rizal memasukkan peluru sembilan milimeter satu per satu. Matanya lurus menatap tumpukan peluru.
Sepuluh meter di depannya, Gilang berdiri mematung menatap peta Jakarta dan Tangerang di dinding semen. Tangannya masuk ke saku celana jins, rahangnya mengunci keras. Di sudut lain, Alee menarik tali rompi taktik hitamnya. Perekat velcro berbunyi tajam saat dia mengencangkan rompi di tubuhnya. Dia melepaskannya lagi, lalu menariknya lebih kencang sampai rompi itu menekan dadanya.
Suasana gudang sunyi, hanya diisi bunyi-bunyi mekanis. Tidak ada pembicaraan tentang Cicendo. Nama Irish atau Penjara tidak terdengar. Semua bergerak dalam urutan yang sudah dihafal.
Gilang mendekati meja besi, meraih tablet. Ujung jarinya menunjuk titik biru kecil di peta tablet. "Gudang di Cengkareng," suara Gilang datar, tertahan di tenggorokan. "Kalau disentuh, dia bakal jawab."
Rizal tidak berhenti menekan peluru ke dalam magasin. "Seberapa cepat?" tanya Rizal tanpa menoleh.
Gilang menatap layar tabletnya. "Kita hitung nanti."
Rizal memasukkan magasin terakhir ke dalam Glock di pinggangnya, lalu mengambil senapan serbu modifikasi di atas meja. Dia menarik tuas pengokang, lalu menyampirkannya di bahu kanan.
"Beta, ambil perimeter Timur," perintah Rizal. "Delta, tutup jalur Barat. Gamma, tetap standby di dalam van. Siap-siap buat kemungkinan paling tai di lapangan. Jangan ada satu pun kepalanya yang lolos keluar dari pagar. Ingat, operasi kita malam ini bukan buat pembersihan total. Ini peringatan terbuka buat jenderal itu."
Alee menyahut pelan sambil mengambil tas berisi drone. "Drone sudah siap. Setiap mobil yang mendekat akan gue catat nomor polisinya. Kita akan tahu siapa saja yang bekerja buat Jenderal itu di Jakarta."
Chacha duduk di depan barisan monitor di sudut gudang. Cahaya biru monitor memantul di wajahnya pucat, kelopak matanya menghitam. Jari-jarinya mengetuk tombol keyboard, membuka barisan angka keuangan Hydra dari flashdisk Aurell.
Alee berjalan mendekat ke arah Chacha, berdiri di sampingnya. "Kenapa lo nggak tidur dulu, Cha?" suaranya melembut.
Chacha menatap lurus ke arah layar. Jarinya terus mengetik. "Mereka gerak cepat, Lee. Setiap detik yang gue buang, Champagne makin kuat." Jemarinya berhenti sebentar, menekan tombol Enter. "Gue nemuin rekening utamanya."
Alee meletakkan sebotol air mineral dingin di samping keyboard Chacha. Embun air merambat jatuh ke meja. "Lo butuh tenaga buat bedah data itu. Kalau lo tumbang, data Aurell nggak ada gunanya."
Chacha meraih botol itu, dingin plastik bersentuhan dengan kulit tangannya. "Gue tahu. Tapi gue nggak bisa berhenti. Irish benar soal satu hal. Champagne nggak bisa disentuh kalau masih kelihatan bersih."
Alee menempelkan telapak tangannya di bahu Chacha sebentar, lalu berbalik, meraih senjatanya. Gilang memperhatikan interaksi itu dari kejauhan, tangannya masuk lebih dalam ke saku celana. Rizal yang berdiri di samping Gilang melirik ke arah yang sama.
"Alee terlalu peduli," bisik Gilang.
Rizal mengunci pengaman senjatanya. "Selama Alee loyal ke Chacha, dia loyal ke kita."
Gilang memalingkan wajahnya, memutus pembicaraan lalu menatap lurus ke arah pintu baja hidrolik gudang yang mulai bergerak. "Udah waktunya. Alee, kita jalan."