TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #100

99. ANCAMAN

Di rumah sakit swasta yang jauh dari hiruk pikuk dunia bawah tanah, suasana terasa tenang dan steril. Aura Pramadita meratakan kerah seragam perawatnya di depan cermin toilet rumah sakit. Kancing paling atas tertutup rapat. Tangannya diam, tidak ada getaran. Di ruang perawat, dia menyebut nama pasien dengan intonasi datar. Tidak ramah, tidak dingin.

Sejak Aurel meninggal dan Gilang dikabarkan gugur dalam tugas, rumahnya selalu sunyi lebih awal dari seharusnya. Ilham, yang bekerja sebagai Kanit Polres Bandung dan dikenal karena idealismenya, adalah salah satu dari sedikit orang yang masih ia ajak bicara.

Di Polres, ia dikenal sering menolak titipan kasus dan menjauhi kantor petinggi di lantai atas, tempat ia jarang naik kecuali dipaksa.

Jam dinding menunjukkan pukul lima sore. Aura mengunci laci meja, mematikan lampu, lalu berdiri diam di depan pintu selama sepuluh detik. Dia menarik napas panjang, sekali, lalu keluar.

Di ruang tunggu, Ilham duduk dengan laptop yang terbuka sedikit. Rahang Ilham mengeras, matanya tidak berkedip menatap barisan kode.

"Kak Ilham? Sudah lama?" Sapa Aura.

Ilham tersentak. Tangannya menyambar layar laptop. "Oh, Aura. Belum. Baru sampai."

Aura tersenyum samar. "Kalo Kak Ilham lagi ada penyelidikan gpp ko, kakak ngga perlu jemput aku. Kakak kan sibuk di Polres."

Ilham menatap Aura. "Kenapa kamu lihat kakak begitu?"

Aura meraih tangan Ilham. "Kak Ilham kelihatan capek."

Ilham memijat pangkal hidungnya. "Kakak cuma bantu mereka bertahan, Ra. Kamu tahu, mereka lawan monster," ia menghela napas, suaranya parau. "Dan monster itu pakai seragam."

Aura meremas pergelangan tangan Ilham, kain seragam polisi itu kusut di bawah jarinya. "Aku lihat berita Cicendo," lanjutnya pelan. "Itu... bukan polisi, ya?"

Ilham menggeser laptopnya menjauh.

"Aku cuma takut. Bukan sama mereka. Sama perubahan," Aura menatap lurus mata Ilham tanpa berkedip. "Bawa mereka keluar, Kak. Mereka nggak perlu ngelakuin ini buat Aurell. Aku sudah tenang," pinta Aura. "Aku nggak mau Chacha jadi Aurell yang kedua. Gilang juga pasti mau adiknya hidup normal."

Ilham menunduk. "Kakak akan coba !ngomong sama Rizal."

Aura mengembuskan napas panjang. Pegangannya di tangan Ilham mengendur. "Tolong, Kak. Aku nggak kuat kalau daftar itu bertambah lagi. Cukup Aurell dan Gilang. Aku nggak mau kehilangan Kakak juga."

***

Setelah kembali dari gudang Cengkareng, Gilang dan Rizal menganalisis drone footage yang dikumpulkan Alee. Chacha kembali ke pekerjaannya, menganalisis data keuangan Hydra.

Ponselnya bergetar. Nama Ilham muncul di layar. Rizal menekan tombol speaker.

"Lo ada waktu? Soal rencana ke depan," suara Ilham terdengar dari ponsel.

"Ada apa? Gue sibuk," jawab Rizal.

"Kita mulai nyerang aset," kata Ilham. "Bukan bertahan."

Rizal menandai satu nomor polisi dengan spidol merah.

"Itu bukan cuma bangunan, Zal," lanjut Ilham. "Ada orang di dalamnya."

Rizal berhenti. Spidolnya menggantung di udara, tepat di atas peta logistik. "Mereka kerja buat orang yang sama."

"Dan itu bikin mereka pantas dibakar?" suara Ilham meninggi.

Rizal menggebrak meja besi. Suara dentumannya menggema di seluruh gudang. Chacha, yang sedang mengetik di sudut, berhenti total. Bahunya naik, tapi dia tidak menoleh.

"Mereka juga menyebut Aurell aset, Ham! Waktu mereka putusin dia sudah nggak berguna!" teriak Rizal.

"Tapi tujuan awal kita bongkar Hydra supaya hukum yang kerja!" balas Ilham dari telepon. "Kita sudah dapat data Champagne. Serahin ke pihak yang benar!"

Rizal tertawa pendek, suaranya kasar. "Hukum? Ham, hukum itu pakai seragam. Dan seragamnya punya dia. Lo pikir siapa yang bakal bongkar dia? Pak Rudi sudah di ujung tanduk. Jangan naif."

"Gue cuma nggak mau kalian melewati batas," kata Ilham pelan, lalu memutuskan sambungan.

Rizal melempar spidolnya ke lantai. "Dia mulai rapuh," ucapnya ke Gilang yang sejak tadi berdiri dalam bayangan.

Gilang tidak menyahut. Matanya menatap layar drone, rahangnya mengatup rapat.

***

Jauh dari idealisme Ilham. Jagermeister duduk di balik meja kayu jati yang luas. Cahaya lampu kerja hanya menyinari permukaannya, meninggalkan sudut ruangan dalam kegelapan. Dia menerima laporan tentang serangan di Club Black Orchid di Cicendo. Di depannya tergeletak beberapa lembar foto hasil cetakan drone pengintai.

Lihat selengkapnya