TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #101

100. TRAITOR

Gerbang besi setinggi tiga meter tertutup rapat. Dua pria dengan setelan jas hitam berdiri di balik pilar beton, tangan mereka berada di dekat pinggang. Di dalam, sebuah ruang pertemuan dengan dinding kayu mahoni gelap diterangi lampu gantung yang redup. Bau cerutu dan kayu tua memenuhi udaara yang lembap.

Empat orang duduk mengelilingi meja panjang. Champagne berada di ujung meja, kemeja batiknya basah oleh keringat di bagian ketiak. Matanya merah, kantung matanya tebal. Di sampingnya, Jagermeister menyandarkan punggung, jemarinya mengetuk meja dengan ritme konstan.

Champagne duduk di ujung meja mengenakan kemeja batik mahal. Wajahnya tegang, mata lelahnya menunjukkan kurang tidur akibat serangan terus-menerus. Di sampingnya, Jagermesiter, dengan aura kekejaman yang tenang, tampak paling santai.

Tequila duduk di seberang, menyilangkan kaki. Di sebelahnya, Pisco, pria paling muda dengan setelan linen putih, memutar-mutar gelas wiskinya..

"Serpong. Itu adalah gudang kecil, Jenderal," suara Tequila rendah, bergema di ruangan yang sunyi. "Tapi itu menunjukkan dua hal: Pertama, mereka tahu di mana harus memukul. Kedua, sistem keamananmu di Jakarta rapuh."

Champagne menghantam meja dengan kepalan tangan. BRAK. Gelas wiski di depannya bergetar, cairannya tumpah sedikit ke permukaan mahoni. "Saya tahu. Itu sebabnya kita di sini. Kebocoran itu sudah saya potong."

"Dan berapa kerugian kita sebelum kau berhasil memancing mereka?" Pisco menyela, nadanya datar. "Bisnis di Bali mulai terganggu. Kita perlu stabilitas, bukan perang gerilya."

Jagermeister menegakkan duduknya. "Kalian bicara seolah-olah kita sedang kalah. Kita baru saja kehilangan liability kecil. Kita punya asset baru yang akan menggantikan kerugian itu. Justru ini saatnya kita menunjukkan kekuatan, bukan keraguan."

Champagne mengangguk, mengambil napas dalam. "Benar. Ini bukan hanya rapat krisis. Ini adalah rapat penyambutan. Saya punya kabar baik. Richard telah berhasil membuktikan dirinya. Dia adalah keponakan Jey, dan dia telah mengambil alih seluruh bisnis perjudian dan prostitusi di Jakarta, menggantikan Cyntia, anak ingusan yang jadi Brandy karena warisan ayahnya."

"Richard, masuk."

Pintu kayu ganda terbuka. Richard melangkah masuk dengan dagu terangkat. Matanya menyapu setiap orang yang duduk di meja, berhenti sesaat pada Tequila dan Pisco.

Champagne mengangkat telapak tangannya ke arah kursi kosong. "Mulai malam ini, posisi Brandy kembali terisi. Richard akan menggantikan Cyntia dan mengambil seluruh jalur perjudian, prostitusi, serta perekrutan di Jakarta."

"Cyntia duduk di meja ini karena warisan ayahnya," Pisco memutar gelasnya satu kali, menatap es batu yang beradu di dalamnya. "Sekarang keponakan Jey duduk menggantikannya. Hydra mulai jadi acara keluarga?"

"Richard nggak datang dengan tangan kosong," Jagermeister menghentikan ketukan jemarinya. "Dalam satu bulan, dia ambil alih tiga jalur taruhan yang sebelumnya dikuasai kelompok independen. Uang yang masuk dari ringnya lebih besar daripada pemasukan dua klub yang hilang di Cicendo."

"Uang gampang dicari kalau semua orang di sekitar lo dipaksa tunduk," tatapan Tequil beralih ke Richard. "Apa yang bikin kamu layak memakai nama Brandy selain hubungan darah?"

Richard berjalan menuju kursi kosong. "Sasana itu bukan sekadar tempat taruhan. Setiap petarung yang masuk ke sana punya utang, keluarga, atau rasa lapar yang bisa dipakai. Saya nggak cuma jual pertunjukan. Saya nyaring orang-orang yang bisa kita rekrut, kita beli, atau kita buang."

Tequila menyandarkan punggungnya. "Dan kalau mereka berbalik menggigit?"

"Berarti kandangnya kurang sempit." Richard menarik kursi, lalu duduk tanpa menunggu izin tambahan.

Pisco menatap Jagermeister. "Lo menjamin dia?"

"Dengan nama dan bagian gue sendiri."

Champagne mengetukkan jarinya ke meja. "Cukup. Richard sudah menghasilkan uang saat kalian masih sibuk menghitung kerugian." Ia menatap Richard. "Mulai malam ini, lo Brandy. Lo bertanggung jawab langsung kepada meja ini. Satu kegagalan besar, nama itu gue cabut sebelum kepala lo menyentuh bantal."

Richard menyeringai tipis. "Saya nggak punya kebiasaan tidur nyenyak, Jenderal."

"Selamat datang di meja utama. Buktikan kalau lo bukan cuma keponakan Jey."

Richard menyeringai tipis. "Terima kasih, Jenderal. Sasana tinju itu bakal jadi basis rekrutmen. Mereka nggak akan sadar siapa yang mukul mereka dari bawah."

Champagne menoleh ke arah pintu lagi.

"Dan untuk mengisi kekosongan logistik yang ditinggalkan Renggo di Tangerang," lanjut Champagne, menoleh ke pintu. "Gue punya orang yang sangat loyal, yang telah membantu mengkonsolidasikan aset di sana. Sanyo, masuk."

Langkah Sanyo pelan melewati pintu. Kemejanya rapi, wajahnya datar. Ia berhenti satu langkah di belakang kursi kosong yang berada di samping Richard.

Champagne menunjuknya tanpa menoleh ke kepala Hydra lain. "Wilayah Tangerang nggak boleh dibiarkan kosong lebih lama. Mulai malam ini, Sanyo memegang nama Absinthe."

Tequila memiringkan kepalanya. "Absinthe terakhir yang mengendalikan wilayah itu adalah Renggo."

Ruangan menjadi lebih sunyi.

Sanyo menatap Tequila. "Saya bukan Renggo."

"Bagus," sahut Pisco. "Karena Renggo setidaknya punya wilayah sebelum duduk di meja."

Richard tertawa kecil dari kursinya.

"Saya nggak datang buat mewarisi reputasi orang mati. Saya datang buat bikin jalur Tangerang kembali menghasilkan uang."

"Dengan apa?" tanya Tequila. "Nama kamu bahkan belum cukup besar buat bikin anak jalanan menunduk."

"Nama bisa dibangun. Jalur logistik cuma butuh orang yang tahu siapa yang harus dibayar, siapa yang harus ditakut-takuti, dan siapa yang harus dihilangkan."

Jagermeister menatap Sanyo dari samping. "Dan kalau Renggo ternyata belum benar-benar mati?"

Sanyo mengalihkan pandangannya ke Jagermeister. "Berarti wilayah itu punya dua orang yang merasa berhak berdiri paling depan." Suaranya tetap tenang. "Salah satunya akan jatuh."

Champagne menyandarkan punggungnya. "Sanyo sudah membantu membersihkan beberapa jalur yang ditinggalkan kelompok lama. Dia tahu siapa yang masih loyal dan siapa yang bisa dibeli."

Pisco mengetuk meja. "Loyal ke siapa?"

Lihat selengkapnya