TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #102

101. JEBAKAN

Angin dingin pegunungan menusuk tulang, membawa aroma tanah basah. Target Tim Hantu, yang dibocorkan Ilham kepada Jagermesiter, adalah pangkalan logistik militer tua yang diyakini menyimpan pasokan cadangan milik The Hydra. Lokasi ini dipilih karena jauh dari Jakarta dan dianggap tidak memiliki penjagaan Hydra yang intens.

Gilang, Rizal, Alee, dan Gamma bergerak dalam formasi senyap di bawah naungan malam. Gilang dan Rizal memimpin masuk ke dalam gedung utama, sementara Alee mengambil posisi penembak jitu dari menara yang bobrok. Gamma bertugas sebagai pengemudi getaway di pintu keluar.

"Gamma, posisi aman?" bisik Gilang melalui mic senyap.

"Aman, Bang. Sektor Barat hening. Nggak ada tanda-tanda pergerakan," jawab Gamma.

Gilang dan Rizal memecahkan kunci gudang utama dengan alat thermal. Begitu mereka masuk, bau debu dan kotoran langsung menyambut mereka. Ruangan itu tampak kosong, hanya ada tumpukan peti kosong dan pallet kayu.

"Ini aneh," bisik Rizal, mengarahkan senter minim cahaya. "Gudang Hydra biasanya penuh, atau seenggaknya ada penjaga di dalam."

Tiba-tiba, lampu gudang menyala secara bersamaan, menerangi ruangan itu dengan cahaya kuning yang keras dan kejam. Musik rock keras langsung menggelegar dari speaker yang tersembunyi.

Gilang dan Rizal langsung tiarap, mengambil posisi berlindung di balik tumpukan pallet.

"Tim, mundur! Kita kena ambush!" teriak Gilang.

Dari balik peti-peti kosong, lebih dari sepuluh pria bersenjata lengkap muncul, mengenakan seragam hitam tanpa identitas. Mereka bukan penjaga biasa, mereka adalah pasukan bayaran yang terlatih.

Tembakan langsung menyalak, memecah keheningan malam. Peluru menembus kayu dan besi, menghujani posisi Gilang dan Rizal.

Di menara, Alee bereaksi cepat. "Sialan! Ambush berat! Jagermister udah nunggu!"

Alee melepaskan tembakan sniper yang presisi. Satu tembakan menembus kepala leader pasukan bayaran, satu lagi mengenai bahu pria di belakangnya. Kekacauan sejenak terjadi di pihak musuh.

"Gamma! Keluar dari mobil! Alee, cover kami!" perintah Rizal, suaranya dipenuhi amarah.

Rizal dan Gilang balas menembak, namun mereka menyadari mereka kalah jumlah dan kalah posisi. Mereka dipaksa mundur ke bagian belakang gudang, mencari pintu darurat.

"Mereka tahu persis di mana kita akan masuk dan kapan," kata Gilang, mengisi ulang amunisi, darah mengalir dari luka gores di lengannya. "Ini bukan kebetulan."

"Kita harus keluar dari sini, Lang. Cepat!" desak Rizal.

Di luar gudang, Gamma yang baru saja keluar dari mobilnya, ditembaki oleh tiga pria bersenjata yang bersembunyi di balik semak-semak. Gamma membalas tembakan, tetapi ia terdesak.

Alee mengalihkan fokusnya dari gudang. Dia menembak jatuh dua penyerang Gamma, memberikan waktu bagi Gamma untuk berlari mencari perlindungan di belakang mobil getaway mereka.

"Masuk ke mobil, Gamma! Posisi gue bahaya, mobil tambahan Jagermesiter lagi gerak ke arah menara!" teriak Alee, menyadari posisinya kini terekspos.

Gilang dan Rizal berhasil meledakkan pintu belakang dan berlari keluar. Mereka disambut tembakan dari sisi yang seharusnya aman.

"Mereka tau semua jalur keluar!" teriak Rizal, merasakan peluru menyapu udara di samping kepalanya.

Mereka berlari ke arah mobil Gamma. Di saat yang sama, Alee melepaskan tembakan darurat ke tangki air dekat Gilang dan Rizal, menciptakan ledakan kecil dan kabut air tebal yang menutupi pandangan musuh, sementara Alee pergi dari posisinya, berlari sendiri karena tidak akan sempat menuju ke mobil Gamma.

Gilang dan Rizal berhasil melompat ke van Gamma, yang langsung melaju kencang meninggalkan kompleks pangkalan tua itu, diiringi suara tembakan yang menggelegar di belakang mereka.

Gamma membanting persneling, memaksa van melewati jalan berbatu di antara pepohonan. Bagian belakang mobil bergeser liar saat ban menghantam kubangan tanah yang dipenuhi air hujan.

Gilang menoleh ke kaca belakang. Cahaya lampu kendaraan musuh bergerak keluar dari gerbang kompleks, menyebar ke dua arah. "Beta belum masuk."

Gamma mengangkat perangkat pelacak kecil dari konsol tengah. Empat titik muncul di layar. Tiga bergerak bersama van. Satu titik lain berkedip beberapa ratus meter di sisi timur kompleks. "Beacon Beta masih aktif. Dia bergerak ke arah titik ekstraksi cadangan."

"Putar balik," perintah Gilang.

Rizal menahan sandaran kursi depan. "Kalau kita balik sekarang, semua mobil di belakang ikut masuk ke jalur Alee."

"Gue nggak bakal ninggalin anggota gue."

"Dia sengaja menjauh dari rute van." Rizal menunjuk titik yang bergerak sendiri di layar. "Alee lagi narik sebagian mereka ke arah lain. Lo balik, pengalihannya sia-sia."

Dua sorot lampu muncul dari tikungan di belakang mereka. Peluru menghantam pintu belakang van, meninggalkan lekukan baru pada lapisan baja.

Lihat selengkapnya