TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #103

102. AJAT

Hujan deras mengguyur atap seng gudang. Bunyi air menabuh logam mengaburkan suara statis dari balik radio. Di dalam gudang, lampu neon berkedip tiga detik lalu mati. Cahaya kilat menyambar lewat celah dinding menerangi gudang sesaat sebelum lampu menyala lagi.

Tiga monitor Chacha mati satu persatu. Kipas prosesor berhenti berputar. Pantulan wajahnya terlihat saat petir menyala. Matanya merah. Kelopak bawahnya membengkak.

Ajat berdiri di sudut. Punggungnya menempel ke tiang besi. Senapan serbu di tangannya terangkat, moncong mengarah ke pintu utama. Kayu senjata itu usang, larasnya mengilap, bebas karat.

"Dua puluh menit," suara Chacha serak. "Kak Gilang nggak balas mic sejak dua puluh menit lalu." Ia menekan tombol di telinganya. "Terakhir cuma bilang jebakan."

Ajat tidak menoleh. Matanya tetap terpaku ke arah pintu.

Pintu besi berderit, Pak Rudi melangkah masuk. Jas hujannya basah, menetes ke lantai semen. Ia melepas jaket, melipatnya, lalu meletakkan di bawah meja kayu.

"Mereka lolos. Nyaris." Pak Rudi meletakkan radio portabel di atas meja kayu. "Jagermeister sudah nunggu di Bandung. Tahu persis jam dan titik masuk."

"Cuma beberapa orang yang tahu rencana itu, Pak." Chacha menoleh. "Dan yang punya akses penuh ke jaringan kita di Bandung cuma Kak Ilham."

Pak Rudi meraih kursi lipat, membukanya. Bunyi besi kursi terdengar keras di ruangan yang sunyi.

"Ilham idealis, Cha. Tapi dia nggak sebodoh itu buat jual kita," Pak Rudi duduk di samping Chacha. "Tapi kebocoran ini terlalu sempurna."

Pak Rudi menoleh ke Ajat. "Ajat, gimana perimeter Timur?"

Ajat mengangguk. "Timur aman. Nggak ada gerak-gerik aneh dari sore."

Dari lorong belakang, Daeng baru keluar dari kamar mandi, melintasi ruang utama tanpa bicara, menuju gudang belakang. Sepatu bootnya meninggalkan jejak basah di lantai semen. Ponsel Daeng bergetar saat ia melewati lorong. Daeng mempercepat langkahnya menuju belakang gudang,

"Mereka akan selamat, Cha. Kamu nggak perlu khawatir," Pak Rudi menggenggam bahu Chacha.

"Semoga, pak," Chacha meletakkan dagunya di atas meja, jemarinya menekan tombol keyword.

Pak Rudi menoleh ke arah lorong menuju gudang belakang. "Daeng terlalu lama." Ia berdiri. Kursi lipatnya terlipat kembali dengan bunyi brak. "Ajat, tolong periksa. Jangan sampai dia ngutak-atik server cadangan kita."

Ajat mengangguk. Ia melepas safety senapannya. Lalu berjalan menuju lorong.

Langkah sepatu boot-nya hampir tidak berbunyi di lantai semen. Tangan kirinya meraba dinding, tangan kanan masih memegang senapan. Ajat mengaktifkan alat perekam suara kecil dari saku jaketnya.

Ia melewati tumpukan peti pertama. Kedua. Ketiga.

Di gudang belakang. Cahaya masuk dari sela-sela dinding yang bocor. Di balik peti-peti terakhir, Ajat melihat Daeng sedang berbicara di ponsel.

"Jangan telepon di jam begini," bisik Daeng.

"Gue udah dengar dari Jagermeister. Ambush di Bandung berjalan lancar. Tim Hantu terpukul mundur," Suara Pisco terdengar dari speaker ponsel. Memantul di dinding peti kayu.

"Lo udah siapin counter?" lanjut Pisco

"Tenang," jawab Daeng. "Biar dia yang kelihatan panik. Lo fokus ke Tequila. Sisanya urusan gue." Daeng menekan ponsel lebih erat ke telinga.

"Jangan khawatirin Tequila. Yang gue khawatirin lo. Lo harus pastikan semua jejak bersih. Jangan sampai ada yang curiga."

Daeng tidak menjawab. Ia menoleh ke kiri, ke kanan.

Lihat selengkapnya