TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #104

103. RUMAH AMAN

Villa yang dulu di beli Renggo saat menjadi Abshinte, tersembunyi di balik deretan pohon pinus yang menjulang rapat. Kabut turun sejak sore, menelan pagar kayu dan jalan berbatu yang menghubungkan dengan jalan raya. Dari kejauhan hanya terdengar desir angin pegunungan dan sesekali suara tonggeret memecah kesunyian.

Lampu teras yang redup masih menyala, memantulkan cahaya kekuningan ke halaman yang basah oleh embun. Sebuah ayunan kayu di bawah pohon pinus bergerak perlahan diterpa angin, gazebo menghadap lembah berdiri sunyi tanpa penghuni. Di balik kabut, kelap-kelip lampu vila lain tampak samar seperti bintang yang jatuh ke lereng gunung.

Ruang tamu villa dipenuhi aroma kayu pinus yang mulai lembap. Bau kopi basi bercampur darah kering dari luka Gilang memenuhi ruang keluarga yang dulu terasa hangat. Perapian batu di sudut ruangan telah lama padam, menyisakan abu hitam di dasar tungkunya.

Ruangan itu berubah menjadi ruang operasi sederhana. Peta-peta ditempel sembarangan di dinding menggunakan lakban. Benang merah menghubungkan nama demi nama. Meja panjang dipenuhi foto, dokumen, laptop, serta coretan spidol hitam dan merah yang saling bertumpuk. Dua cangkir kopi yang telah dingin dibiarkan di atas meja.

Di kamar paling belakang, Alee duduk di tepi ranjang lipat. Jaket taktisnya masih basah di bagian bahu. Sepasang earphone terpasang di telinganya, tersambung ke alat perekam Ajat di telapak tangannya.

Suara statis memenuhi kepalanya. "Ya, Pisco? Jangan telepon di jam begini..."

Alee menunduk. Ia sudah mendengar rekaman itu lebih dari sepuluh kali sejak meninggalkan gudang. Setiap putaran selalu berhenti di bagian yang sama.

Suara benturan. Napas Ajat yang terputus-putus, lalu suara Daeng.

"Lo nggak ngerti apa-apa, Jat-"

Beberapa detik kemudian, suara tembakan memecah statis.

Alee menghentikan rekaman. Ia menunduk, menatap tas kecil di samping kakinya. Dari dalamnya, sudut amplop cokelat menyembul keluar. Di dalam amplop tersimpan foto lama ayahnya yang diberikan Daeng.

Tangan Ale bergerak mengeluarkan foto itu. Ia membalik foto, membaca tulis tangan Daeng di belakang foro.

Krugger sebelum Champagne.

Pandangan Alee beralih ke pintu kamar. Dari halaman belakang suara Rizal terdengar menyuruh Chacha bersiap latihan.

Alee memasukkan foto itu kembali ke amplop. Ia menyambungkan alat perekam ke laptop kecil di atas lantai. Satu salinan audio dipindahkan ke flashdisk hitam, kemudian dienkripsi menggunakan kata sandi yang hanya ia ketahui. Setelah proses selesai, Alee memasukkan flashdisk ke lapisan dalam rompinya. Alat perekam asli tetap berada di tangannya.

Pintu kamar terbuka. Gilang berdiri di ambang pintu. Perban di bahunya dipenuhi bercak merah baru. "Lo nemuin sesuatu di gudang?"

Alee menggenggam alat perekam di tangannya. "Pola tembakannya aneh."

"Seaneh apa?"

"Ajat ditembak setelah dia jatuh. Bercak darahnya nggak sejajar sama peluru di bahu."

Gilang masuk satu langkah. "Ada yang lain?"

Alee menatap wajah Gilang, genggamannya mengendur. Sudut alat perekam terlihat di antara jemarinya. Ia segera memasukkannya ke saku jaket. "Belum ada yang bisa gue buktiin."

Gilang menatap saku jaket, lalu kembali menatap mata Alee. "Kalau lo nemu sesuatu, jangan simpan terlalu lama."

Alee mengangguk. Gilang berbalik meninggalkan kamar.

Alee menekan telapak tangannya ke saku tempat alat perekam disimpan. "Gue nggak akan kubur lo, Jat," bisiknya. "Gue cuma butuh waktu."

Alee bangkit, berjalan menuju halaman belakang.

Gilang sudah duduk di kursi lipat logam, tubuhnya merosot ke belakang. Tangannya tidak gemetar saat menekan perban di bahunya. Matanya menyipit menatap Rizal berteriak ke Chacha.

Rizal berdiri di atas matras. Ia memaksa Chacha melakukan push-up. Push-up ke-46, tangannya goyah. Chacha terengah-engah. Tangannya gemetar menahan tubuhnya sendiri. Setiap kali ia turun, sikunya melebar.

"Tarik napas, Cha! Lebih rendah!" Rizal menginjak lembut punggung Chacha menahannya turun.

Chacha mencoba mengangkat tubuhnya yang ke-47 kalinya, tangannya gemetar, lututnya ambruk. Ia kembali ke posisi awal. Wajahnya menyentuh tanah basah.

"Kamu nggak bisa lari 100 meter tanpa ngos-ngosan, Cha. Besok kalau kita kena ambush lagi, Kamu mati pertama," bayangan Rizal menutupi tubuh Chacha yang meringkuk.

Chacha mencoba duduk, napasnya putus-putus. "Chacha bukan tentara, Kak. Chacha cuma-"

"Cuma apa?" potong Rizal. "Di medan tempur, nggak ada status cuma. Cuma ada hidup atau mati!"

Alee melangkah cepat, berdiri di antara Rizal dan Chacha. Rahangnya mengeras. Urat di lehernya menonjol. "Dia bukan prajurit lo, Zal. Dia otak kita. Kalau dia patah, kita semua mati," Alee menatap Rizal. "Peralatan kita hancur. Yang tersisa cuma otaknya. Kalau lo paksa dia jadi Rambo, dia akan jadi mayat Rambo."

Rizal membalas tatapan Alee, matanya menyipit. "Otak tanpa badan cuma jadi target mahal"

"Cukup," potong Gilang dari kursi lipatnya. Ia menyeka darah kering di bahunya. "Chacha istirahat. Dia udah kerja 72 jam non-stop. Kita butuh otaknya hidup, bukan badannya bugar."

Rizal mendengus, menarik diri ke sudut, membersihan pistol genggamnya. Alee berjongkok di samping Chacha. Sebotol air dingin ditempelkan ke pipi Chacha sebelum memberikannya.

"Dengerin Abang lo," bisik Alee. Tangannya yang lain menekan lembut bahu Chacha. Lalu mengulurkan pisau lipat kecil, bilahnya ramping dan tajam.

Chacha menatap pisau itu, lalu ke Alee.

"Latihan lo bukan lari 5 km. Latihan lo cuma lari cepet, tusuk cepet, kabur cepet," jelas Alee. "Lo cuma butuh 3 detik buat bunuh orang, bukan 3 jam buat jadi Rambo. Pisau ini nggak buat baku hantam, Cha. Ini buat one time use. Buat lari. Buat jaga diri lo sendiri saat kami jauh."

Chacha menerima pisau itu. Jari-jarinya menggenggam gagang logam yang dingin. Ia mengangguk. Matanya tidak berkedip.

Ponsel Chacha di atas bangku kayu bergetar. Ia meraihnya, membuka pesan masuk dari Pak Rudi.

Kontak lama saya belum mau buka jalur. Saya masih di luar. Daeng tidak pernah sampai ke titik pertemuan kedua. Jangan tinggalkan rumah aman sampai saya kembali.

Chacha membaca pesan itu dua kali.

"Pak Rudi?" tanya Gilang.

Lihat selengkapnya