"Duduk dulu," Gilang menatap luka memar di tubuh Riki.
"Gue nggak datang buat duduk."
"Kalau lo datang cuma buat mati, pintunya masih terbuka, lo bisa keluar sekarang."
Riki menatap Gilang. Otot rahangnya bergerak saat ia mengatupkan gigi.
Rizal bangkit dari meja dan berdiri di samping Gilang. "Lo lihat Sisilia?"
Riki mengangguk. "Di lantai dua. Di balik kaca VIP. Richard sengaja bikin gue lihat dia."
"Yakin itu dia?"
"Gue tahu cara dia berdiri."
Riki menarik kursi. Kedua tangannya menekan sandaran sampai kayunya berderit. "Dia hamil, tapi Richard masih bawa dia ke tempat kayak begitu."
"Richard lagi pakai dia sebagai tali," ucap Alee. "Selama mata lo cuma ngikutin Sisilia, dia bisa narik lo ke mana pun."
Riki menatap Alee. "Gue nggak peduli."
"Lo harus peduli," balas Gilang. "Kalau Richard mati sebelum Sisilia keluar, orang-orangnya bisa pindahin dia atau bunuh dia buat nutup jejak."
Riki menggebrak sandaran kursi. "Terus gue harus tunggu dia dipukulin?"
"Lo harus bikin Richard percaya lo masih masuk ke permainannya," kata Rizal. "Bukan bikin dia tahu kita akan datang."
Robi meletakkan tas ranselnya di lantai. "Mereka sudah kasih jadwal pertarungan kedua. Besok malam. Lawannya belum dikasih tahu."
"Lokasi sama?" tanya Chacha.
Robi mengangguk. Ia mengambil kertas kusut dari sakunya, lalu membukanya di atas meja.
Denah kasar tergambar dengan tinta pulpen, ruang ganti petarung, lorong sempit, tangga servis, lift barang, dan ruangan VIP.
"Gue lihat waktu mereka bawa Riki keluar," jelas Robi. "Petarung masuk lewat pintu selatan. Bandar sama tamu VIP lewat basement. Richard datang dari lift barang ini."
Robi menunjuk satu kotak kecil di lantai dua.
"Kalau Sisilia masih di sana, dia kemungkinan ada di ruang tunggu belakang kaca. Cuma ada satu pintu. Dua penjaga tetap."
"Lo bisa buka jalurnya?" tanya Gilang.
"Gue punya kartu akses petugas sudut ring. Cuma sampai lorong pertama." Robi menunjuk garis lain. "Sisanya harus dipaksa."
Riki akhirnya duduk. "Gue masuk ring. Begitu Richard muncul, gue naik ke lantai dua."
"Lo tetap di ring sampai kami kasih sinyal," kata Gilang.
"Bukan lo yang atur kapan gue ambil Sisilia."
"Kalau lo bergerak terlalu cepat, dia mati."
Ruangan mendadak sunyi. Riki menatap Gilang cukup lama, lalu mengalihkan wajahnya.
Ponsel Robi bergetar di dalam saku.
Ia menariknya sedikit. Notifikasi tanpa nama muncul di layar. Hanya satu tanda titik terlihat di bagian atas percakapan.
Robi mematikan layar, membalikkan ponselnya di atas meja.
Rizal melirik ke aeah Robi. "Siapa?"
"Bandar," jawab Robi. "Nanyain Riki jadi tanding lagi atau nggak."
"Jawab nanti," kata Gilang.
Robi mengangguk.
Gilang menarik semua orang, termasuk Ilham, ke meja kayu tua yang ditutupi oleh peta kertas besar Jakarta. Chacha menyalakan lampu meja yang redup, menerangi peta.
Gilang mengambil spidol merah. Garis tebal itu membelah peta dari utara ke selatan, berhenti di markas Richard.
Rizal mengambil spidol lain. Ia menggambar garis tebal ke markas Jagermeister di Bandung.
Chacha mengambil spidol terakhir. Ia menggambar garis tipis, hampir transparan, ke kantor pusat Champagne, jantung organisasi, di Jakarta Pusat.
Semua diam. Bau kopi, mesiu, dan darah terasa mencekik. Hanya suara hujan yang keras di atap yang memecah keheningan.
Gilang menutup spidolnya. Ia menatap wajah Rizal, lalu Riki, dan terakhir ke Alee yang berdiri mematung di sudut.
"Besok malam, Jakarta terbakar."
Robi beranjak dari sisi meja. "Tunggu."
Gilang menoleh ke arah Robi.
"Ada satu hal lagi." Robi meraih ponsel. Ia membuka galeri, lalu meletakkan layar di tengah meja. Foto buram lembar jadwal kendaraan yang ditempel di dinding ruang petugas sasana.
Beberapa baris berisi nomor kendaraan, jam keberangkatan, dan kode lokasi. Satu baris dilingkari tinta hitam.
R - 23.40 - BLOK C-17
"Besok setelah pertandingan Riki, Richard nggak langsung pulang," jelas Robi. "Dia dijadwalin pergi ke kompleks pergudangan, tiga blok dari sasana."
Rizal menarik ponsel mendekat. "Lo dapat ini dari mana?"
"Ruang koordinator petarung. Pintu ruangannya kebuka waktu gue ambil es buat luka Riki." Robi menunjuk bagian bawah foto. "Gue dengar sopir Richard ngomong sama kepala keamanan. Mereka disuruh kosongin Blok C-17 mulai jam sebelas malam."