Suara air menghantam atap seng ring tinju di pinggir Kali Ciliwung. Air hujan jatuh dari sepuluh titik di atap seng, membasahi lantai. Debu, darah kering, keringat bercampur di genangan. Bau anyir menempel di udara.
Lampu neon merah dan kuning berkedip tidak sinkron. Bayangan penonton melonjak di dinding setiap petir menyambar. Suara mereka pecah, satu tertawa, satu berteriak, sisanya hanya menunggu.
Riki berjalan lebih dulu. Dia tidak melihat penonton. Tidak melihat ring. Langkahnya lurus. Robi tertinggal setengah langkah di belakangnya. Ia terus meraba ransel di punggungnya.
Sebelum sempat naik ke ring, Riki dicegat dua pria berbadan besar mengenakan jaket kulit hitam.
"Nggak sekarang, Riki," kata salah satu pria. "Bos mau ketemu lo duluan. Sekarang."
Riki tidak melawan saat tangannya diikat. Ia hanya menunduk sedikit, membiarkan dirinya ditarik menjauh dari ring. Robi menunduk, mengikuti langkah mereka.
Salah satu pria berjaket kulit mengangkat lengannya, menahan dada Robi. "Petarung aja."
Robi menatap Riki sudah ditarik menuju tangga besi. "Gue cornerman-nya."
"Bos nggak manggil lo."
Riki menoleh dari bahunya. Tatapannya bertemu dengan Robi.
"Gue tunggu di bawah," kata Robi.
Riki tidak menjawab. Dua pria itu membawanya melewati kerumunan, lalu menghilang di balik pintu besi di ujung tangga.
Robi berdiri beberapa detik di tempatnya. Suara penonton menelan bunyi langkah Riki yang semakin jauh.
Tangannya kembali meraba ransel. Ia berjalan menuju sisi belakang tribun, melewati tumpukan krat minuman dan tong sampah yang dipenuhi botol pecah. Lorong sempit memisahkan bangunan ring dengan deretan gudang di belakangnya.
Robi membuka ranselnya. Ia menatap handuk, botol air, perban. Jemarinya menyalakan ponsel kecil yang tidak pernah ia gunakan di depan Riki.
Satu percakapan tanpa nama sudah terbuka di layar. Robi mengetik satu pesan.
Riki sudah masuk. Richard ambil dia sebelum pertandingan.
Balasan muncul beberapa detik kemudian.
Biarkan.
Robi menatap satu kata itu cukup lama. Jempolnya kembali bergerak.
Tim Hantu masih percaya C-17. Mereka bergerak malam ini.
Pesan terkirim. Balasan berikutnya datang lebih cepat.
Tetap di sasana. Jangan dekati pergudangan.
Robi mengunci layar. Bunyi benda pecah terdengar dari lantai atas, disusul suara seseorang berteriak. Ia memasukkan kembali ponsel ke dalam ransel.
Robi menarik resleting sampai tertutup. "Lo milih jalan lo sendiri, Ki." Ia menyampirkan ransel ke bahu, kembali menuju ring.
Riki dibawa menembus kerumunan, menaiki tangga besi berkarat di belakang ring, menuju ruangan yang lebih besar dan kotor. Di antara tumpukan drum oli, tumpukan besi tua, dan peralatan ring yang tidak terpakai, Richard duduk di atas kursi reclining mewah. Di belakangnya, berdiri Sisilia, istrinya, yang wajahnya kini pucat, dipenuhi ketakutan dan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.
"Riki," sapa Richard, suaranya tenang, nyaris lembut. "Lama nggak ketemu. Ngapain lo masuk ke sini? Bukannya bisnis kedai kopi lo udah sukses?"
Riki dihempaskan ke lantai beton, di depan kaki Richard. Tali di tangannya diikatkan ke pilar besi yang berkarat.
"Lo pikir gue nggak tahu lo lagi nyari Sisilia? Lo pikir gue bodoh?" Richard menyesap cognac di tangannya, membiarkan Riki menahan rasa sakit.
"Gue nggak peduli sama lo, Richard," balas Riki, mendongak. "Gue cuma mau dia." Riki menatap Sisilia, yang air matanya sudah menetes deras, dan memohon maaf.
"Oh, Lo mau dia?" Richard tertawa kecil. Ia mengelus lembut perut Sisilia yang terlihat membuncit. "Dia nggak lagi sepenuhnya milik Lo, Riki. Dia membawa warisan terbaik lo, dan sekarang dia milik gue."
Richard bangkit dari kursinya. Ujung sepatunya menyentuh dagu Riki, mengangkat wajahnya sedikit. "Lo menang lawan Gorila, terus lo pikir lo berhasil buka jalan ke gue?"
Riki menatap Richard tanpa berkedip.
Richard tersenyum. "Gue yang buka pintunya." Ia berjalan memutari tubuh Riki yang terikat di pilar. "Gue yang suruh mereka daftarin nama lo. Gue yang pilih lawan pertama lo. Gue juga yang pastiin lo bisa lihat Sisilia dari ring."
Riki mengatupkan rahang.