Gedung perkantoran enam lantai itu berdiri di bagian belakang kompleks pergudangan C-17, tersembunyi di antara deretan gudang tua dan kontainer berkarat. Bangunan itu telah lama ditinggalkan. Dindingnya retak, jendelanya pecah, lantai dasarnya penuh genangan air hujan yang keruh, memantulkan cahaya lampu kota yang jauh. Di lantai atas, kabel-kabel listrik putus menjuntai seperti ular mati, dan besi-besi konstruksi berkarat menjulur keluar.
Petir menyambar setiap beberapa detik. Kilat tajam yang membelah gelap, diikuti dentuman yang membuat rangka gedung bergetar. Setiap kilatan menyala, bayangan orang-orang di dalam gedung membesar, berubah menjadi siluet hantu raksasa.
Di luar, mobil-mobil hitam milik Champagne parkir rapi di gang sempit. Lampunya mati total.
Gilang, Rizal, Gamma dan tiga rekrutan baru yang didapat Pak Rudi masuk melalui pintu loading dock yang telah dirobohkan. Genangan air di lantai dasar memercik saat sepatu bot mereka menginjak beton yang becek.
"Terlalu sepi. Gue nggak suka," ucap Gilang pelan melalui mic komunikasi yang terpasang di headset. Ia berhenti satu langkah. Tangannya mengencang di senjata. Ia melangkah lagi.
Rizal berjalan belakangnya, membalas melalui mic. "Lo curiga tiap kali sepi, Lang. Ini markas kosong yang Robi bilang jadi tempat pertemuan."
"Perimeter aman," lapor di posisi overwatch sementara di atap gedung sebelah. "Nggak ada mobil masuk dua jam terakhir."
Bunyi tetesan air menetes dark plafon mengisi kesunyian. Suara napas mereka terdengar terlalu keras. Tim berjalan masuk lebih dalam, melintasi genangan air di bawah langit-langit yang bocor. Mereka mulai menaiki tangga besi yang sempit menuju lantai dua.
Lampu di seluruh gedung mati total. Kegelapan mutlak menyergap mereka, dipotong hanya oleh kilatan petir. Lalu, terdengar suara klik dari speaker tua yang tersisa di langit-langit lantai dasar. Bunyi statis mengiringi suara yang dingin, diputar melalui pengeras suara internal gedung.
"Selamat datang di kuburan kalian," suara Champagne terdengar dari pengeras suara.
Tembakan pertama menyalak. Bukan dari depan, bukan dari samping, melainkan dari lantai tiga. Satu rekrutan Pak Rudi langsung ambruk, darahnya menyembur ke dinding beton di samping tangga.
Gamma menjerit. "DARI ATAS!"
Rizal menembak balik ke arah bayangan yang ia lihat di lantai tiga.
Suara tembakan kedua dari jendela di lantai yang lebih tinggi menyalak. Peluru menembus dada Gamma. Gamma terhuyung. Tangannya meraih udara. Lalu jatuh, tubuhnya menghantam genangan air dengan bunyi keras.
Tembakan datang dari lantai atas, lantai dasar di belakang mereka, dan dari jendela-jendela yang pecah di samping.
Gilang menembak balik ke lantai tiga. Ia tertembak di perut dan paha. Darah muncrat ke dinding di sampingnya, bercampur dengan air hujan yang menetes. Gilang ambruk, senjatanya terlepas dari tangan.
"LANG!!" Rizal menerobos hujan peluru, menarik Gilang, menyeret tubuhnya yang berat ke balik tumpukan meja besi.
Rizal menembak balik gila-gilaan ke arah bayangan yang bergerak di lantai atas, sambil berteriak melalui mic yang kini penuh statis. "ALEE! COVER! GAMMA! GRANAT!" Ia menoleh ke belakang, menemukan Gama tergeletak tak bergerak di genangan air. "Alee! Kita terkunci! Kita butuh bantuan!" teriak Rizal lagi.
Alee mulai menembak presisi ke jendel yang ada di lantai empat dan lima, mencoba mengurangi tekanan pada Gilang dan Rizal. Setiap tembakan Alee memecahkan kaca, melumpuhkan satu demi satu.
Rizal mencari sesuatu di saku rompi Gamma. Ia menemukan granat asap kecil. Ia menarik pinnya, melempar granat itu ke lorong utama lantai dua. Granat meledak kecil, kabut tebal hijau menutupi pandangan musuh, memberi waktu Rizal memeriksa luka Gilang.
Dua rekrutan Pak Rudi muncul dari balik lorong samping. Salah satunya merunduk di belakang pilar beton, menembakkan rentetan pendek ke arah tangga lantai tiga.
Rekrutan lainnya berlari menghampiri Rizal. "Pintu utama sudah ditutup! Ada jalur servis di belakang ruang panel!"