TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #108

107. TEQUILA

Hujan telah mereda, meninggalkan jalanan Jakarta yang basah dan memantulkan lampu neon kota. Udara dingin, dan di antara bau aspal basah, masih tersisa aroma mesiu yang menusuk tenggorokan.

Rizal menyeret Gilang sejauh mungkin dari gedung perkantoran tua. Gilang tidak sadarkan diri, napasnya dangkal dan cepat. Darah Gilang yang terus mengucur dari perut dan pahanya terasa panas di tangan Rizal. Rizal sendiri nyaris kehabisan tenaga, rompinya robek di beberapa tempat, setiap tarikan napasnya terasa menusuk di sisi rusuk, seperti ada sesuatu yang bergeser di dalam sana.

Ia berhasil mencapai mobil van tua yang mereka parkir jauh. Rizal membaringkan Gilang di jok belakang.

"Kita harus cepat, Lang. Jangan mati di sini," bisik Rizal, suaranya serak.

Rizal mengemudi dengan liar, melanggar semua rambu lalu lintas, menuju satu-satunya tempat yang ia yakini aman. Pak Rudi selalu mengurus hal-hal yang tidak bisa disentuh langsung oleh Tim Hantu.

Di sepanjang perjalanan, Rizal terus mencoba menghubungi Alee dan Chacha, saluran komunikasinya hening.

"Jangan sampe gagal, Lee," bisik Rizal.

Rizal tiba di gudang penyimpanan di pinggiran Jakarta. Ia membunyikan klakson tiga kali, kode rahasia yang telah disepakati. Pintu gudang terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Pak Rudi yang tegang.

Mereka membawa Gilang ke lantai bawah gudang, fasilitas medis rahasia yang terawat baik. Seorang dokter cekatan, dibantu dua perawat, mengambil alih.

"Peluru bersarang di perut, satu lagi di paha. Kehilangan banyak darah. Kita butuh transfusi secepatnya," kata Dokter itu.

Rizal berdiri di sudut, menonton Gilang yang terbaring tak berdaya di meja operasi darurat.

"Gimana yang lain?" tanya Pak Rudi, setelah memastikan Gilang stabil.

Rizal menggeleng. "Gamma mati. Rekrutan yang lain juga. Kami disergap habis-habisan. Kami diset oleh... seseorang."

Rizal teringat pada Robi, yang bertugas memancing Richard. Ia juga teringat pada laporan Alee tentang kecurigaan Daeng.

"Chacha dan Alee... mereka ada di rumah aman Jagakarsa. Alee pasti udah bawa Chacha pergi," kata Rizal, menatap pintu keluar gudang. "Saya harus bergerak. Kalau kita cuma bertahan, kita akan mati satu per satu. Kita harus nyerang dari tempat yang nggak mereka duga."

"Maksudmu?"

"Batam. Saya harus bertemu Tequila."

Pak Rudi terdiam sejenak. "Tequila? Kepala Hydra Batam? Itu gila. Hydra emang lagi ada konflik internal, tapi mereka tetap musuh."

"Tepat," balas Rizal, matanya dingin. "Champagne nusuk Hydra dari dalam. Tequila pemain lama, dia pasti nggak suka kekacauan ini. Saya akan datang dengan satu hal yang dia inginkan."

"Ini sangat berisiko. Kalau Tequila menusukmu-"

"Saya harus ambil risiko itu, Pak. Ini satu-satunya cara untuk menghentikan Champagne sebelum dia ngabisin kita semua, termasuk Gilang dan Chacha. Tolong, siapkan jalur ke Batam. Saya nggak bisa menunggu."

Dua puluh empat jam kemudian, setelah membersihkan diri dan memastikan Gilang masih stabil di bawah pengawasan Pak Rudi, Rizal terbang ke Batam menggunakan identitas palsu yang sudah disiapkan pak Rudi.

Begitu ia duduk di bangku pesawat, ia jatuh ke kursi, kepalanya terantuk jendela pesawat yang dingin. Ia mencoba tidur, tetapi otaknya terus memutar ulang baku tembak di Jakarta. Ia melihat wajah Gama yang tersungkur. Ia mengingat jeritan rekrutan baru yang ia sendiri tidak ingat namanya.

Setelah sampai di Bandara Hang Nadim, Rizal harus memulai perjalanan lagi melalui perairan menuju lokasi Tequila. Perjalanan itu sunyi dan menegangkan. Rizal duduk sendirian di kabin kapal, membersihkan senjata dan mengecek amunisinya berulang kali.

Di kabin kapal yang sempit, hanya suara mesin dan air yang memukul lambung. Tidak ada suara Alee. Tidak ada Gilang yang menggerutu. Tidak ada Riki. Nama-nama itu berputar di kepalanya tanpa urutan, tanpa jawaban. Bahkan Robi pun hanya muncul sebagai bayangan yang tidak ingin ia sentuh terlalu lama. Satu-satunya yang ia pegang adalah janji samar dari Irish, bahwa Tequila adalah orang lama yang tidak suka dengan keributan yang diciptakan oleh Champagne.

Kapal itu berlabuh di dermaga rahasia yang dikelilingi hutan mangrove. Rizal berhadapan dengan dua orang berbadan besar yang berpakaian kasual, namun mata mereka tajam dan waspada.

"Berhenti! Siapa Anda?" tanya salah satu pria itu dengan nada rendah.

"Mantan Abshinte, saya ingin bertemu dengan bos kalian, Veronica menyampaikan salam." jawab Rizal, mengangkat tangan, menunjukkan bahwa ia tidak bersenjata.

"Ikut kami."

Mereka membawa Rizal menembus hutan, menuju sebuah kompleks perumahan mewah di pinggir pantai. Kompleks itu dijaga ketat, jauh lebih rapi dan terorganisir daripada markas Hydra mana pun di Jakarta.

Lihat selengkapnya