Rumah aman Jagakarsa berbau ozon. Bau perangkat yang dipaksa bekerja melebihi batas. Laptop darurat memantulkan cahaya ke mata Chacha yang merah. Alee mengenakan pakaian gelap kasual, menyelipkan bilah kecil ke lengan, merapikan jaket, lalu memastikan beban dingin di punggungnya tidak terlihat dari luar. Sebelum pergi, ia membersihkan alat perekam suara kecil milik Ajat dua kali.
"Jalur ke Aban udah gue dapat," bisik Chacha, suaranya parau. "Dia masih ngelola bengkel Red Viper di dekat pasar Parung, Bogor. Nggak ada jejak digital, gue butuh waktu seharian buat nemuin dia. Tapi pergerakannya ada."
"Bagus," kata Alee, ekspresinya datar.
Chacha menoleh. "Richard?"
"Richard gampang. Dia cuma mengikuti naluri binatangnya," jawab Alee, memasukkan bilah pisau ke dalam sarungnya. "Dia cuma bisa nonton petarungan di ring gelap. Kita tunggu sampai dia lengah, saat dia euforia, kita hajar dia di sana. Richard cuma alat, bukan otak."
"Gue akan lacak jadwalnya melalui celah di situs pertarungan mereka," jari-jari Chacha bergerak di atas papan ketik.
Alee menatap Chacha. "Lo jangan gerak. Tetap di sini sampai Rizal balik. Jangan percaya siapa-siapa, Cha."
"Kak Gilang nyuruh lo balik buat jagain gue."
Tangan Alee berhenti saat merapikan ujung jaketnya. "Gue tahu."
"Terus kenapa lo pergi?"
Alee menatap pintu. "Kalau gue cuma duduk di sini, Daeng keburu bersihin semua jejak."
"Daeng atau ayah lo?"
Alee menoleh cepat.
Chacha tetap duduk di depan laptop.
"Lo mau cari pengkhianat. Atau lo masih nyari alasan buat percaya sama Daeng?"
Rahang Alee mengeras. "Gue harus tahu dia berdiri di mana."
"Kalau jawabannya ternyata bukan di pihak kita?"
Alee menyentuh saku jaket tempat alat perekam Ajat disimpan. "Baru gue ambil keputusan."
"Dan selama lo belum ambil keputusan, gue ditinggal sendirian?"
Alee berjalan mendekat ke meja. Ia meletakkan satu magasin cadangan di samping laptop Chacha, lalu menunjuk pisau lipat di dekat tangannya. "Pintu jangan dibuka."
"Bukan itu jawabannya."
"Gue nggak punya jawaban yang bakal bikin lo setuju."
Chacha menunduk, lalu kembali menatapnya. "Kalau sesuatu terjadi di sini, Kak Gilang bakal nyalahin lo."
Alee menarik napas pendek. "Gue bakal balik sebelum sesuatu terjadi."
Chacha tersenyum tipis. "Semua orang selalu bilang begitu sebelum pergi."
Alee terdiam beberapa detik, lalu berbalik menuju pintu. Ia berhenti di depan pintu. "Selama gue pergi, jangan percaya siapapun."
"Lo juga, Lee," kata Chacha dari belakang. "Jangan percaya siapa-siapa. Lo tahu siapa yang gue maksud."