Alee terikat kuat di kursi logam, basah kuyup oleh air yang disiramkan Aban. Kepalanya berdengung. Darah mengering di sudut mulutnya, lengket tiap kali ia menjilat bibir.
Di sekelilingnya, gudang kecil berbau oli dan besi tua. Di belakang punggung Aban, sebuah papan kayu dipenuhi kliping koran, diagram hubungan, dan foto-foto buram wajah Daeng dan di tengahnya, wajah Alee.
Aban berdiri tegak, bayangannya memanjang dan menyusut di bawah lampu bohlam tunggal.
"Lo liat papan itu!" Aban menunjuk kliping berita tentang penyerangan markas Wild Liar dan Black Ribal. "Krugger nggak tersentuh, om lo nggak tersentuh."
Sudut bibir Alee terangkat sedikit. Rahangnya berdenyut. "Itu karena lo bego. Lo ngejar orang yang salah."
Bug
Pukulan Aban mendarat keras di pipi Alee.
"Lo bisa seharian gebugin gue, atau lo bisa bunuh gue di sini," ucap Alee, suaranya parau dan bergetar. "Tapi itu nggak akan pernah bisa bayar dendam Aurell."
Aban menarik kerah baju Alee, matanya memerah. "Kenapa? Kenapa Krugger harus ancurin hidup Aurell?! Kenapa?!"
Cengkeraman Aban mengeras, lalu berhenti. Tekstur kerah itu berubah di bawah jarinya. Terlalu halus, terlalu familiar. Bau kain basah, darah, dan oli di ruangan bercampur menjadi aroma yang pernah menempel di bengkel bertahun-tahun lalu.
Suara napas Alee menjauh. Dengung bohlam berubah menjadi suara mesin motor yang belum selesai dirakit. Dinding gudang di belakangnya luruh, digantikan pintu bengkel berkarat dan udara dingin Bogor yang dipenuhi asap rokok.
***
20 Maret 2013
Aban merasakan dinginnya malam Bogor, asap rokok mengepul di udara. Ia berdiri di balik pintu bengkelnya, mendengarkan celotehan Aurell, gadis yang secara tak sengaja datang karena motor mogok setahun yang lalu, dan yang kini tahu tentang bisnis narkobanya.
"Geng motor? Lo gila Rell?" sentak Aban, tak percaya dengan ide Aurell.
"Dengerin gue dulu," balas Aurell. "Lo ada di wilayah salah satu gengster kuat di Bogor. Di Jakarta ada Wild Liar yang mulai ekspansi ke Tangsel, ke wilayah rumah gue, Ban. Sedangkan di Tangsel sendiri, Black Ribal, geng baru lahir di pasar Serpong."
"Iya, terus apa masalahnya? Lo mau bikin saingan sama mereka?" debat Aban.
"Saingan? Justru lo harus merapat ke salah satu dari mereka. Lo pikir bengkel kecil ini bisa nutupin bisnis kotor lo?" balas Aurell.
"Kita harus bangun kekuatan supaya bisa join sama mereka. Geng motor salah satu pilihannya."
Aban terdiam. Ia melihat realitas. Bengkel itu memang hanya kedok. Aurell benar. Aban memandang tembok berminyak, pintu karatan, motor setengah jadi. Kedok itu terasa semakin tipis.
***
Desember 2015
Dua tahun telah berlalu. Red Viper kini cukup kuat di Depok. Aban dan Aurell duduk di atas tumpukan ban bekas, debu jalanan menempel di rambut mereka.
"Jadi kita akan merapat ke Black Ribal?" tanya Aban, setelah mendengar pendapat final Aurell.
"Iya. Dalam dua tahun, ekspansi mereka cepat banget. Bahkan mereka bisa nantangin Wild Liar yang udah berdiri lebih lama," jawab Aurell.