Sunyi pagi menyelimuti rumah aman yang terasa pengap. Cahaya redup laptop darurat memantul di sudut ruangan. Chacha terlelap, kepalanya jatuh di atas papan ketik. Suara ketukan keras bergema dari pintu depan.
Chacha mengangkat kepala, ia menyambar pisau lipat kecil milik Alee yang tergeletak di meja, bilahnya berkilat tajam di cahaya pagi. Chacha merangkak ke monitor komunikasi. Jemarinya gemetar saat menyentuh layar.
"Pak Rudi, ada ketukan di pintu," bisik Chacha, suaranya nyaris tak terdengar.
"Tenang, Cha. Itu tim bantuan. Saya kirim tiga orang dari unit terpercaya. Mereka sudah tiba di lokasi," suara pak Rudi terdengar dari ujung sambungan. "Kode mereka Jagawana."
Chacha menarik napas dalam-dalam, menekan pisau lipat itu ke telapak tangannya. Ia merangkak perlahan mendekati pintu, punggungnya menempel di dinding.
"Siapa?" Suara Chacha terdengar tegas, kakinya gemetar.
"Jagawana," jawab suara dari luar.
Bahi Chacha sedikit mengendur. Ia membuka kunci pintu satu per satu. Pintu terbuka, tiga sosok tegap berpakaian kasual masuk dengan cepat. Salah satunya seorang pria paruh baya memiliki bekas luka di pelipis.
"Kami datang untuk mengamankan perimeter," ucap pria paruh baya itu. "Siapa pun yang tau tempat ini, sekarang tau. Kami pasang mata, telinga, dan jebakan."
Chacha mengangguk, lalu berbalik ke saluran komunikasi. "Pak Rudi, bantuan Jagawana sudah masuk. Tiga orang, sudah konfirmasi."
"Bagus, Cha. Sekarang fokus ke pekerjaanmu. Mereka akan jadi bayanganmu."
Chacha mematikan komunikasi. Ia tetap berdiri dekat dinding. Lali ini, tiga bayangan lain yang ikut berdiri bersamanya.
***
Cahaya matahari sore masuk melalui celah tirai. Ilham baru selesai membuat kopi, uap panas naik ke wajahnya. Ia berbalik dari meja pantry, cangkir kopi panas di tangannya. Matanya tertuju ke amplop cokelat besar yang terselip di bawah pintu. Ia meraih amplop itu dan membukanya. Foto Aura terikat di kursi kayu, matanya ditutup kain hitam.
Cangkir kopi Ilham jatuh ke lantai. Pecahan keramik dan kopi hitam panas memercik ke kakinya, asapnya mengepul, matanya masih terkunci ke foto Aura.
Ponsel di dalam amplop bergetar. Ilham menatap sebentar ponsel itu, lalu menekan tombol hijau.
"Tanganmu lemah, Ilham. Apa kamu takut melihat istrimu sampe kopi itu jatuh?" sapa mang Wawan sambil melihat Ilham dari dalam mobil di depan pintu menggunakan teropong.
"Dia bukan istri saya, dan Anda tahu itu," balas Ilham, suaranya tercekat.
"Tentu saja saya tahu. Tapi dia wanita yang kau cintai. Kau gagal melindungi Gilang, dan kau gagal melindungi gadis kecil itu. Sekarang, tugasmu sangat sederhana," kata Mang Wawan. "Saya butuh update."
"Saya udah bilang, Mang, saya nggak dapat update apa-apa dari Tim Hantu setelah mereka nyerbu markas Hydra." Jawab Ilham frustasi.
"Anak buahku sudah berulang kali lapor. Hanya ada empat mayat di sana, padahal ada tujuh orang yang menyerbu," desis Mang Wawan. "Tiga orang hilang. Mereka pasti punya markas cadangan."
Ilham menggeleng, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Mereka bergerak sendiri-sendiri. Nggak ada markas."
Mang Wawan tersenyum. "Saya nggak mau tahu. Jika dalam satu jam saya nggak dapat lokasi pasti rumah cadangan itu, saya akan kirim jari Aura satu per satu. Kau akan melihatnya."
Ilham melihat foto Aura. Ia menghela napas, menutup matanya, dan mulai menggeledah ingatannya.
"Ada... ada satu lokasi," gumam Ilham. "Di Jakarta Selatan, Jagakarsa. Rumah aman, bukan markas besar. Saya nggak tahu siapa yang ada di sana."
Wajah Mang Wawan berseri-seri. "Bagus, Ilham. Kau menyelamatkan jari kekasihmu. Sekarang, kirim koordinat itu padaku."
Ilhan melihat kembali foto Aura yang terikat, wajahnya yang damai kini terenggut paksa menjadi alat pemerasan. Aura. Demi Aura.
Ia meletakkan ponsel ke atas meja, lalu berjalan ke jendela, menatap refleksi wajahnya di kaca tak lagi ia kenali.
Tiba-tiba, kenangan bersama Gilang menyentaknya.
"Kita harus jadi polisi yang berbeda, Ham. Polisi yang berani masuk ke sarang serigala."
"Tapi serigala itu terlalu besar, Lang."
"Kalau gitu, kita cari dulu sarang cadangannya, sebelum kita serbu markas utamanya."
"Rumah aman di Jagakarsa bukan markas untuk menyerbu. Mang Wawan, Champagne, mereka nggak pernah bergerak gegabah di siang hari. Mereka selalu bekerja di bawah penutup kegelapan." Ilham menoleh ke ponselnya di atas meja.
"Malam. Mereka pasti akan bergerak malam ini," gumam Ilham, tinjunya mengepal. "Gue nggak bisa bersihin nama gue, tapi gue bisa gue tangan ini dari darah Chacha."
Ilham berbalik, meraih kunci mobil. Ia berlari keluar rumah. Pintu dibanting di belakangnya, mobilnya melaju meninggalkan halaman.
Di dalam mobil yang terparkir beberapa rumah dari sana, Mang Wawan menurunkan teropongnya. Senyum di wajahnya menghilang.
"Dia bergerak," ucapnya melalui telepon. "Tahan dia. Jangan bunuh. Cukup bikin dia nggak sampai ke Jagakarsa sebelum tim kita masuk."
Ilham mengemudi sambil mencari nama Pak Rudi di daftar kontak. Jempolnya baru menyentuh tombol panggil ketika dua cahaya biru menyala dari tikungan depan.
Mobil patroli melintang di tengah jalan. Ilham menginjak rem. Ban mobilnya berderit di atas aspal basah.
Ilham menoleh ke belakang, satu mobil tanpa tanda kepolisian berhenti rapat di belakangnya. Empat pria berseragam keluar dari kedua kendaraan. Senjata mereka tetap berada di dalam sarung, tangan mereka tidak jauh dari pinggang.
Salah satu polisi mendekati jendela Ilham, mengetuk kaca. "Keluar dari kendaraan, Pak."
Ilham menurunkan kaca beberapa sentimeter. "Perintah siapa?"
"Pemeriksaan internal. Senjata dan alat komunikasi Bapak harus diserahkan."
"Nomer surat perintahnya?"
Pria itu tidak menjawab.