TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #112

111. PUTUS ASA

Ikatan tali Aban terlepas, meninggalkan bekas merah melingkar di pergelangan tangan Alee. Alee menatap jam di layar ponsel. Angkanya meloncat terlalu jauh. Ia menelan ludah.

Alee mengaktifkan kembali alat komunikasi terenkripsi yang Aban matikan saat menyergapnya. Layar ponsel menyala, puluhan notifikasi yang masuk dalam mode burst.

Alee membaca pesan. Sesaat, wajahnya datar, lalu matanya membelalak, pupilnya melebar hingga memenuhi irisnya yang pucat.

CHACHA. RUMAH AMAN DISERANG. KEBAKARAN.

Ia bangkit, kakinya gemetar, lututnya membentur kursi logam. Ia mengabaikan rasa sakit di perut dan rahangnya. "Sial!" teriak Alee. "Ban, lo harus lepasin gue! Mereka serang rumah aman! Chacha!"

Aban menghentikan gerakan membersihkan pisau kejut listriknya. Satu alisnya terangkat, ia menatap Alee. "Rumah aman? Lo yakin, Lee? Jangan gampang kemakan provokasi. Mungkin itu jebakan paman lo."

"Ini Pak Rudi! Gue nggak punya waktu buat debat sama lo!" Suara Alee pecah saat menyebut nama Chacha. mengambil pistol yang tergeletak di meja.

Alee bergerak menuju pintu, tetapi Aban lebih cepat. Aban menangkap bahunya, mencengkeramnya kuat-kuat.

"Lo mau ke mana? Nggak ada yang tahu lo ada di sini, Lee. Kalau lo muncul di sana, lo mati konyol, dan Chacha nggak akan terbalas," desis Aban. "Kalau lo mau balas, lo harus bunuh orang yang benar."

"Gue akan bunuh orang yang benar! Dan yang benar sekarang adalah Daeng! Atau Sanyo! Mereka berdua!" Alee mencoba berontak, tetapi tenaga Aban lebih besar.

"Lo mau balik pake motor curian lo itu?" ejek Aban. "Gue tahu jalan pintas dan cara bergerak yang nggak akan terdeteksi di Jakarta. Lo butuh gue."

Aban melepaskan Alee, berbalik ke sudut gudang yang gelap. Ia menarik dua terpal besar yang menutupi sepasang motor yang diparkir rapat.

Motor pertama adalah motor sport Aban yang sudah dimodifikasi total, berwarna hitam doff tanpa plat nomor. Motor kedua adalah motor berwarna biru kusam, tetapi terawat sempurna.

"Ambil motor itu," kata Aban, menunjuk ke arah motor biru.

Alee mengikuti arah jarinya.

Motor itu tidak mencolok. Catnya mulai kusam. Rangkanya bersih-terlalu terawat untuk motor yang lama tidak dipakai.

Alee belum juga mengalihkan pandangannya. "Kenapa yang ini?"

"Ini motor yang Aurell pake dulu," suara Aban turun satu nada. Tangannya tetap di jok motor.

Ia mengusap jok motor itu. "Gue simpen, gue rawat. Sampai sekarang, cuma gue dan Renggo yang pernah naik motor ini setelah dia. Kalau Renggo masih idup, seharusnya dia ngenalin motor ini."

Alee mengangguk. Tangannya ragu sebelum memutar gas.

"Gue yang mimpin jalan. Kita ngecek Jagakarsa, lalu kita cari Sanyo," perintah Aban. "Jangan ada emosi. Lo cuma robot yang menjalankan perintah."

Alee mengangguk, lalu menaiki motor biru Aurell.

Lihat selengkapnya