Pelabuhan Tanjung Priok masih diselimuti kabut tipis ketika Rizal keluar dari gudang pemeriksaan. Udara asin bercampur solar memenuhi paru-parunya. Lampu-lampu tinggi menerangi barisan kontainer yang tersusun seperti dinding kota.
Seorang pria berkemeja lapangan menunggunya di samping pickup double cabin hitam. Beberapa goresan terlihat di cat pintu kanan, bak belakangnya kosong, kaca-kacanya sudah dilapisi film gelap.
"Koneksi Pak Tequila bilang mobil ini paling aman," kata pria itu sambil menyerahkan kunci. "Dokumennya bersih. Nomor rangka nggak punya masalah. Kalau mau dianggap bagian dari bantuan-"
"Mobilnya gue bayar."
Pria itu menatap Rizal. "Harganya nggak kecil."
"Gue nggak nanya harganya kecil atau besar."
Rizal menerima secarik kertas berisi nomor rekening. Ia mengeluarkan ponsel lama dari dalam jaket, membuka satu rekening yang sudah tidak disentuh sejak nama Renggo dikubur.
Jempol Rizal bergerak sekali. Ponsel pria di depannya berbunyi beberapa detik kemudian. Ia melihat notifikasi yang masuk, lalu mengangkat wajahnya.
"Sudah masuk."
Rizal memasukkan ponselnya kembali ke saku. "Sekarang bantuannya."
Pria itu memberi isyarat ke arah gudang. Pintu besi terbuka perlahan. Dua pekerja mendorong troli berisi beberapa peti hitam tanpa tanda. Satu peti berisi radio terenkripsi dan perangkat pengacak sinyal. Peti lain menyimpan perlengkapan medis, rompi, amunisi, serta dua drone kecil yang masih terlipat di dalam pelindung busa. Semuanya dipindahkan ke bak pickup lalu ditutup terpal.
"Pak Tequila bilang sisanya bisa dikirim setelah lo kasih lokasi," ujar pria itu.
"Bilang ke Tequila akses pelabuhannya gue pakai. Utangnya nggak."
Pria itu tersenyum tipis. "Dia sudah bilang lo bakal ngomong begitu."
Rizal membuka pintu pengemudi. Bau kulit sintetis dan tembakau lama keluar dari kabin. Ia memasukkan kunci, menyalakan mesin, lalu memeriksa tangki bahan bakar.
Pickup bergerak meninggalkan pelabuhan saat matahari belum sepenuhnya muncul. Kontainer dan derek baja perlahan menghilang di kaca belakang. Peti-peti perlengkapan berguncang kecil di bawah terpal setiap ban menghantam sambungan jalan.
Rizal baru memasuki jalan tol ketika ponsel terenkripsinya bergetar di atas dashboard. Nama Pak Rudi muncul di layar.
Ia menekan tombol speaker. "Ada info apa, Pak?"
"Rumah aman Jagakarsa diserang."
Kaki Rizal terangkat dari pedal gas. Pickup melambat di lajur tengah. Sebuah truk membunyikan klakson panjang dari belakang.
"Ulangin."
"Jagawana sempat kirim sinyal darurat. Setelah itu komunikasi mati." Suara Pak Rudi tertahan. "Sekarang rumahnya terbakar."
Rizal kembali menginjak gas. Mesin pickup meraung saat berpindah ke lajur kanan.
"Chacha?"
"Belum ada informasi."
"Alee?"
"Nggak ada di Jagakarsa saat serangan."
Telapak tangan Rizal menghantam kemudi. Klakson mobil meraung panjang.
"Gilang nyuruh dia balik buat jagain Chacha!"
"Saya tahu."
"Terus dia pergi ke mana?"
"Komunikasinya sempat mati beberapa jam. Baru aktif lagi di sekitar Parung."
Rahang Rizal mengeras.
Di kaca depan, kendaraan mulai menumpuk. Lampu rem memenuhi jalan dengan garis merah panjang. Rizal membanting setir ke bahu jalan.
"Saya langsung ke Jagakarsa."
"Jangan."
"Jangan apanya?"
"Lokasi sudah dipenuhi pemadam, warga, dan polisi. Orang Champagne mungkin masih mengawasi dari luar." Pak Rudi berhenti sejenak. "Kedatangan kamu hanya memastikan ke mereka kalau Renggo selamat dari C-17."
"Syaa nggak peduli mereka tahu."
"Kamu harus peduli. Kamu baru bawa jalur Tequila masuk ke Jakarta. Kalau kamu ditangkap sekarang, semua yang kamu bawa dari Batam habis sebelum dipakai."
Pandangan Rizal bergerak ke kaca belakang. Terpal hitam menutupi peti senjata, radio, perlengkapan medis, dan semua bantuan yang beberapa jam lalu.