Hawa dingin pegunungan menyelimuti rumah yang tersembunyi jauh di balik hutan pinus. Jendela-jendela rumah itu ditutup rapat oleh tirai tebal, menyembunyikan cahaya kecil dari luar. Di salah satu ruangan, Sanyo duduk di kursi kayu yang usang. Ia mengenakan hoodie gelap, rokok terselip di antara bibirnya. Asap tipis mengepul, matanya menyisir setiap sudut ruangan.
Di lantai, terbungkus selimut tebal dan bersandar pada tumpukan bantal, luka memar di wajahnya tampak pucat di bawah remang lampu minyak.
Sanyo berjongkok di dekat tubuh yang terbungkus selimut. Baskom kecil berisi air dan kain kompres di samping lututnya. Ia mengangkat kain yang mulai hangat dari sisi wajah yang membengkak, membilasnya, lalu memerasnya kembali.
Sanyo mengoleskan salep tipis pada sudut bibir yang mengering. Tangannya bergerak hati-hati agar tidak membangunkannya.
Di dekat perapian terdapat pakaian kotor yang sudah dilipat ke dalam kantong plastik hitam. Sanyo mengambil kantong itu, memasukkan ke dasar lemari, lalu menutup pintunya.
Ia meraih ponsel lama di meja, mencabut kartu SIM-nya. Kartu kecil itu dipatahkan menjadi dua, dilemparkan ke perapian.
Tubuh di bawah selimut bergerak sedikit. Sanyo menoleh cepat. Kelopak matanya tetap tertutup.
"Tidur aja," gumam Sanyo. "Dunia di luar belum jadi lebih baik."
Suara mesin mobil terdengar dari kejauhan.
Sanyo berdiri, mengambil pistol dari atas meja, lalu bergerak menuju jendela. Ia menyingkap tirai sedikit, mobil hitam diam-diam memasuki halaman rumah. Ia kembali duduk, menyambut tamunya.
Pintu dibuka Ucup. Pria bertubuh besar dengan tato kelabang di lehernya, pemimpin Kelabang Hitam, kelompok yang dulu beroperasi di bawah naungan Cintya, Brandy Hydra Jakarta. Di belakangnya, tiga pria lain berbaris.
"Jauh amat Bos, nyuruh kita main ke villa hantu," Ucup masuk tanpa menunggu dipersilakan. Ia menyapu ruangan, lalu menarik kursi di hadapan Sanyo.
"Sejak kita sepakat waktu Cintya jatuh, lo nggak pernah sekalipun manggil Kelabang buat bergerak," lanjut Ucup. "Sekarang tiba-tiba ngajak ketemu di gunung. Berarti ada yang mau lo bakar."
"Bukan gue yang mulai apinya."
"Champagne?"
Sanyo tersenyum tipis. "Champagne cuma belum sadar rumahnya sudah penuh bensin."
Ucup menoleh ke tiga anak buahnya. Salah seorang dari mereka menutup pintu, dua lainnya tetap berdiri di dekat jendela.
"Oke," ujar Ucup. "Ini perintah pertama lo. Jangan bikin gue nyesel pernah setuju kerja sama."
Sanyo melempar flashdisk ke atas meja.
"Setelah lo lihat isinya, lo justru bakal nyesel kita nggak bergerak dari dulu."
"Isinya apa?" tanya Ucup, tangannya tidak bergerak.
"Isinya cara dia nyolong nama orang lain.
Cara dia nyeret Renggo masuk perang.
Cara dia bikin Kelabang dan Black Ribal mati barengan."
Ucup mengambil flashdisk itu, matanya menyipit. "Lo mau apa?"
Sanyo kembali menatap mereka, matanya menyipit. "Gue mau chaos. Gue mau lo serang rute distribusi Brandy baru itu di Muara Angke. Bikin dia pusing. Bikin Krugger nggak bisa tidur. Bikin mereka keluar dari sarangnya. Gue nggak peduli lo bunuh siapa. Gue mau mereka bangun besok tanpa tau siapa yang nyentuh mereka."
Ucup menoleh ke anak buahnya. Mereka mengangguk. Ucup berbalik ke Sanyo. "Kita cuma Kelabang, Bos. Kami nggak bisa perang besar."
Sanyo menyandarkan tubuhnya ke dinding, senyum tipis. "Lo nggak perlu perang besar. Lo cuma perlu jadi kutu di selimut sutra Champgane. Cuma kutu yang bisa membuat Jenderal bintang satu itu terbangun di tengah malam."
Ia menoleh ke arah selimut tebal di lantai. "Kalau Hydra ambruk, lo bisa ambil lagi posisi Cyntia yang dulu direbut. Cintya udah ngasih lo makan bertahun-tahun. udah waktunya lo semua bayar utang itu."
Ucup melihat selimut tebal. "Siapa dia?"
"Korban. Salah satu yang paling penting." Sanyo kembali duduk di dekat perapian.
Ucup mengalihkan pandangannya dari selimut itu, kembali menatap Sanyo. "Hydra bukan musuh yang bisa lo ajak bercanda. Kalau ini gagal, lo mati. Gue mati. Seluruh Kelabang Hitam mati."
"Gue udah mati, Cup." Sanyo mengambil rokok baru, menyalakannya dengan pemantik emas. "Sejak gue tahu siapa Krugger. Sejak gue lihat apa yang dia lakuin." Matanya melirik keatas mengingat saat dia harus menembak Aurell, wanita yang dia kagumi.
"Sekarang, lo cuma punya dua pilihan. Ikut gue, ambil Hydra lagi yang rapuh, atau lo mau mati tanpa balas buat Cyntia."
"Oke. Kelabang Hitam ikut. Apa rencana lo?"
Sanyo menarik meja kecil ke tengah ruangan. Ia membuka peta Jakarta dan Bandung yang sudah dipenuhi garis, kode kendaraan, dan waktu pengiriman. "Kita nggak perang langsung," katanya. "Kita bikin mereka perang sendiri."
Ucup mendekat.