Suara kendaraan Kelabang perlahan menghilang di antara pepohonan. Rumah kembali sunyi, suara kayu terbakar dan angin yang menggesek jendela memenuhi ruangan.
Sanyo mengunci pintu, memasang palang kayu, lalu kembali ke ruangan utama. Ia berjongkok di dekat tubuh yang masih terbungkus selimut. Kain kompres di sisi wajahnya sudah jatuh ke bantal. Sanyo mengambilnya, membasahinya kembali, lalu menempelkan kain itu ke bagian yang membengkak.
Napasnya terdengar lebih berat daripada sebelumnya. Sanyo memasukkan tangannya ke bawah selimut, mencari pergelangan tangan. Dua jari ditempelkan di denyut nadi.
Sanyo duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. Pistol diletakkan dalam jangkauan tangan. "Gue baru aja nyuruh puluhan orang masuk perang," katanya pelan. "Dan gue bahkan nggak tahu lo bakal bangun atau nggak."
Tidak ada jawaban.
Sanyo menarik selimut sampai menutupi bagian bahu. "Jangan mati." Tangannya berhenti di atas selimut. "Lo satu-satunya yang bikin gue masih bisa percaya gue belum sepenuhnya jadi mereka."
Ia tetap duduk beberapa saat, mengawasi naik-turunnya selimut sebelum ponsel satelitnya bergetar.
Notifikasi dari panel logistik Hydra muncul di layar.
PERMINTAAN TRANSFER DARURAT
PENGAJU: BRANDY
KATEGORI: ASET SIPIL
PRIORITAS: MEDIS
TUJUAN: RUMAH AMAN U-12 MUARA ANGKE
PENGAWALAN: EMPAT PERSONEL
Sanyo membuka lampiran, nomor kendaraan muncul lebih dulu. Sedan abu-abu tanpa pelat depan, diikuti satu mobil pengawal. Rute bergerak dari pinggir Kali Ciliwung menuju kawasan utara Jakarta.
Di kolom kondisi tertulis PEREMPUAN HAMIL. TRAUMA TUMPUL. KONDISI TIDAK STABIL.
Sanyo menyipitkan mata. Ia membuka data aset, nama lengkap Sisilia Jane muncul pada bagian paling bawah.
Napas Sanyo berhenti sesaat. Asap rokok tertahan di paru-parunya. Ia teringat ring, sorak penonton, tubuh Riki yang ambruk, Richard yang berdiri di atasnya.
Sanyo membuka peta rute kendaraan. Titik bergerak melewati satu persimpangan besar.
Jempolnya melayang di atas layar.
Ia mengetik pesan.
Brandy memindahkan Sisilia. Rumah aman utara.
Sanyo menghapus kalimat itu.
Ia mengetik ulang tiga kata, menyertakan koordinat kendaraan.
Brandy. Sisilia. Now.
Pesan dikirim ke jalur terenkripsi Rizal.
Di gudang Red Viper, peta Menara Arunika terbuka di atas kap mobil tua. Foto gedung komersial tiga puluh dua lantai itu ditempel di sisi kiri. Di sampingnya denah parkiran basement, jalur lift servis, dan daftar perusahaan penyewa.
Rizal berdiri di ujung meja. Alee di seberangnya, Aban duduk di atas meja kerja, rokok yang belum dinyalakan di mulutnya.
"Lantai dua puluh delapan sampai tiga puluh satu dikuasai perusahaan cangkang Champagne," kata Rizal. "Server transaksi sama arsip fisiknya ada di sana."
Alee memeriksa daftar penyewa. "Gedung komersial. Ada kantor, restoran, sama orang sipil sampai malam."
"Kita masuk setelah jam kerja."
"Orang kantor nggak langsung hilang jam lima, Zal. Ada petugas kebersihan, keamanan, lembur."
Rizal menunjuk basement. "Kita nggak ledakin gedung. Kita masuk dari jalur servis, matiin jaringan, ambil server, keluar."
"Kalau Champagne nutup akses?"