TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #116

115. HANTAN MEREKA

Dinding rumah aman Muara Angke berlapis beton tebal. Di ruang bawah tanah yang dingin, suara jeritan Sisilia tertelan sebelum sempat mencapai volume, hanya tereduksi menjadi erangan berat yang bergema di ruang sempit. Lampu neon di langit-langit berkedip perlahan, memandikan ruangan dalam cahaya putih yang membuat segalanya tampak steril.

Sisilia terbaring di atas tikar tipis, kedua pergelangan tangannya diikat kuat di depan tubuhnya. Tali plastik menekan kulit yang mulai memerah setiap kali ia mencoba menggerakkan tangan. Napasnya terpotong setiap kali rasa sakit datang dari perutnya yang membesar, menghantam, lalu pergi sebelum sempat benar-benar reda. Rahimnya berkontraksi, memaksa tubuhnya menegang tanpa sempat berteriak.

Richard berdiri di depannya, tertawa kecil. "Kamu tahu, Sisilia, ini bukan tentang membunuhmu atau bayimu," kata Richard, mendekat. Ujung sepatu kulitnya menyentuh paha Sisilia. "Ini tentang gimana aku bisa bikin Riki melihatmu menderita."

Sisilia menggigit bibir bawahnya, rasa logam memenuhi lidahnya. Ia menahan rintihan, napasnya tersangkut di dada. Tangannya yang terikat menegang.

Richard mengeluarkan ponselnya, lalu mengarahkan kamera kepada Sisilia.

Sisilia memalingkan wajah. Richard meraih dagunya, memaksanya kembali menghadap kamera.

"Jangan malu. Riki harus lihat muka kamu, sayang."

Kilatan kamera menyala. Sisilia mengangkat kedua tangan yang terikat, mencoba menutupi perutnya. Richard mundur setengah langkah, mencari sudut yang bisa menangkap wajah pucat, bibir pecah, dan tubuh yang meringkuk di atas tikar.

Kontraksi kembali menghantam. Tubuh Sisilia menegang. Napasnya terpotong di tengah dada. Erangan pendek lolos dari sela giginya.

Richard menekan tombol rekam. "Bagus," bisiknya. "Jangan ditahan."

Sisilia menatapnya dengan mata berair. "Tolong..."

"Bukan aku yang harus kamu panggil." Richard mendekatkan kamera pada wajahnya. "Panggil Riki."

Sisilia mengatupkan bibir. Ia menolak mengeluarkan suara, seluruh tubuhnya bergetar.

Richard menghentikan rekaman. Ia membuka nomor Riki, melampirkan foto dan video yang baru diambil, lalu mengetik satu kalimat.

Masih hidup. Belum tentu lama.

Pesan terkirim.

Richard memperlihatkan layar itu ke Sisilia. "Sekarang kita lihat seberapa cepat dia datang."

"Dia bahkan nggak bisa berdiri," bisik Sisilia.

Senyum Richard semakin lebar. "Kalau begitu, dia bakal merangkak."

Richard memasukkan ponsel ke saku. Ia berdiri, merapikan ujung kemejanya, lalu memandang bercak yang mulai membasahi tikar. "Jangan lahiran sebelum dia sampai. Aku mau dia nonton."

Sisilia memejamkan mata. Air mata mengalir panas dari sudutnya, membelah pipi yang sudah dingin. Perutnya mengeras, tubuhnya menegang. Kehangatan merembes di tikar di bawahnya. Ia menggigit bibir, menahan suara, satu tangannya masih terikat menekan perutnya sekuat yang ia bisa.

Richard meninggalkan Sisilia sendirian, pintu besi dibanting menutup. Sisilia memutar tubuhnya, merangkak perlahan. Tangannya yang terikat mencoba mencari sandaran.

Ia berbisik, memohon pada bayinya, "Bertahan, Nak. Bertahan."

Di gudang Red Viper, peta kawasan Muara Angke terbentang di atas kap mobil tua. Koordinat rumah aman Richard sudah ditandai lingkaran merah. Gudang distribusi, jalur kontainer, jalan keluar menuju pelabuhan, dan deretan bangunan kosong yang saling berhimpitan di sekitarnya.

Rizal berdiri paling dekat dengan peta. Ujung pisaunya mengikuti satu jalan sempit di sisi barat rumah aman. "Bangunan utama punya dua akses," katanya. "Pintu depan dijaga, pintu samping nyambung ke jalur bongkar muat. Ruang bawah tanah ada di sisi utara."

Alee berdiri di seberangnya, memeriksa foto bangunan dari layar laptop. "Listrik sama komunikasinya masuk lewat bangunan distribusi sebelah sini." Ia menunjuk satu kotak kecil di sebelah rumah aman. "Kalau gue putus dari pusatnya, mereka kehilangan kamera, lampu, sama radio internal."

"Berapa lama?"

"Kalau cuma matiin, dua menit. Kalau mau bikin mereka nggak bisa nyalain lagi, lima."

"Lakuin permanen."

Aban bersandar di meja kerja. Di belakangnya, empat anggota lama Red Viper memeriksa senjata dan mengganti pelat kendaraan. "Anak-anak gue tutup jalan dari arah pelabuhan," kata Aban. "Kalau orang Richard manggil bantuan, mereka nggak akan sampai ke rumah aman."

Rizal mengangguk. "Jangan masuk ke gedung. Tahan pengawal dan kendaraan keluar. Gue yang turun cari Sisilia."

"Riki?" tanya Aban.

Ponsel Rizal bergetar di atas peta.

Rizal mengangkat panggilan Noval, mengaktifkan pengeras suara. "Gimana, Nov?"

"Riki udah gue keluarin," jawab Noval. Suara mesin kendaraan terdengar keras di belakangnya. "Tapi kondisinya lebih parah dari yang gue kira. Jahitan di rusuknya kebuka lagi. Tangan kirinya hampir nggak bisa digerakin."

"Bawa dia ke tempat aman. Dia nggak ikut masuk."

Terdengar suara benturan dari seberang, diikuti makian Noval.

"Zal," panggil Riki. Napasnya berat, seolah setiap kata harus melewati paru-paru yang terluka.

"Lo denger gue?" tanya Rizal.

"Gue ikut."

"Berdiri aja lo masih dibantu."

"Gue ikut."

"Ini bukan ring, Ki. Lo masuk kondisi begitu, lo cuma bikin orang lain harus nyelametin lo."

Beberapa detik tidak ada jawaban.

"Yang di bawah sana Sisili!" Napas Riki tersendat, ia terbatuk "Sama anak gue."

Rizal memejamkan mata sesaat. "Lo nggak masuk pertama."

"Zal-"

"Dengerin gue." Suara Rizal mengeras. "Gue buka jalur. Alee matiin listrik. Aban potong bantuan mereka. Lo baru turun setelah gue pastiin jalan ke Sisilia bersih."

"Kalau lo kelamaan-"

"Kalau lo maksa maju duluan, gue suruh Noval bius lo."

Riki terdiam.

Lihat selengkapnya