Suara debur ombak dan dentuman musik house yang sensual menyelimuti ruang VVIP, kontras dengan hawa dingin bisnis di dalamnya. Daeng dan Pisco duduk di sofa beludru merah.
Ponsel satelit di atas meja bergetar. Pisco melirik layar tanpa langsung mengambilnya. Notifikasi kedua menyusul beberapa detik kemudian. Ia meraih ponsel itu, membuka laporan singkat dari jaringan pemantau Hydra.
PERGERAKAN TERDETEKSI
RENGGO DAN SISA TIM HANTU
ARAH: MUARA ANGKE
TARGET DIDUGA: BRANDY
Laporan lain di bawahnya. Beberapa kendaraan tanpa identitas bergerak dari selatan Jakarta menuju kawasan pelabuhan. Salah satunya pickup double cabin hitam yang belum tercatat dalam jaringan Hydra.
Pisco menggeser layar, membaca nama Sisilia dalam lampiran aset Richard. Sudut bibirnya terangkat. Ia mematikan layar, meletakkan kembali ponsel di atas meja, lalu mengambil gelas sampanyenya.
"Mereka gerak cepat, Anak baru itu Bodoh," kata Pisco, menyesap sampanye. Matanya menyipit. "Renggo udah tahu tentang Sisilia. Dia pake sumber daya Hydra cuma buat memuaskan dendam karena perselingkuhan. Dia lemah."
Daeng menuangkan wiski, lalu meminumnya dalam satu tegukan. "Biarin anjing-anjing itu saling cabik, Pisco," kata Daeng, meletakkan gelasnya. "Renggo nyerang Richard, itu bagus. Tapi ini bukan tentang Renggo. Ini tentang Champagne."
Daeng mengeluarkan foto tua dari dompetnya. Foto seorang pria yang mengenakan jaket kulit, wajahnya terlihat sangat mirip dengan Alee, garis kekuasaan dan kekejaman yang lebih tegas di rahangnya. "Dia ngambil semuanya. Identitas Krugger, dan darah dagingnya."
Ia melipat foto itu mengikuti garis lama yang sudah memutih. Jemarinya tertahan di wajah pria dalam foto sebelum memasukkannya kembali ke dompet. "Gue nggak akan biarin dia mati dua kali."
Pisco mengangkat alis.
"Sekali sebagai manusia. Sekali lagi sebagai nama." Daeng memasukkan dompet ke balik jaketnya.
"Pisco, hubungi anak buahmu. Kita nggak menyerang Richard. Kita nyerang sarang Champagne yang kosong. Kita akan buktikan siapa Krugger yang asli, dan kita akan bikin dia bayar harga kepalsuannya."
***
Rizal mengemudi dengan kecepatan berbahaya. Di kursi belakang, Riki terbaring. Wajahnya dibalut perban dan memar, rahangnya mengeras setiap kali mobil menghantam lubang. Ia menolak jarum bius yang ditawarkan sejak tadi. Setiap benturan membuat tubuhnya tersentak, dan setiap kali itu pula matanya tetap terbuka, menolak pingsan.
"Lo janji, Zal," bisik Riki, suaranya serak. Matanya menatap bayangan Rizal di kaca spion. "Gue yang bunuh dia."
"Lo masuk. Lo nggak mati," jawab Rizal datar. "Sisilia dan anak lo adalah prioritas. Jangan jadi martir, Riki."
Ponsel terenkripsi Rizal bergetar di tempat penyimpanan dashboard. Pesan baru masuk dari nomor yang sama.
JALUR BARAT.
KAIN PUTIH.
DELAPAN MENIT.
"Sanyo ngasih jalur masuk," teriak Rizal ke Alee di samping mobilnya.
"Atau ngarahin kita ke tengah pembantaian," suara Alee teredam dari balik helm.
"Makanya lo jangan pakai jalur yang dia kasih sebelum lo periksa sendiri."
"Lo masih percaya sama dia?"
"Gue nggak percaya siapa-siapa." Rizal menyimpan kembali ponselnya. "Tapi gue akan pakai semua informasi yang bisa bawa kita ke Sisilia."
Riki membuka matanya lebih lebar. "Delapan menit?"
Rizal menekan pedal gas. "Sekarang tinggal enam."
Mereka tiba di pinggiran kawasan kontainer Muara Angke. Api terlihat dari kejauhan. Satu truk terbakar di depan gudang distribusi Richard. Rentetan tembakan terdengar dari sisi timur, memancing sebagian anak buah Richard menjauh dari rumah aman.
Alee menghentikan motornya beberapa meter di belakang pickup Rizal. Aban dan belasan anggota Red Viper menyebar di antara tumpukan kontainer.
"Kelabang Hitam," Alee melihat ke arah derek pelabuhan. Selembar kain putih terikat pada salah satu pilarnya, berkibar diterpa angin laut.
Rizal turun dari pickup dan menatap kain itu. "Jalur barat."
"Sanyo," gumam Alee. "Tapi dia-"
"Nanti." Rizal membuka pintu belakang pickup. "Sekarang fokus ke Richard dan Sisilia."
Riki berusaha turun sendiri. Kakinya kehilangan kekuatan ketika menyentuh tanah. Tangannya mencengkeram sisi pintu. Noval keluar dari sisi lain, mencoba menopangnya.
"Gue bisa jalan," desis Riki.
"Berdiri aja lo hampir nyium tanah," balas Noval.
Riki mendorong tangannya.
Rizal menatap Alee. "Putus listrik, kamera, sama komunikasi mereka. Cari jalur ke ruang bawah tanah."
Alee mengangguk. "Ban, amanin perimeter. Red Viper tahan bala bantuan dari arah pelabuhan dan bersihin penembak di atas kontainer."
Aban mengangkat senjatanya.
"Berapa lama?"
"Tiga puluh menit."
"Lo minta banyak."
"Gue tahu."
Aban tersenyum tipis. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya.
Red Viper menghilang ke dalam labirin kontainer tanpa suara. Beberapa bergerak ke posisi tinggi, sisanya menutup jalur kendaraan dari arah timur.
Alee berlari rendah menuju bangunan distribusi di sebelah rumah aman.
Kotak panel utama berada di balik pagar besi. Alee memotong gemboknya, membuka penutup panel, lalu menyambungkan alat kecil dari tas pinggangnya ke jalur listrik utama.
Lampu indikator alat berubah merah. Dengung mesin masih terdengar dari bagian belakang bangunan.
Alee meninggalkan panel, berlari mengitari bangunan, lalu menemukan mesin besar di dalam ruangan sempit. Ia membuka saluran bahan bakarnya, mencabut salah satu kabel pengaman, memasukkan potongan kain ke rumah kipas. Suara putaran mesin turun, lalu mati.
Alee kembali ke panel, menekan tombol di alat yang dipasangnya.
Jrengg!
Percikan listrik menyambar. Seluruh blok gudang Richard tenggelam dalam kegelapan.
Lampu rumah aman padam. Kamera pengawas berhenti bergerak. Teriakan terdengar dari dalam bangunan.