TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #118

117. RIKI VS RICHARD

Lima belas kilometer dari Muara Angke, di Pulau Pribadi di Kepulauan Seribu, Lantai helipad bersih. Angin laut tenang. Tidak ada suara tembakan. Bahkan burung camar terdengar terlalu dekat. Di atas helipad, Daeng sudah mengenakan jaket kulitnya. Di sampingnya Pisco memegang ponsel satelit.

Dua laporan masuk hampir bersamaan. Jalur distribusi Brandy di Muara Angke diserang. Uang taruhan dan buku bandar hilang, muatan narkoba ditinggalkan di dalam truk. Beberapa menit kemudian, gudang Jagermeister di Bandung dihantam kelompok yang menggunakan kendaraan dan perlengkapan polisi. Arsip transaksi dibawa keluar sebelum para penyerang menghilang.

Pisco membaca kedua laporan itu, lalu mendengus. "Dua kota sekaligus. Champagne bakal sibuk menuduh semua orang sebelum matahari terbit."

Laporan ketiga masuk dari jaringan pengamanan Hydra. Dua unit Cleaner dikirim menuju Muara Angke. Sebagian personel pengamanan arsip Jasinga ikut dipindahkan untuk memperkuat pasukan Richard dan menutup jalur keluar kawasan pelabuhan.

Pisco memperlihatkan layar itu kepada Daeng. "Cleaner utama udah masuk Muara Angke."

"Bagus."

"Dua regu pengamanan Jasinga ikut ditarik." Pisco memasukkan ponselnya ke saku. "Tapi jangan salah. Gudang itu nggak kosong."

Daeng berbalik menghadap Pisco. "Nggak perlu kosong."

"Berapa orang yang menurut lo masih di sana?"

"Cukup buat bunuh orang yang masuk tanpa rencana."

Pisco mendengus. "Kita masuk dengan pasukan kecil ke gudang arsip Hydra. Menurut definisi gue, itu masuk tanpa rencana."

"Rencananya sederhana." Daeng melangkah mendekati helikopter. "Masuk sebelum Champagne sadar semua kekacauan ini cuma ngebuka satu pintu."

Pisco tetap berdiri di tempatnya. "Lo belum bilang apa yang kita cari di Jasinga."

Daeng berhenti. Angin menggerakkan ujung jaketnya. "Bukan uang. Bukan senjata. Bukti siapa yang membangun tahta Champagne."

"Dan kalau barangnya udah dipindahin?"

"Berarti gue bunuh semua orang di sana sampai ada yang bilang dipindahin ke mana."

Pisco tersenyum tipis. "Itu baru terdengar seperti rencana."

Pilot menyalakan mesin helikopter. Baling-baling mulai berputar, mengusir udara dari atas helipad. Suaranya perlahan menelan debur ombak.

Pisco memberi isyarat kepada anak buahnya untuk naik.

"Kita nggak butuh Champagne," bisik Daeng. "Kita butuh tahtanya."

***

Rizal melompat ke belakang tumpukan forklift saat unit bersenjata itu masuk.

Pintu-pintu kendaraan terbuka hampir bersamaan. Belasan pria turun dengan senapan terangkat. Mereka membentuk tiga kelompok begitu sepatu menyentuh beton.

Pria paling depan memiliki tato ular di psingkat Dua jarinya bergerak singkat.

Satu kelompok menekan posisi Red Viper. Kelompok kedua bergerak memutar menuju tempat Alee terakhir terlihat. Kelompok ketiga menuju jalur timur yang dipakai Noval membawa Sisilia keluar.

Peluru pertama melintas sejajar dengan telinga Rizal. Ia merunduk, membalas dua tembakan, lalu berpindah ke belakang badan forklift.

"Cleaner!" teriak Aban dari balik kontainer. Darah mengalir dari goresan panjang di dahinya. "Champagne ngirim Cleaner!"

Rizal menekan alat komunikasinya. "Noval, posisi!"

Suara mesin dan napas berat terdengar dari seberang. "Enam ratus meter dari titik medis. Tapi ada dua kendaraan motong dari utara!"

"Jangan berhenti. Pak Rudi udah siap di ujung jalur."

"Kalau mereka nutup jalan?"

"Tabrak." Rizal memutus komunikasi.

"Alee!" teriak Rizal. "Sisi kanan! Mereka mau nutup jalur Noval!"

Cahaya senter pistol muncul sesaat di antara tumpukan kontainer. Satu tembakan. Lampu padam kembali.

Seorang Cleaner jatuh sambil memegang lututnya. Formasi di belakangnya bergeser menutup celah. Alee sudah berger ketika dua orang lain membalas tembakan.

Aban menembak dari sisi berlawanan. Dua peluru menghantam badan kontainer, memaksa pasukan Cleaner mengalihkan perhatian.

"Ban!" panggil Rizal. "Tahan jalur timur! Noval belum keluar!"

"Orang gue tinggal sembilan!"

"Bikin mereka terasa kayak sembilan puluh!"

Aban tertawa pendek. "Goblog, itu perintah yang gue kenal." Ia memberi isyarat kepada Red Viper. Tiga motor dijatuhkan melintang di antara dua kontainer. Anggota yang tersisa menyebar di balik badan kendaraan dan tumpukan palet.

Pria bertato ular mengangkat kepalan tangan. Formasi Cleaner berhenti menembak bersamaan.

Dua granat kejut dilemparkan ke arah Red Viper.

"TIARAP!" teriak Aban.

Ledakan putih menghantam lorong kontainer. Suaranya menusuk telinga. Dua anggota Red Viper kehilangan keseimbangan dan jatuh. Cleaner maju.

Rizal keluar dari perlindungan, menembak tiga kali, memutus gerakan mereka. Satu peluru mengenai bahu seorang penyerang, dua orang lain tetap bergerak melewatinya, mereka terus menuju jalur Noval.

"Lee, kepala formasinya!" teriak Rizal.

"Gue lihat."

Pria bertato ular kembali mengangkat dua jarinya.

Senter Alee menyala dari sisi kanan. Pemimpin Cleaner berbalik, melepaskan tembakan ke arah cahaya.

Alee melemparkan senternya ke lantai. Peluru-peluru menghantam kontainer kosong.

Aban muncul dari sisi kiri, menembak kaki pria itu. Peluru menghantam pahanya. Tubuhnya turun sebelah, ia masih mencoba mengangkat senapan.

Rizal keluar dari balik forklift. Tatapan mereka bertemu. Pemimpin Cleaner memindahkan laras senjatanya ke arah Rizal.

Dor!

Peluru Rizal menembus dada pria itu. Tubuhnya terhuyung, membentur kap kendaraan taktis, lalu jatuh telentang di atas beton.

Formasi Cleaner kehilangan pusatnya.

Beberapa orang tetap menembak, gerak mereka tidak lagi serempak. Dua mundur mencari perlindungan. Satu kelompok salah membaca arah dan bertabrakan dengan tim yang bergerak ke timur.

"SEKARANG!" teriak Aban.

Red Viper membalas dari tiga sisi.

Alee muncul dari bayangan, menjatuhkan satu Cleaner yang mencoba mengambil alih komando. Tendangannya menghantam lutut, disusul gagang pistol ke belakang kepala.

Radio Rizal berbunyi.

"Zal!" Suara Noval masuk bersama deru mesin. "Gue lihat kendaraan Pak Rudi!"

Lihat selengkapnya