TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #119

118. ARSIP DAN JANJI

Saat sisa tembakan masih menggema di Muara Angke, helikopter Pisco melintas rendah di atas perkebunan tebu Jasinga. Lampu navigasinya berkedip merah, sesekali menyapu hamparan tanaman yang bergoyang diterpa angin sebelum fajar.

Daeng duduk menghadap jendela. Jaket kulit tua yang ia kenakan lebih dari dua puluh tahun lalu melekat di tubuhnya, ketika tempat yang mereka tuju belum menjadi milik Champagne.

Di seberangnya, Pisco memeriksa koordinat melalui tablet. Panggilan masuk dari Unit Barong.

Pisco memasang perangkat komunikasi ke telinganya. "Lapor."

"Perimeter luar dikuasai," jawab suara dari seberang. "Dua penjaga dilumpuhkan. Kamera dan jalur komunikasi utama sudah mati."

"Korban?"

"Satu anggota kena tembak di lengan. Masih bisa bergerak."

"Yang lain?"

"Ada satu kendaraan pengamanan lolos lewat jalur selatan."

Pisco menatap Daeng. "Mereka sempat kirim orang keluar."

"Berapa lama sebelum Champagne tahu?" tanya Daeng.

"Kalau kendaraan itu langsung kirim laporan, kurang dari lima belas menit."

Daeng mengalihkan pandangan kembali ke jendela. "Cukup."

Pisco memutus komunikasi.

"Cleaner memang ditarik ke Muara Angke, tapi Champagne nggak ninggalin Jasinga tanpa gigi."

"Dulu gue yang masang giginya."

Pisco menyeringai. "Makanya gue berharap lo tahu cara mencabutnya."

Helikopter mulai menurun.

Di bawah mereka, bangunan tua nyaris tertutup ilalang dan pepohonan liar. Dinding bata eksposnya ditumbuhi lumut. Dua kendaraan Unit Barong disembunyikan di balik bangunan penyimpanan pupuk.

Helikopter menyentuh tanah. Debu dan daun kering berputar di bawah baling-baling. Daeng turun lebih dulu, udara dingin Jasinga menyentuh wajahnya. Sepatu botnya menginjak tanah lembap yang pernah ia pijak hampir setiap malam di masa lalu.

Empat anggota inti Unit Barong menunggu di dekat pintu gudang. Salah seorang dari mereka menekan luka tembak di lengannya menggunakan kain hitam.

"Jalur masuk aman," lapor pemimpin mereka. "Empat penjaga di dalam sudah dilumpuhkan. Masih mungkin ada orang di bagian arsip bawah."

"Barong tahan perimeter," perintah Pisco. "Empat orang ikut masuk."

Daeng mengangkat tangan. "Dua."

Pisco menoleh ke Daeng.

"Gudang ini nyimpen terlalu banyak nama. Gue nggak perlu semua orang lo tahu apa yang kita ambil."

Pisco memberi isyarat. Dua anggota Barong yang mengikuti mereka, sisanya menyebar mengamankan jalan masuk dan titik pendaratan.

Daeng berhenti di depan pintu baja.

Permukaannya sudah berkarat. Cat hitam yang dahulu menutupinya hampir seluruhnya terkelupas. Engsel dan rangka pintunya tetap utuh.

Pisco mengangkat senapan. "Diledakkan?"

"Jangan." Daeng berjongkok di samping kusen. Tangannya menyusuri bata yang menonjol di sisi kanan pintu. Ia menekannya dua kali, kemudian menarik salah satu bagian dinding palsu.

Tuas mekanik tersembunyi di dalamnya. Daeng menarik tuas itu.

Bunyi logam berat terdengar dari balik pintu, kunci bagian dalam terlepas.

Pisco menatap samping wajah Daeng "Lo tau tempat ini?"

"Gue yang nentuin letaknya." Daeng mendorong pintu.

Bau debu, kertas tua, oli mesin, dan bahan pengawet menyeruak keluar. Cahaya senter menyapu rak-rak baja yang menjulang hampir menyentuh langit-langit.

Ribuan kotak arsip tersusun berdasarkan kode, tahun, dan wilayah operasi. Sebagian label lama sudah diganti. Beberapa lambang yang dulu digunakan Krugger asli ditutup dengan stiker Hydra milik Champagne.

Daeng berhenti di depan salah satu rak.

Jemarinya mengikis stiker baru.

Di baliknya, simbol lama masih terukir pada permukaan besi.

Pisco memperhatikan. "Champagne cuma ganti nama."

"Dia nggak pernah ngerti tempat ini." Daeng berjalan tanpa membaca label. Ia melewati enam baris rak, berbelok di lorong ketiga, lalu berhenti di depan dinding belakang.

"Lo nggak cari petunjuk?" kata Pisco.

"Rak pertama buat operasi. Kedua buat uang. Ketiga buat orang-orang yang bisa dibeli." Daeng menunjuk lorong tempat mereka berdiri. "Bagian belakang buat hal yang bahkan Krugger nggak boleh percaya ke orang lain."

Ia menekan dua bagian dinding bersamaan. Pintu sempit terbuka dari balik rak.

Pisco tertawa kecil. "Champagne tinggal di rumah lo selama bertahun-tahun, tapi nggak pernah tahu semua kamarnya."

"Dia tahu." Daeng memasuki ruangan itu. "Dia cuma nggak punya kuncinya."

Di pintu ruangan dalam, segel plastik transparan dengan pita merah bergambar bintang satu masih terpasang. Daeng memandanginya beberapa detik.

"Dia berani pasang pangkatnya di pintu gue." Ia menarik segel itu dengan satu tangan.

Di tengah ruangan lemari baja dengan dua pintu berlapis besi cor. Rumah pengaman tebal melindungi gembok mekanik di bagian tengah.

Pisco memeriksa konstruksinya. "Bisa dibor."

"Bisa," jawab Daeng. "Tapi getarannya memicu tabung pembakar di dalam lemari. Isinya habis sebelum pintunya terbuka."

"Bahan peledak?"

"Hasilnya sama."

Pisco melirik Daeng. "Lo yang bikin?"

"Gue yang rancang. Abang gue yang milih apa yang disimpan."

Lihat selengkapnya