Di bawah cahaya lampu pijar yang redup, langkah Champagne terdengar kering di atas lantai marmer markas rahasia Hydra. Ia bergerak dari satu ujung ruangan ke ujung lain, melewati meja panjang yang dipenuhi layar, laporan tercetak, dan peta pergerakan seluruh kepala Hydra.
Jasnya masih terpasang rapi, kerahnya yang mulai basah oleh keringat.
Di salah satu layar, tiga laporan menyala bergantian.
MUARA ANGKE - JALUR BRANDY DISERANG.
BANDUNG - GUDANG JAGERMEISTER DITEMBUS.
JASINGA - KOMUNIKASI TERPUTUS.
Champagne berhenti di depan laporan Jasinga. Jemarinya mengencang di sekitar ponsel satelit.
Tuut... Tuut...
"Jey, angkat," desis Champagne.
Tidak ada jawaban. Ia memutus sambungan, lalu menelepon kembali.
Panggilan baru tersambung di dering keempat. Suara Mang Wawan terdengar berat dari seberang, bercampur bunyi orang berteriak dan benda-benda logam yang dipindahkan.
"Ada apa, Jenderal?" tanya Mang Wawan "Subuh-subuh begini telepon terus. Gudang gue baru diserang."
"Richard mati, Jey."
Suara di seberang menghilang. Suara napas Mang Wawan berubah.
"Apa?!" Sentak Mang Wawan
"Richard mati di Muara Angke."
"Keponakanku?"
"Renggo dan orang-orangnya masuk ke rumah aman. Richard tertinggal di kawasan pelabuhan."
"Bagaimana bisa?" Suara Mang Wawan meninggi. "Cleaner lo ada di sana!"
"Cleaner masuk terlambat."
"Berarti orang-orang kau gagal, Jendral!"
Champagne memejamkan mata sejenak. "Jangan mulai."
"Richard itu darah dagingku!" bentak Mang Wawan. "Aku kasih dia orang. Masih dia wilayah. Kasih dia kursi Brandy. Sekarang kau bilang dia mati karena Cleanermu masuk terlambat?"
"Bukan cuma Richard yang diserang." Champagne menyentuh layar di depannya. Laporan Bandung terbuka. "Gudangmu dibobol orang-orang yang pakai kendaraan dan perlengkapan polisi. Arsip transaksi dibawa. Uang tunai hilang."
"Aku tahu gudangku dibobol!"
"Nggak. Kau belum tahu siapa yang bobol."
Mang Wawan terdiam.
Champagne membuka laporan Muara Angke. "Di jalur Richard, mereka ambil uang taruhan dan daftar bandar. Narkoba ditinggal. Ada segel jalur Batam di lokasi."
"Tequila?"
"Mungkin."
"Atau Pisco," balas Mang Wawan. "Perlengkapan polisi bisa datang dari orangnya."
"Itu yang mereka mau kita pikirkan."
Champagne melanjutkan langkahnya. "Mereka nggak lagi mencoba menghancurkan bisnis kita. Mereka buat kita saling menunjuk."
"Terus Jasinga?"
Champagne berhenti. "Komunikasi dengan gudang arsip putus."
Keheningan berlangsung lebih lama.
"Siapa yang tahu tempat itu?" tanya Mang Wawan.
"Orang yang membangunnya."
"Daeng?"
Champagne tidak menjawab.
"Sudah kubilang, begitu identitasnya terbongkar dan kita tahu dia adik Krugger, bunuh dia," desis Mang Wawan. "Tapi kau tetap memaksa mempertahankannya!"
"Saat itu dia masih berguna."
"Berguna?"
"Dia bisa jadi Krugger bayangan." Champagne menatap layar Jasinga yang membeku. "Dia bergerak membawa nama itu, sementara saya nggak perlu turun langsung sebagai Krugger. Semua musuh mengejar bayangannya."
Mang Wawan tertawa pendek.
"Sekarang bayangan itu balik buat ngambil nama pemiliknya."
Rahang Champagne mengeras.
Champagne menarik napas panjang. "Fokus Jey. Unit Cleaner mulai mundur dari Muara Angke. Richard mati. Sisilia dibawa keluar. Black Ribal menghilang sebelum pasukan tambahan mengunci seluruh kawasan. Semuanya bergerak terlalu cepat."
"Kau jangan alihkan pembicaraan!"
"Dengar, Jey," kata Champagne. "Kita nggak punya waktu buat berkabung."
"Kau bisa ngomong begitu karena bukan keluargamu yang mati."
"Kalau kita kehilangan struktur Hydra, semua keluarga kita ikut mati."
Napas Mang Wawan masih terdengar berat. "Aku akan bunuh Renggo."
"Bukan sekarang."
"Jangan kasih perintah soal darah keponakanku."
"Prioritas kita Tim Hantu," potong Champagne. "Mereka sudah bergerak kembali. Alpha bangun atau belum, mereka tetap punya komando. Saya mau tahu target berikutnya."
"Terus?"
"Kau punya Aura."
Mang Wawan tertawa pendek. "Gadis itu?"
"Ilham sudah memberikan Jagakarsa untuk menyelamatkannya. Dia akan melakukannya lagi."
"Dan kalau dia tahu rumah itu dibakar?"
"Dia justru akan makin takut." Champagne berhenti di depan jendela besar yang seluruh tirainya tertutup. "Tekan Ilham. Gunakan Aura."
"Kalau gadis itu aku rusak terlalu cepat, Ilham nggak punya alasan buat nurut."
"Jangan bunuh."
Champagne menatap bayangannya sendiri di kaca gelap. "Patahkan secukupnya sampai Ilham percaya ancaman berikutnya."