Safehouse Tequila berada di lantai tinggi sebuah apartemen mewah di pusat Jakarta. Lift pribadinya terbuka langsung ke ruang tamu yang dilapisi kayu gelap dan kaca tebal. Tequila sudah tiba lebih dulu.
Rizal duduk di salah satu sofa. Bahu kanannya sudah dibalut ulang, lengannya masih bergerak kaku. Alee berdiri dekat jendela, menghadap pantulan dirinya sendiri di kaca gelap. Aban duduk di kursi makan, rokok terselip di antara dua jarinya.
Pintu lift terbuka. Gilang masuk menggunakan kursi roda, didorong seorang tenaga medis dari fasilitas Pak Rudi. Selang infus sudah dilepas sebelum perjalanan, perban tebal masih membungkus perut dan rusuknya.
Wajahnya pucat. Matanya cekung setelah terlalu lama terpejam. Tenaga medis membantu Gilang berpindah ke sofa. Gilang menahan napas ketika tubuhnya turun. Salah satu tangannya menekan perut, memastikan jahitannya tidak kembali tertarik.
Pandangannya bergerak dari satu wajah ke wajah lain.
Rizal. Alee. Aban. Tequila.
Gilang melihat ke arah lift yang sudah kembali tertutup. Lalu ke bagian belakang apartemen
Ia menghitung sekali lagi. "Chacha mana?"
Bunyi pendingin udara terdengar terlalu keras di dalam ruangan yang seluruh dindingnya dilapisi peredam.
Gilang memandang Rizal.
"Zal."
Rizal menarik napas dalam-dalam. "Kami nggak nemuin dia."
Alis Gilang mengerut. "Maksud lo?"
"Jagakarsa diserang. Tiga Jagawana mati. Rumahnya dibakar sampai runtuh."
"Chacha mana?"
Rizal menatap Alee sesaat, lalu kembali kepada Gilang. "Nggak ada jejak dia keluar dari sana."
"Jadi?"
Rahang Rizal mengeras. "Kami anggap dia nggak selamat."
Kedua tangan Gilang mencengkeram lututnya. "Anggap?"
"Api baru bisa mati setelah sebagian besar bangunan runtuh. Nggak ada tubuh yang bisa kami bawa pulang."
Tatapan Gilang berpindah kepada Alee. "Kenapa lo ada di sini?" tanya Gilang.
Alee membuka mulut.
"Lang-" Rizal mencoba menyela.
"Gue tanya dia."
Rizal terdiam.
Alee berdiri tegak di dekat jendela. "Gue ninggalin Jagakarsa."
Urat di leher Gilang menegang. "Apa?"
"Lo nyuruh gue balik buat jagain Chacha." Alee menelan ludah. "Gue balik. Tapi setelah itu gue pergi lagi."
"Ke mana?"
"Gue nemuin Sanyo."
"Kenapa?"
"Gue mau tahu posisi dia. Gue mau tahu dia masih kerja buat Champagne atau nggak."
Gilang perlahan bangkit dari sofa. Tenaga medis yang berdiri dekat lift bergerak maju. Gilang mengangkat satu tangan, melarangnya mendekat.
"Terus?" tanya Gilang.
"Setelah Sanyo, gue ke Aban. Gue mau tahu posisi Daeng."
"Jadi lo ninggalin adik gue sendirian karena Daeng?"
Alee tidak menjawab.
"Jawab!" suara Gilabv meninggi.
"Malam itu..." Alee mempertahankan tatapannya. "Iya."
Aban meletakkan rokoknya di atas meja. "Dia nggak langsung bisa balik setelah ketemu gue."
Gilang menoleh.
Aban berdiri menjaga jaraknya. "Gue yang setrum dia," lanjut Aban. "Gue yang ikat dia di gudang."
"Berapa lama?"
"Cukup lama sampai kabar Jagakarsa masuk."
"Kenapa?"
"Gue pikir dia datang sebagai orang Daeng." Aban menatap Gilang tanpa berkedip. "Dia bawa nama Daeng, ngomong soal Aurell, terus minta gue percaya sama orang yang baru gue kenal."
Gilang mengalihkan tatapan ke Alee. "Lo bilang ke dia soal Chacha?"
"Nggak."
"Kenapa?"
"Gue nggak tahu Jagakarsa akan diserang."
"Lo tahu gue nyuruh lo jaga Chacha!"
Gilang menerjang. Langkah pertamanya masih kuat. Langkah kedua kehilangan tenaga ketika jahitan di perutnya tertarik. Rizal menangkap tubuhnya sebelum ia mencapai Alee.
"Alee!" Suara Gilang meledak. "Gue minta lo jagain Chacha!" Ia mencoba melepaskan diri dari Rizal. "Gue percayain dia sama lo! Gue kasih keselamatan adek gue ke tangan lo!"
Alee tidak bergerak.
"Kenapa lo milih Daeng?!" bentak Gilang. "Kenapa jawaban soal keluarga lo lebih penting daripada nyawa adek gue?!"
"Gue salah."
"Jangan bilang lo salah!"
Darah tipis mulai merembes di sisi perban Gilang.
Rizal memperkuat cengkeramannya. "Duduk, Lang."
"Lepasin gue!"
"Jahitan lo kebuka!"
"Gue nggak peduli!"
"Gue peduli!"
Gilang menoleh tajam. "Lo peduli?" Suaranya pecah. "Lo bisa berlagak kayak abangnya. Tapi bukan. Dia bukan adek lo."
Rizal membeku. Tangannya masih menahan bahu Gilang, tekanan jemarinya berkurang.
"Dia adek gue," lanjut Gilang. "Gue yang ninggalin dia. Gue yang pergi setiap kali dia butuh gue. Terus waktu gue akhirnya percaya orang lain buat jagain dia-"
Suaranya berhenti. Napas Gilang berubah pendek. Wajahnya semakin pucat.
Rizal menuntunnya kembali ke sofa. "Gue tahu," katanya pelan. "Gue nggak akan pernah jadi abangnya."
Gilang duduk kembali ke sofa.
"Tapi Alee tetep salah," lanjut Rizal. "Dia ninggalin Jagakarsa. Dia tahu itu salah. Gue nggak akan nutupin itu."
Alee masih berdiri di tempat yang sama.
"Terus kenapa lo nahan gue?"
"Karena kalau lo buka semua jahitan lo sekarang, kita kehilangan Alpha lagi." Rizal menunduk agar sejajar dengan tatapan Gilang. "Dan Chacha tetap nggak balik."
Gilang memalingkan wajah.
Alee melangkah mendekat. "Gue nggak punya pembelaan."
"Gue nggak minta pembelaan lo."
"Gue tahu."
"Kalau Chacha mati karena keputusan lo-"
"Gue tahu."
Gilang kembali menatap Alee "Nggak. Lo nggak tahu."
Alee menunduk.
Aban menyandarkan tubuhnya ke meja. "Kalau lo mau masukin nama gue ke daftar orang yang bertanggung jawab, masukin nama gue. Gue yang bikin dia nggak bisa balik waktu kabarnya masuk."
Gilang memandang Aban beberapa detik.
"Lo nggak nyuruh dia ninggalin Jagakarsa."
"Nggak."
"Berarti keputusan pertamanya tetap keputusan dia." Gilang mengusap wajah menggunakan satu tangan. "Mayatnya?"
Tidak ada jawaban.
"Kalian udah nguburin dia?"
Rizal menggeleng. "Nggak ada tubuh yang bisa kami bawa pulang."
Gilang menatap lantai. Bibirnya bergerak, tidak ada suara yang keluar beberapa detik. Ia tidak memiliki makam untuk dikunjungi. Tidak ada jenazah yang bisa disentuh. Tidak ada tempat untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Gue akan bunuh siapa pun yang bertanggung jawab," bisik Gilang. "Siapa pun."
Rizal mengangguk.
Alee terdiam. Tatapannya tertahan ke wajah Gilang.
Tenaga medis mendekat, memeriksa perban Gilang.
"Lukanya cuma merembes," kata tenaga medis itu. "Tapi kalau Anda berdiri mendadak sekali lagi, kita kembali ke fasilitas."
Gilang menyingkirkan tangannya. "Keluar dulu."
Tenaga medis menatap Tequila. Tequila tidak memberi reaksi.
Orang itu bsrjalan menuju lift. Pintu logam tertutup, meninggalkan mereka berlima.
Gilang menunggu sampai bunyi lift menghilang. Tangannya masih mencengkeram ujung sofa. Ia menarik napas beberapa kali.
"Kasih tahu gue siapa lagi yang nggak pulang."
Rizal duduk di hadapannya. "Riki."
Tatapan Gilang berubah. "Sisilia?"
"Selamat. Bayinya juga masih bertahan. Mereka ada di fasilitas Pak Rudi."
"Richard?"
"Riki yang bunuh."
"Riki?"
Rizal menunduk. "Dia nggak keluar dari Muara Angke."
Alee menutup matanya sesaat. Aban menatap sepatu botnya.
Gilang menatap Rizal beberapa detik. "Lo lihat sendiri?"
"Gue yang nemuin dia."