Satu hari sebelum pertemuan kepala The Hydra
Pertemuan itu diatur melalui satu nomor lama yang hanya pernah dipakai Gilang untuk berbicara dengan Daeng. Gilang mengirim waktu dan lokasi. Daeng hanya membalas satu kata.
SENDIRI.
Gilang tiba lebih dulu. Penyangga elastis membungkus perutnya di balik kaus, menahan jahitan yang belum menyatu sempurna. Setiap kali mengubah posisi duduk, rasa panas menjalar dari perut menuju rusuk.
Di tengah hiruk pikuk Dago, Bandung, Aroma kopi modern berbaur dengan asap knalpot. Beberapa meter dari tempat duduk Gilang, Daeng melangkah mendekat.
"Lo minta gue ketemu di tempat seramai ini?" sapa Daeng, menyeringai.
"Gue lagi nggak mood untuk ngeliat darah hari ini," balas Gilang. "Jadi, apa ambisi lo kali ini? Lo bilang lo cuma mau bunuh Krugger. Kenapa lo harus khianatin Tim ini? Kenapa lo milih balik lagi ke dia?"
"Sejak kapan lo jadi naif, Gilang? Pengkhianatan itu hal yang biasa, Gilang." Daeng tertawa kecil. "Di tempat kita berdiri sekarang, saling gigit itu udah lumrah. dan ya, gue belajar dari jendral itu. gue mau bersihin sampah sebelum duduk kursi yang benar, tanpa harus ngotorin tangan."
Daeng merogoh saku celananya, menarik keluar sebungkus rokok lalu menyulutnya.
"Dan gue pengen Champagne yang udah bunuh abang gue, Krugger asli, main bunuh-bunuhan sama tim lo. Setelah itu gue akan ambil alih jaringannya. Dan kalo gue bisa dapet Hydra, itu bonus," lanjut Daeng menghembuskan asap tebal ke wajah Gilang.
"Pengkhianatan yang rapi," sindir Gilang maju sedikit. "Tapi sayangnya, tangan lo udah kotor atas darah Ajat."
"Ajat terlalu emosional, dan dia tau konsekuensi saat lo rekrut dia." potong Daeng datar. "Dan kalo aja dia saat itu dia dengerin omongan gue, bukan ngga mungkin dia akan beralih ke sisi gue."
"Ajat bukan orang seperti lo," ucap Gilang merendahkan. "Ajat nggak akan rekrut keponakannya sendiri buat nutupin jejak. Dan darah Ajat akan ngejar lo sampe lo masuk ke liang kubur."
Wajah Daeng mengeras sesaat. "Lo harus tahu, Gilang, lo nggak akan pernah menang dengan emosi. Semua orang di dunia ini punya harga. Termasuk kesetiaan."
Daeng mengetuk ujung abu rokoknya. "Loyalitas itu omong kosong, Gilang. Dengan uang dan kekuasaan, semua hal itu bisa dibeli."
"Betul," balas Gilang santai. "Karena lo nggak akan pernah dapetin orang yang percaya sama diri lo, pengkhianat nggak pantes bersanding bareng loyalitas."
Daeng menghela napas, "Lo keras kepala, Lang. Gue tanya satu hal ke lo. Apa yang akan lo dapet setelah ini?" Ia menjatuhkan rokoknya lalu menginjak dengan ujung sepatunya.
"Temen-temen lo mungkin akan balik lagi ke kehidupan mereka. Tapi, lo. Semua orang udah anggap lo mati, Lang. Dan si Rudi itu cuma perwira menengah, dia belum tentu bisa balikin identitas lo."
Daeng berbalik, meninggalkan Gilang yang masih duduk di kursi taman.
Gilang tidak menjawab. Pandangannya tertahan di punggung Daeng yang menjauh, terseret arus manusia Dago yang tak memperhatikannya.
"Hey!" seru Gilang, suaranya sedikit meninggi, "keponakan lo, Alee bersumpah demi Ajat. Dia nggak peduli ambisi lo atau warisan Krugger Asli. Kalo lo nggak mundur, dia akan jadi orang yang ambil kepala lo Dan dia nggak sabar buat itu."
Daeng berhenti melamvkah. Ia tidak menoleh, bahunya menegang. Ia berdiri diam sejenak, kebisingan kota memisahkan mereka. "Alee," bisik Daeng. "gue nggak akan lari. Sampai jumpa besok."
Daeng menghilang ke keramaian kota.
Gilang menunggu sampai punggung Daeng benar-benar hilang di antara pejalan kaki. Ia mengeluarkan ponsel sekali pakai dari saku jaket.
Satu pesan dikirim kepada Alee.
DAENG DATANG BESOK.
Pesan itu terkirim, lalu seluruh percakapan otomatis terhapus.
Gilang memasukkan kembali ponselnya. Tangannya mengepal sebentar, lalu mengendur ketika klakson dan suara motor menutup jarak di antara mereka.
***
Di sebuah villa tersembunyi di perbukitan Dago. Udara dipenuhi aroma pinus yang tajam. Rizal dan Alee berdiri di ruang tamu yang minim perabotan.
Sanyo duduk di sofa, punggungnya bersandar ke kursi.
"Gue disini cuma buat satu hal, Sanyo. Champagne. Gue mau dia mati. gue nggak peduli ambisi lo setelah itu. Gue cuma perlu tahu, apakah tujuan lo masih sama?" tanya Rizal memecah kesunyian.