TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #123

122. DAENG

Cahaya merah remang-remang menyusup ke ruang VVIP Red Moon, memantul pada permukaan meja bundar yang memenuhi bagian tengah ruangan.

Champagne duduk di kursi utama. Wajahnya tegang, jari telunjuknya mengetuk meja dengan irama pendek yang tidak teratur.

Pisco duduk di sisi kiri sambil memutar gelas wiski. Mang Wawan menempati sisi lainnya, kedua lengannya terlipat di depan dada. Sanyo duduk beberapa kursi dari mereka sebagai pemegang baru kursi Absinthe.

Satu kursi tetap kosong. Kursi Tequila.

Champagne melirik jam tangannya, lalu menatap pintu. "Tequila belum datang?"

Pisco menyesap minumannya. "Dia tahu jam pertemuannya."

"Dan dia tahu kehadiran semua kepala wajib," ujar Champagne.

Mang Wawan mencondongkan tubuhnya. "Atau dia sengaja nggak datang karena tahu apa yang akan dibahas."

Champagne mengalihkan pandangan kepada Mang Wawan.

Mang Wawan melemparkan beberapa foto ke atas meja. Foto pertama memperlihatkan truk distribusi Richard yang terbakar di Muara Angke. Foto kedua menunjukkan tumpukan narkoba yang sengaja ditinggalkan. foto terakhir, sebuah segel kontainer tergeletak di dekat pintu yang sudah dibobol.

"Segel jalur Batam," kata Mang Wawan. "Jalur Tequila."

Pisco meletakkan gelasnya. "Terlalu jelas."

"Apa maksudmu?"

"Kalau Tequila yang menyerang, dia nggak akan ninggalin namanya di lokasi seperti anak kecil nulis nama di tembok."

"Atau dia sengaja meninggalkannya," balas Mang Wawan, "karena merasa kita nggak bisa menyentuh dia."

Champagne meraih salah satu foto. "Uang taruhan dan buku bandar Richard hilang. Narkobanya tetap di tempat." Ia menjatuhkan foto itu kembali ke meja. "Ini bukan perampokan. Seseorang memotong struktur Brandy."

"Dan membunuh keponakanku," kata Mang Wawan. Kelopak matanya bergerak cepat. Suaranya keluar lebih berat dari biasanya. "Aku ingin tahu siapa yang bertanggung jawab atas kegagalan ini, Jenderal. Richard sudah aku latih menjadi Brandy. Dia mati karena kau gagal mengamankan asetmu di Muara Angke."

Pisco mendengus. "Dilatih?"

Mang Wawan menoleh tajam.

"Richard hanya menjadi Brandy karena darahmu," lanjut Pisco. "Bukan karena kemampuan. Dia memakai sumber daya Hydra buat kesenangan pribadi, menyiksa istrinya, dan membangun arena hanya untuk memuaskan egonya."

"Jaga mulutmu."

"Anak bodoh itu menarik terlalu banyak perhatian. Cepat atau lambat, dia memang akan mati."

Mang Wawan membanting gelasnya. "Setidaknya Richard loyal!"

"Loyal sama siapa? Hydra atau nafsunya sendiri?"

Champagne menghantam meja dengan kepalan tangan. "Cukup!"

Suara kaca di atas meja bergetar kecil.

Champagne membuka laporan lain di tablet, lalu memutarnya ke tengah meja. "Muara Angke bukan satu-satunya serangan."

Rekaman kamera gudang Bandung muncul di layar. Dua kendaraan dengan pelat polisi memasuki halaman. Orang-orang berseragam turun dalam formasi penindakan sebelum kamera mati.

Mang Wawan mengepalkan tangan. "Gudangku dihantam beberapa menit setelah Muara Angke."

"Uang tunai dan arsip transaksi diambil," kata Champagne. "Orang-orangnya menggunakan perlengkapan polisi."

Mang Wawan menatap Champagne. "Perlengkapan milik orang-orangmu."

"Gue nggak mengirim mereka."

"Lalu siapa yang bisa dapat kendaraan, rompi, dan radio polisi selengkap itu?"

Pandangan Champagne perlahan beralih ke Pisco.

Pisco tersenyum kecil. "Jangan lihat gue seperti itu."

"Dokumen perusahaan yang berhubungan dengan jaringanmu ditemukan di gudang," kata Champagne.

"Perusahaan cangkang yang sudah dipakai setengah Hydra."

"Dengan tanda tangan orangmu."

"Kalau gue mau mencuri arsip Jey, gue nggak akan meninggalkan dokumen yang mengarah ke diri gue sendiri."

Mang Wawan menunjuk Pisco. "Semua pengkhianat bilang begitu."

Pisco menggeser tangannya ke dekat jas. Dua pengawal di belakang Mang Wawan ikut menegakkan tubuh.

Champagne kembali memukul meja. "Duduk!"

Tidak ada yang benar-benar berdiri, seluruh tangan menjauh perlahan dari senjata masing-masing.

Champagne menggeser layar ke laporan ketiga.

Foto gudang arsip Jasinga muncul. Bangunannya masih utuh. Tidak ada pintu yang diledakkan atau dinding yang dijebol.

MASTER LOG TERBAKAR.

SATU ARSIP INTI HILANG.

AKSES MEKANIK INTERNAL DIGUNAKAN.

Ruangan menjadi lebih tenang.

"Jasinga dibuka dari dalam," kata Champagne.

Lihat selengkapnya