TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #124

123. FUCKING HYDRA

Tequila duduk bersandar di depan layar besar yang menampilkan feed CCTV Club Red Moon. Asap rokok dari cerutu Kuba memenuhi ruangan, berbaur dengan aroma whisky mahalnya yang ia sesap perlahan.

Feed yang memenuhi layar bukan berasal dari sistem utama Red Moon. Salah seorang teknisi keamanan sudah menggandakan jalurnya beberapa jam sebelum rapat dimulai, mengirim seluruh rekaman ke ruangan Tequila tanpa muncul dalam daftar perangkat aktif.

Ponsel di samping gelasnya bergetar.

Panggilan ketiga dari Champagne dalam lima belas menit. Tequila menatap nama itu beberapa detik, lalu membalik ponsel menghadap meja. "Sekarang kau baru mencariku."

Di layar, Red Moon terlihat tenang, pilar-pilar besarnya berdiri kokoh. Tequila tersenyum.

"Tikus-tikus yang ambisius," gumam Tequila pada dirinya sendiri, menyeringai.

Dari ketinggian lantai delapan, ia melihat gerakan Gilang dan Alee di seberang jalan, menyelinap di antara bayangan tiang listrik dan gerobak pedagang.

Di dalam ruang VIP, seluruh orang yang menghalangi jalannya sedang duduk mengelilingi meja yang sama.

Tequila mengangkat gelasnya sedikit.

"Saling makanlah."

***

Gilang dan Alee bergerak cepat dan tanpa suara. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan penutup wajah.

"Jagermeister nggak akan antisipasi ini," bisik Gilang, melirik Alee. "Dia cuma fokus ke Black Orchid."

Mereka bergerak melintasi atap gedung sebelah, melompat tanpa suara ke unit pendingin besar di atap Red Moon.

Gilang mendarat dengan satu lutut. Tarikan tajam menjalar dari perut menuju rusuknya. Telapak tangannya menekan permukaan unit pendingin sebelum tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Alee berhenti di depannya. "Lang?"

Gilang mengeluarkan alat suntik otomatis pemberian Tequila dari saku dalam jaket. Ia menekankan ujungnya ke paha, lalu menahan tombolnya.

Klik.

Cairan di dalam tabung menghilang perlahan. Beberapa detik kemudian, rasa sakit yang menusuk berubah menjadi tekanan tumpul di balik perban.

Gilang memasukkan alat suntik kosong kembali ke sakunya.

"Berapa lama efeknya?" tanya Alee.

"Cukup buat masuk."

"Gue nanya berapa lama."

Gilang berdiri perlahan. "Kita lihat nanti."

Alee menatapnya sesaat, lalu bergerak lebih dulu menuju ventilasi.

Mereka merangkak turun ke lorong staf yang gelap di lantai dua. Lorong itu berbau chlorine dan parfum murah.

Kedua kaki Gilang menyentuh lantai. Ia langsung berdiri, keseimbangan tubuhnya tertinggal sepersekian detik.

Alee menangkap lengannya.

Gilang melepaskan pegangan itu. "Obatnya bekerja."

"Itu bukan jawaban."

"Gue masih berdiri."

Alee berpindah setengah langkah ke depan, mengambil posisi pertama di lorong.

"Total sepuluh orang," bisik Gilang. Ia menghitung formasi yang telah mereka pelajari dari intel Tequila.

Alee mengangguk.

Mereka menuju ruang keamanan utama. Satu orang penjaga berdiri membelakangi mereka di depan pos CCTV. Alee bertindak sebagai pengalih. Dia menjatuhkan wrench kecil ke lantai lorong di sisi berlawanan. Saat penjaga itu teralihkan dan menoleh ke suara aneh itu, ia bahkan tak sempat berteriak saat belati Gilang menancap cepat tepat di pangkal leher, dan ditarik kembali. Tubuhnya merosot tanpa suara ke lantai marmer.

Lihat selengkapnya